Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

Sang Penerjemah

I a penerjemah yang hebat. Lelaki yang menguasai setidaknya tujuh bahasa negara yang sulit untuk dipelajari bagi orang biasa . Angka tujuh mungkin masih bisa dihitung dengan jari. Tapi percayalah, pada kasus ini, kemahirannya dalam bahasa hirografis, ia telah membawa ratusan tamu dari berbagai belahan bumi yang menggunakan huruf-huruf pagar aneh tiap satu minggu tanpa banyak kendala . Beberapa diantaranya telah menjadi langgan tetap ketika kembali berkunjung ke nusantara . Kadang ia harus kerepotan dengan jadwal lain bersinggungan, maka tidak jarang, ia meminta bantuanku jika masalah ini terjadi. Begitu pula sebaliknya, begitu aku mendapatkan tamu dan membutuhkan bantuan, ialah orang pertama yang menjadi rekomendasiku. Tempat wisata di daerah kami cukup bagus, pantai dan bukit yang berisi penuh benteng kuno serta bangunan peninggalan kerajaan masa lampau yang dikelilingi pohon kelapa, ketapang hingga bakau yang rimbun. Tidak ada kendaraan bermotor sehingga menyebabkan udara ti...

Bangsa Ular

Kenapa kitab-kitab yang katanya suci itu selalu menggambarkan makhluk seperti kami sebagai penggoda dan perusak kehidupan. Bukankah yang merusak itu sebenarnya malah mereka yang melemparkan ujung jari telunjuknya ke arah muka bangsa kami. Mereka lah manusia, umat yang dianggap tersuci di dunia, oh maaf terkuat. Makhluk penakluk segala makhluk, pemakan apasaja. Bukankah yang saling menggoda itu diri mereka sendiri, itu yang jelas-jelas umat manusia lakukan ditanya ke hewan manapun juga, apalagi kalau sudah berhadapan dengan lawan jenisnya sendiri. Hanya karena bentuk kelamin kotor si pejantan mereka itu menyerupai bentuk tubuh bangsa kami kebanyakan, bangsa kami yang selalu dianggap buruk dan dianggap menjadi biang segala kekacauan di seluruh negri, hingga kami harus menerima perlakuan terpojok oleh semesta dan seluruh isinya. Lalu mengapa kekesalan itu dilemparkan ke bangsa ular dan mereka ingin terlihat selalu bersih. Mengapa kami selalu menjadi kambinghitam at...

Gerimis Desember

Pagi. Siang. Sore. Malam. Pagi lagi. Gerimis terus saja turun. Sudah beberapa hari ini. Bukannya bikin sejuk malah bikin gerah iya.   Rintik-rintiknya membuat perasaan tambah suntuk. Setiap sudut bagian ruangan terasa menjemukan. Hanya gambar-gambar organ tubuh yang tertampang hampir di semua punggung dinding yang keseluruhannya berwarna putih. Ditambah lagi bau obat-obatan yang tak pernah berhenti berhembus menyiksa dua lubang hidungku ini. Sekali-kali perawat datang membawakan sepaket kemasan saat jam makan datang. Atau kadang juga dokter yang singgah untuk melihat perkembangan detak jantung di layar monitor yang sama sekali tidak membuatku merasa terhibur. Keadaan bukan lagi hanya terasa hambar. Tapi juga kecut dan parau. Seharian ini tak ada sinar matahari. Sama sekali. Bila bukan redup, ya gelap yang ada. Semuanya. Dahulu, saat masih bocah ingusan, senang rasanya kala hujan tiba. Aku bisa bermain dengannya dengan sebebas-bebasnya. Juga dengan teman-temanku yang sebaya. Bah...

Mendaki Mahameru

“Ngopi sek jeh, ben ga goblok awakmu.” Nada suara seorang pemuda memprovokasi temannya, membelah pagi yang cukup hening. “Koen pisan jeh!” Si pemuda lainnya menimpali. Jarum jam di tangan menunjukan angka enam lebih tiga puluh menit. Setelah perjalanan kurang lebih satu jam, kami berhenti di sebuah warung tepat di trotoar jalan. Saya sudah menghabiskan sarapan sepiring nasi pecel dengan lauk telur balado, sedangkan empat orang lainnya sibuk dengan sendok mereka masing-masing. “Bu, teh hangat satu, ya?” pesan saya kepada seorang ibu pemilik warung. “Jeh, lek misal wong-wong iku digawe soko lemah, mosok iyo aku wingi tekok bapakku piye nggawe e, aku malah dikapruk ambe penjalin.” “Yo koen makane ngopi sek jeh, ben rodok cerdas sitik tha.” Dingin masih terasa menyelimuti kulit. Tidak berselang, jalanan ramai lalu lalang anak sekolah yang pergi ke tempat mereka belajar. Tidak lama kemudian pesanan saya datang. “Aku ya goblok, mas. Tapi ngeteh ae ki. Lapo ngopi?” “La ya ku...