Langsung ke konten utama

Istirahat

Manusia selalu tumbuh  dan berkembang secara labil dan fluktuatif. Seperti pergolakan ekonomi suatu teritori. Layaknya pergeseran lempeng dan kerak bumi. Hidup memang sebuah utas drama berkepanjangan. Aku tidak benci drama yang ada di televisi dan film-film. Hanya saja, terkadang sajian yang ada terlalu berlebihan dan kurang menyehatkan. Anehnya hal seperti itu banyak juga yang menikmati. Apalagi bila drama-drama berlebihan itu kejadian di dunia nyata dan menimpa salah seorang sial, yang lain bahagia melihat derita menerpa. 


Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Ya aku setuju dengan pendapat ini. Eitsss tunggu dulu! Bukan karena semata-mata pernikahan ialah perintah agama atau bertemunya dua keluarga. Yang membuat sebuah pernikahan suci di mataku ya karena bertemunya dua orang yang sudi bersedia berbagi kesepian sepanjang hayat. Semua orang bisa membeli cincin kawin, mahar, sewa gedung, bersolek anggun dan membayar mahal tukang foto pengabadi momen akad, tapi tidak semua orang sudi berbagi kesepian. Itulah kenapa sampai hari ini masih ada perceraian. Tak ada tokok yang menerima atau menjual kesepian dan hal ini hanya bisa dibagi pada mereka yang juga mau berbagi. 


Ya, banyak hal berkeliaran di kepala. Apasaja. Ada yang mengganggu, ada yang menyenangkan. Ada yang meramaikan sepi, ada yang menepikan keramaian. Tiap-tiap ingatan memiliki lapisan tersendiri. Ada yang seenaknya saja muncul ke permukaan mengusik kegembiraan, ada yang tanpa sebab bikin ketawa masam. 


Hidup kadang sesial seperti menunggangi sebuah kendaraan, apapun itu. Di tengah maupun di pinggir jalan, kitanya sudah hati-hati, eh orang lain yang nyeruduk hilang kendali. Mending tanggung jawab, ada saja yang tabrak lari atau malah menyalahkan orang lain tanpa memberi solusi. Tapi hal yang sama juga berlaku pada diri sendiri, kadang orang lain yang sudah teliti dan hati-hati, justru kitanya yang bikin ulah. Ya kuncinya adaah tanggung jawab. 


"Terus sekarang kamu sibuk ngapain aja setelah semua kejadian ini?"


"Entahlah, masih bingung aku. Akhir-akhir ini aku tidak bisa fokus mengerjakan banyaka hal seperti sebelumnya. Aku lebih banyak diam dan malas-malasan. Lebih suka menyendiri dan mencoba belajar memantaskan diri saja."


"Aku paham, instropeksi itu penting. Tapi... Kalau boleh tahu, kamu lagi memantaskan diri yang seperti apa dan untuk apa?" tanya lelaki yang duduk disampingnya.


"Ya untuk pasanganku mendatang lah, masa buat kamu si." 


"Hmmm... tapi menurutku, kamu tidak perlu sesibuk itu hanya untuk soal pantas atau tidak pantas."


"Kenapa emang?"


"Ya kalau memang dua orang ditakdirkan bertemu dan berjodoh, itu bukan soal pantas atau tidak. Lagipula apa ga terlalu cepat kamu mikirin pasangan lagi?"


"Jadi soal apa dong kalau memang bukan masalah pantas atau tidak? Ya mungkin iya terlalu cepat aku sudah mikirin pasangan lagi, tapi seenggaknya itu bisa ngeredam rasa sakit ini."


"Ya aku belum tahu pasti apa itu si, cuma yang jelas ini lebih dari masalah pantas atau tidak."


"Terus karena apa? Yang jelas dong." si perempuan dengan nada mengejar penasarannya.


"Aku belum tahu jawaban untuk itu. Sungguh. Tapi percaya deh, da hal yang lebih luar biasa yang akan membuat dua orang berjodoh itu untuk terus saling bersama."


Si perempuan tertawa kecil. Haha

Suasana hening sesaat.


