Terik siang begitu terasa menyengat ubun-ubun kepala. Ratusan orang
berkumpul mengepung gedung balaikota sambil lantang berteriak menuntut hak dan
keadilan. Panas matahari terus membakar semangat mereka. Tiada henti. Petugas
berseragam coklat sibuk menenangkan orang-orang itu menggunakan semprotan air
yang diarahkan ke atas menggunakan selang sehingga ketika jatuh menyerupai
hujan, yang bersumber dari tangki mobil pemadam kebakaran. Beberapa orang
saling sikut dengan petugas. Mereka berebut masuk ke ruangan balaikota untuk
mendapat kesempatan menyampaikan keluh kesah yang mereka jalani sebagai tukang
ojek dan penyedia jasa angkutan umum terkait kebijakan pemerintah setempat.
Petugas tetap menghalang usaha mereka. Gerbang dibiarkan tertutup rapat,
dibarikade dengan kawat tajam. Sia-sia saja bagi orang-orang yang bermodalkan
kain terus diberi tulisan menggukan cat semprot ini. Semakin mencoba merangsak
masuk, semakin keras dihalang petugas. Suasana makin tak terkendali. Kericuhan
pun pecah tak terelakan.
Terik siang begitu terasa menyengat ubun-ubun kepala. Lima orang pemuda
berjalan menyusuri galengan sawah yang dipenuhi tumbuhan kecil musim kemarau.
Di punggungnya masing-masing menenteng tas berukuran besar. Tiga diantara
mereka menggunakan tas gunung. Angin utara laut jawa membelai perjalanan mereka
dengan sejuknya.
***
“Bong, jadi lewat Linggarjati apa mana nih?” tanya seorang pemuda yang
mengenakan bandana di kepalanya.
“Iya, biar cepat kita lewat situ aja. Kan target kita kan tulak, cuma sehari langsung balik lagi.”
jawab Abong pemuda paling berumur diantara kelimanya.
Setapak jalan di galengan sawah dipenuhi tumbuhan mirip tomat yang masih
berwarna hijau namun ukurannya lebih kecil. Ketika tersentuh bagian badan,
tumbuhan ini bisa menyebabkan raga gatal yang panas tak tertahankan. Kupu-kupu
berwarna kuning dan kecil pertanda musim hujan segera tiba berterbangan
beriringan memotong perjalanan para pemuda. Beberapa pohon turi berjejer di
pinggir parit yang mengering. Terdapat retakan tanah dan celah yang lebar di
punggung galengan. Ini menandakan musim kemarau tahun sekarang sungguh parah.
Abong, merupakan orang yang sudah sering bolak balik naik ke Ciremai.
Pengalaman mendaki gunung tertinggi di Jawa Barat ini sudah tidak diragukan
lagi. Di masa remajanya, ia sudah pernah sampai di puncak Ciremai beberapa
kali. Jadi, sebagai bahan pertimbangan, pemuda yang lain mengajak Abong sebagai
pemandu mereka. Hanya Abong yang sudah benar-benar mengenal trek Linggarjati
diantara kelimanya. Jadi untuk urusan guide,
keempatnya mempercayakannya kepada Abong.
“Reang kan sudah lama cah ngga ke
Ciremai, jadi pasti ya banyak berubah. Dan kontur treknya juga pasti beda
lagi.” terang Abong.
Tapi keempat pemuda lain sudah sepakat mengajak Abong dengan satu-satunya
alasan dialah yang paling berpengalaman dan mengenal jalur Ciremai.
Terik siang masih begitu terasa menyengat ubun-ubun kepala. Kelima pemuda
sampai di pinggir jalan raya provinsi setelah berjalan kaki membelah galengan
sawah. Mereka menunggu kendaraan umum berupa minibus elf yang akan mereka gunakan sebagai pengantar ke Cirebon.
Beruntung pohon trembesi tua berdiri tegak dan rimbun meneduhkan penantian
mereka. Kurang dari limabelas menit, mobil pun tiba dihadapan mereka.