"Aku salah orang untuk tanya soal ini kayaknya nih ya? Hehe"


"Mungkin saja. Tapi setidaknya aku pernah berada di posisimu, jadi aku sedikit tahu bagaimana rasanya."


"Ngga apa-apa sedikit juga, tak perlu banyak kok. Aku sudah cukup tenang karena ada yang bisa memahami keadaanku sekarang, aku ngga bisa bayangin waktu kejadian itu menimpa kamu, aku belum tahu bagaimana rasanya waktu itu. Aku ngga berharap dapat solusi brilian dari masalah ini, setidaknya aku tahu, masih ada orang yang tidak seenak jidatnya menanyai dan menghakimi orang lain."


"Kamu yakin ngga apa-apa?"


"Ngga mungkin lah. Ngaco kamu. Haha. Aku pasti kenapa-kenapa. Tapi sekarang sudah agak mendingan."


"Hahaha. Kali ini aku yang salah kasih pertanyaan."


Keduanya tertawa lepas. 


"Tapi bener deh, aku sudah mendingan. Kamu gausah khawatirin aku."


"Baguslah kalau gitu. Tapi... Siapa juga yang khawatir sama kamu. Ge-ER banget. Sudah ah. Yang penting kamu jangan ngrepotin banyak orang lagi ya." Si lelaki mencoba mengelak.


"Ohhhh.. jadi kamu selama ini ngerasa direpotin sama aku nih???" 


"Bukan gitu maksudku."


"Sudah ngaku saja lah. Biar nanti kalau aku galau bombay lagi, aku ga bakal hubungin kamu."


"Yakinnnn???? Ini kesekian kalinya loh kamu ngomong gitu ke aku."


Si perempuan terbahak.


"Ya abis, mau bunuh diri takut dosa. Kalau engga dosa mah udah aku cobain sekali mah."


"Ngawur kamu. Bunuh diri kok coba-coba. Lagian emang layak masalah ginian dibawah bunuh diri?"


"Ya kan makanya engga sampe nyobain. Nih aku masih hidup nih" sambil menyodorkan muka jelek yang dibuat-buat ke arah lelaki yang duduk disampingnya.


"Syukurlah. Masih bisa mikir gitu mah."


Suasana hening. Sebuah sepeda motor lewat di depan rumah, suaranya tidak cukup memecah keheningan itu. 


"Ngomongin coba-coba, mau nemenin aku nyobain kuliner di tempat baru sekitar gatsu engga?"


"Hmmm, mau engga ya???"


"Mau aja yokkk."


"Engga ah nanti ngrepotin kamu lagi."


"Kan sekarang aku yang ngajak. Mau aja ya?? Nanti malam jam 8 teng aku jemput."


"Baiklah kalau gitu. Untuk kasus ajakan ini, aku rela deh jadi cewe gampangan."


Keduanya tertawa lepas untuk kesekian kalinya. Hari menjelang malam, keduanya bertemu dalam perjumpaan lain yang sudah direncanakan. 

 "Akhir-akhir ini aku jadi sering mikir, bahwa cuma ada satu lingkar kecil didalam hidupku yang berhak membahas soal kapan aku akan menikah."


"Begitu ya."


"Ya, pertanyaan seperti itu lebih pantas ditanyakan oleh kedua orang tuaku sendiri, pikirku, meskipun diseumuranku hal ini tentu bisa saja mendadak menjadi sebuah badai dahsyat di dalam kepala."


"Itu kan sudut pandangmu. Masyarakat sosial kita kan hal lain lagi."


"Memang unik, hidup di tengah masyarakat yang terlalu perhatian dengan kehidupan orang lain. Kebanyakan menyerupai hakim tuhan yang hanya menilai dan memberi perhitungan tenimbang menenangkan."


"Ya itu karena beberapa dari orang-orang yang kamu maksud itu, baru bisa bahagia ketika melihat orang lain menderita. Itulah kenapa aku ngga bisa sepenuhnya setuju dengan pendapatmu."


"Iya kamu ngga perlu manggut-manggut terus sama opiniku yang bisa saja salah."


"Baiklah."


"Oya, belakangan, aku juga jadi sering lebih lama memperhatikan wajah-wajah orang yang melintas di depanku. Aku tidak bermaksud memperhatikan sebenarnya."