Sekelompok pemuda ini terbagi menjadi dua bagian saat di dalam mobil. Satu
di bagian tengah dan satu lagi mendapat kursi duduk di bagian paling belakang. Sayang
sekali, mereka harus memangku tas ransel mereka yang terasa cukup berat (namun
tidak lebih berat dari kenangan masa lalu bersama mantan). Bagasi mobil
ternyata sudah dipenuhi oleh barang bawaan penumpang lain. Sampai Pasar Baru
Karangampel, perjalanan masih sesuai dengan rencana.
Beberapa hari sebelumnya, diberitakan televisi nasional bahwa telah terjadi
aksi pengeroyokan yang dilakukan oleh pengemudi ojek konvensional terhadap
pengemudi ojek online yang tidak lain sebabnya adalah karena kehadiran ojek
online telah mengurangi pendapatan. Hal ini menjadi sumbu kecemburuan sosial
yang terjadi di lingkungan penyedia jasa. Beberapa aksi terus berlangsung,
supir angkot dan pengusaha transportasi melakukan demo di balaikota. Terus ada
juga aksi para supir angkot yang melakukan mogok sehingga transportasi umum di
kota udang ini lumpuh untuk sekian hari. Bagi supir angkot atau transportasi
konvensional lain yang tetap beroperasi, maka mereka harus bersiap kena sweeping sesama rekan supir konvensional
lain, bahkan bisa saja mendapat resiko terburuk hingga mendapat perlakuan tidak
mengenakan yakni pengrusakan dengan cara dilempari batu dan lain-lain.
Saat kelima pemuda tiba di pasar Celancang, mereka diminta untuk turun oleh
sang supir. Begitupun penumpang lain yang memiliki tujuan hingga ke pusat kota
udang. Padahal tujuan akhir mereka menggunkan elf ini sampai di pos Kedawung. Seorang pemuda yang mengenakan
bandana mencoba berbicara dengan si supir terkait kenapa mereka harus
diturunkan di muka pasar tradisional.
“Lagi ada demo, nang. Kalau reang maksa sampai Kerucuk saja, mobil
majikan reang ini bakal
kenapa-kenapa. Jadi punten ya nang. Ning kene bae.” jelas si supir
menerangkan apa yang sedang terjadi.
“Lha terus gimana, Mang rombongan
saya bisa ke Kedawung? Masa sudah sampai sini balik lagi.” pemuda dengan
bandana itu memberikan nada suara yang agak ngeyel memaksa si supir mengantarnya
sampai ke Kedawung.
Namun sang pemuda tidak sendiri, beberapa penumpang lain juga melakukan
protes yang sama kepada si supir. Tapi hasil yang didapat tetap sama, si supir
tidak ingin mengambil resiko dengan terus melanjutkan keputusannya untuk menurunkan
seluruh penumpang di tengah hari yang panas di sebuah pasar tradisional yang
sedang ramai-ramainya. Yang membuat penumpang kesal terhadap si supir ialah
karena diminta bayaran penuh sedangkan mereka tidak diantarkan sampai ke tempat
yang sesuai dengan yang mereka bayar.
Setelah meninggalkan obrolan bersama si supir, kelima pemuda bergegas
menurunkan semua tas ransel dari dalam mobil. Setelah membayar penuh biaya
perjalanan dengan raut kecewa, kelima pemuda yang akan mendaki gunung itu
memancarkan muka panik dan kebingungan. Apakah mereka akan melanjutkan
pendakian atau pulang kembali. Hal ini dikarenakan, setelah berkali-kali bertanya
kepada beberapa orang yang juga terdampar disana, memang akses untuk melewati
kota Cirebon sedang lumpuh total. Tidak ada satu pun kendaraan umum yang
beroperasi selain bus besar antar kota antar provinsi, itupun susah didapat di
tempat mereka terdampar sekarang. Kalau pun ada, bis itu memiliki rute ke Jawa
Tengah, bukan Kuningan. Malangnya kelompok kecil lima pemuda ini yang
membatalkan niatnya dalam perjalanan mereka menggunakan kendaraan pribadi dan
memutuskan untuk menjadi korban kendaraan umum yang tidak mereka kehendaki.
Dengan tas ransel yang cukup besar, kehadiran lima pemuda di tengah
keramaian cukup mengundang perhatian banyak warga. Pengunjung pasar tidak
henti-hentinya memandang ke arah lima pemuda yang memanggul tas besar di
punggung mereka. Tengah hari belum benar-benar beranjak. Teriknya memancarkan
panas tanpa ampun. Dengan aktifitas jalanan yang ramai, debu-debu bebas
berterbangan.
***
Suara sirine mobil Ranger milik
petugas kepolisian wilayah kota Cirebon terdengar cukup nyaring. Mobil dengan
dua kabin ini melaju pelan. Setelah memberanikan diri berbicara dengan petugas
yang sedang berjaga, pemuda berbandana diberi kesempatan untuk menumpang
kendaraan milik negara itu, tentu bersama rombongannya. Di kursi depan,
dikhususkan untuk perempuan terutama ibu-ibu dan anak kecil. Sedangkan untuk
para lelaki, ditempatkan di bak terbuka di bagian belakang. Meski memang agak
kurang eksklusif, tapi kesempatan ini tidak disia-siakan sama sekali oleh
kelima pemuda. Lagian kelimanya tidak sedang mencari kenyamanan. Mereka hanya
berpikir bagaimana rencana mereka tidak gagal, untuk mendaki, sudah itu saja
yang sedang ada di kepala mereka. Bagaimana pun caranya. Akhirnya, mereka
bergegas berebut tempat dengan korban penelantaran kendaraan umum lain. Namun,
beruntung, karena melihat beban barang bawaan para pemuda, petugas yang ikut
menertibkan memberi kesempatan lebih dulu kepada kelima pemuda itu.
Diatas mobil yang melaju pelan, meski berdesak-desakkan, kelima pemuda
mendadak akrab dengan orang lain yang juga bernasib sama. Tidak peduli panas
menggarang kulit mereka. Angin khas pantai utara meneduhkan candaan mereka.
“Wis koyo maling ayam sing ketangkep
bae yo, baka nunggang mobil patroli gini ini.” celetuk salah seorang yang
ikut menumpang mobil Ranger polisi.
Mereka kompak bersama-sama menertawakan pengalaman mereka yang sedang
terjadi di siang konyol itu. Mereka membayangkan diri sendiri seolah menjadi
tawanan buronan yang tertangkap oleh pihak berwajib. Atau maling kelas teri yang habis digerebek di
sarang persembunyiannya.
Sayangnya, tumpangan gratis itu hanya berlaku sampai di simpang Krucuk. Dan
itu berarti, para pemuda harus mencari alternatif kendaraan lain untuk bisa
sampai di pos pendakian awal gunung Ciremai di Linggarjati. Waktu terus saja
beranjak dari tempatnya semula tanpa mau berputar kembali.
Kebingungan kembali menyelimuti kelima pemuda.
“Gimana Bong, lanjut ga nih?” tanya untuk memastikan dari salah seorang
pemuda yang hanya satu-satunya mengenakan sepatu lari.
“Lanjut lah. Wis sampai sini jeh
masa balik maning si.” Timpal pemuda
lain yang masih dipenuhi semangat mendaki.
“Lha terus gimana nih? Naik apa kita meng
Linggarjatinya?” suara pemuda yang memiliki tubuh paling pendek diantara
kelimanya.
“Ya kudu ngompreng satu-satunya
jalan bisa sampai kesana. Pien lagi
sih, ngga ada angkot ngga ada elf jeh.” Abong memberi jawaban solusi.