"Terus, apa ya g kamu lihat?"


"Banyak, terlampau banyak malah. Wajah-wajah kusut penuh dengan tagihan akhir bulan. Wajah-wajah yang mendamba liburan. Wajah-wajah yang kering kasih sayang. Ahhh banyak deh."


"Kamu kaya lagi bikin lirik lagu aja. Ahahah."


Suasana hening. Keduanya menikmati sajian di meja. Udang goreng, cumi bakar, kepiting balado, salad buah dan ikan bakar baramundi segar terpampang. Keramaian di warung seolah senyap seketika saat keduanya benar-benar menikmati seluruh hidangan yang masih panas. Tangan dan mulut keduanya sibuk sekali meladeni olaham hasil laut. Bahkan sekali duakali lalu lalang orang pun hanya terlihat sebagai pelengkap di pelataran terbuka warung makan di Gatsu itu.


"Kamu terlihat cantik banget malam ini." ucap si lelaki. Ia pikir kalimat itu hanya terdengar di dalam hatinya saja, tapi ternyata bibirnya telah lepas kontrol dan dengan suara yang mudah di dengar oleh sepasang daun telinga seorang gadis di sampingnya, bukan hanya telinganya, tetapi di tempat lain juga. Tempat yang dalam.


Si gadis melongo sejenak, berhenti mengunyah daging capit kepiting dan memberi tatapan serius ke muka si lelaki, disampingnya.



"Ah apaan si kamu nih. Kan tiap hari juga aku mah cantik gini." Dengan sok percaya diri si perempuan membalas, padahal pipinya tambah merah, untunglah malam hari jadi tak begitu nampak.


Suasana kembali hening. Keduanya kehilangan kata-kata, atau entah sedang memikirkam sesuatu, yang jelas tangan dan kedua mulut sepasang muda-mudi itu masih sibuk mengais daging udang besar. Hidangan itu yang terakhir yang tersisa di meja. 


"Makasih ya." ucap si perempuan seh benar-benar menandaskan makanan di tangannya.


"Buat??"


"Udah ngajak nyobain makanan enak ini."


"Kirain buat apa."


"Ya makasih kamu ngajakin aku nyobain bunuh diri." Ahahaha


"Ngawur."


"Oya, gimana tulisanmu? Sudah sampai mana?"


"Gatau ni sampai mana. Hehe. Lagi ga fokus. Dilanjutin berantakan, didiemin makin ga karuan. Isi kepalaku larinya lebih cepet dari jari-jariku. Jadi banyak yang belum ketulis sudah keburu ngilang duluan."


"Oh gitu ya. Semangat ya, kamu pasti bisa."


"Tenang aja. Semangat terus kok."


"Aku udah ga sabar si baca cerita lengkapnya gimana.. tapi kalo kamu lagi cape pikiran, ya istirahat dulu lah, ga harus semua selesai sekarang juga kan?"


"Tumben banget kamu cerdas gitu."


Keduanya tertawa bersamaan tanpa rencana.


"Efek makan seafoodkali ya."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Tamasya Kerja

Tulisan ini cuma sekelebat cerita yang saya dapat saat menjadi seorang kru acara  gathering  sebuah perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Waktu itu di akhir tanggal bulan November. Hujan lagi sering banget turun. Dapat tawaran dari seorang rekan yang biasa dipercaya menggarap acara. Rezeki dalam bentuk apapun tidak boleh ditolak, kan? Lumayan buat ongkos wisuda, hehe. Seminggu, lima kali piknik. Mungkin kalimat ini cocok menggambarkan suasana perasaan saya saat bekerja di acara seremoni ini. Selama seminggu itu juga, sedetik pun saya tidak pernah menggunakan jaringan telekomunikasi dengan dunia luar. Dari kawasan Kawah Wurung, tepatnya di rumah singgah Jampit. Di area ini bebas dari jaringan koneksi seluler manapun, yang mana biasanya selalu menghasilkan dering atau getar di telepon genggam di tengah malam hingga pagi hari sampai siang lagi, yang kadang cukup menggangu ketika datang di waktu yang tidak tepat. Tanpa ada kabar berita atau mengabari berita ke luar itu ra...