Ide itu langsung dieksekusi oleh pemuda berbandana. Dengan muka tebalnya,
ia menanyai setiap kendaraan yang lewat, terutama kendaraan muatan seperti truk
dan pick-up. Di tengah jalan yang
ramai dan padat karena palang kereta sedang bertugas mencegah kendaraan
bermotor lewat, maka laju kendaraan pun hanya berjalan sangat lambat bahkan
hingga terhenti. Ini kesempatan emas, pikir si pemuda berbandana yang
mengenakan kaos bergambar logo toko peralatan outdoor lokal dipadu dengan
celana jins pendek Wrangler.
Dua tiga kendaraan memberi jawaban yang tidak mengenakan. Bahkan ada yang
sebelum ditanya, sudah menolak mentah-mentah untuk ditumpangi. Beruntung, tidak
lama setelah itu, sebuah truk pengangkut pasir berjalan lambat tidak jauh dari
tempat pemuda berbandana meminta tumpangan ke kendaraan lain. Pemuda itu
langsung menodong dengan sebuah pertanyaan “Mau ke arah Kuningan, Mang? Boleh nebeng?”. Dan entah kenapa,
tanpa berpikir panjang si kondektur truk dan si supir layaknya terkena sihir,
memberi ijin tumpangan cuma-cuma. Si pemuda berbandana langsung saja memanggil
rombongannya dengan berteriak di tengah suara bising kendaraan. Mereka pun
bergegas memanjat menaiki truk pasir yang kosong itu.
“Laka-laka cah reang punya
pengalaman kaya gini ini.” celetuk suara dari pemuda yang mengenakan sepatu
lari di kakinya.
“Lumayan olih nggo cerita ning anak
putu, Nggil.” ucap pemuda yang baru saja di wisuda.
Dengan lontaran pasir kecil sisa-sisa yang berhamburan di bak mobil, mereka
dibawa mengitari tengah kota oleh truk berwarna kuning berukuran sedang itu
kemudian baru menuju jalan ke arah Kuningan. Di sebuah lampu merah, petugas
polisi sempat memergoki kendaraan barang itu ditumpangi oleh segerombolan
manusia. Sebenarnya sudah jelas ini melanggar peraturan berkendara, namun
mungkin karena petugas itu menyadari situasi yang sedang terjadi di Cirebon, pak
petugas yang sedang berjaga di pos diam saja membiarkan kendaraan itu berlalu
seperti sedang tidak melihat apa-apa. Atau keberuntungan memang sedang mau
mampir ke kehidupan lima pemuda ini. Lagi-lagi, kelima pemuda itu menertawai
pengalaman konyolnya bersama-sama.
Sejauh mata memandang, hanya terlihat kendaraan pribadi yang sibuk lalu
lalang kesana-kemari memadati ruas jalan kota. Hanya becak lah kendaraan umum
yang masih tampak mangkal di beberapa sudut perempatan dekat warung makan.
Sial datang kembali menimpa kelima pemuda. Ternyata kendaraan yang mereka
tumpangi tidak benar-benar melewati Kuningan. Kendaraan itu ternyata akan
menuju sebuah desa di daerah Penggung. Maka dari itu, kelimanya lagi-lagi
diminta turun dari kendaraan. Tepat di sebuah pertigaan, mereka kembali menjadi
pusat perhatian. Lima orang pemuda dengan tas besar di punggung ternyata
menjadi pemandangan aneh di mata masyarakat umum. Sebagai ganti ongkos, pemuda
yang mengenakan sepatu lari menawarkan dua bungkus rokok tembakau kepada si
supir. Namun lelaki kekar di balik kemudi itu menolak. Meski agak memaksa, dia
tetap memberikannya kembali ke pemuda yang akan mendaki gunung itu. Akhirnya,
cukup dengan kata terima kasih dan mendoakan si supir untuk selalu mendapat
kemudahan rezeki, kelima pemuda membalas kebaikannya.
“Ya sudah Mang terima kasih
banyak, semoga dapat rezeki banyak dari usahanya.” ucap seorang pemuda
mewakili.
Namun tidak sial-sial amat, karena, ternyata si supir truk tadi sengaja
menurunkan kelima pemuda di pertigaan ini supaya bisa dengan mudah mendapat
tumpangan dari kendaraan umum seperti elf
dan angkot untuk menyambung perjalanan. Meski di tengah kota para supir
sedang bergejolak, di daerah perbatasan Cirebon – Kuningan ini semua masih aman
terkendali. Akses untuk mendapat kendaraan umum masih berjalan normal. Dan
benar saja, kelimanya tidak menemukan kesulitan apapun untuk mendapatkan
tumpangan elf. Tumpangan kali ini
mereka harus membayar Rp.10.000 per orang hingga pintu masuk desa Linggarjati.
“Kalau mau ke Kuningan, naik elf itu
saja tuh.” Mamang supir memberi solusi sambil menunjuk sebuah halte yang
dibangun seadanya, beberapa mobil mini bus terparkir berbaris.
***
Kelima pemuda dengan tas besar di punggungnya berjalan kaki sejauh beberapa
kilo dari gerbang masuk wisata Linggarjati di jalan aspal yang meliuk menanjak.
Selama duapuluh menitan, mereka tiba di pos pendakian Linggarjati.
“Pemanasannya nggak kira-kira ya. Anteb
dih.” Salah seorang pemuda sambil tersengal-sengal nafasnya.
“Haha, iya ya Nggil.” salah seorang pemuda lain ikut menyetujui
pernyataannya.
Udara sejuk khas pegunungan sudah terasa mengelilingi kelima pendaki saat
tiba di pos pendaftaran. Setelah mengkopi identitas diri di toko dekat pos jaga
sebagai salah satu persyaratan dan mengisi seluruh kolom formulir pendaftaran,
kelimanya membayar bea masuk pendakian sebesar Rp. 50.000 per orang. Tanpa
banyak basa-basi mereka menyelesaikan semua prosedur, termasuk saat pengecekan
barang bawaan oleh petugas. Saat seluruh proses pendaftaran selesai, petugas
memberi kupon makan untuk digunakan di warung sekitar, bisa digunakan sebelum
atau setelah pendakian.
Mereka juga sempat diberi arahan dan peringatan oleh petugas jaga terkait
penggunaan api saat berada di jalur pendakian. Berhubung, kelima pemuda itu
mendaki saat musim kemarau, jadi mereka harus berhati-hati saat melakukan
kegiatan memasak, melakukan kegiatan yang menggunakan media api. Di tahun
sebelumnya, kebakaran pernah terjadi karena ulah ceroboh pendaki. Hal ini tentu
kerugian besar bagi lingkungan sekitar. Maka dari itu petugas selalu
mengingatkan pendaki yang akan menggapai puncak Ciremai.
Mereka sempat melakukan obrolan singkat dengan tiga orang yang baru turun
dari puncak Ciremai. Saat perbincangan berlangsung, orang-orang itu mengaku
berasal dari Medan. Dan itu dibuktikan dengan logat khas Sumatra Utaranya yang
khas. Seorang lelaki berambut panjang dan lurus menjelaskan bahwa trek Ciremai
lewat Linggarjati ini memang “luar biasa”, katanya. Kelima pemuda pun menjadi
tertantang mendengar cerita para lelaki berumur sekitar 45-50an ini. Obrolan
disudahi ketika ketiga orang yang sepertinya berasal dari suku Batak ini
bergegas melapor ke petugas jaga. Dan ternyata, ketiga orang ini sedang
mengejar waktu jadwal kereta ke Jakarta dari Cirebon.
Kelima pemuda sempat mampir di sebuah masjid yang terletak di ujung
kampung. Mereka menyempatkan beribadah di tempat itu.
***
“Cukup bli waktunya Bong
kita-kita kih kalau ngejar sunset besok
pagi?”tanya pemuda dengan sepatu lari.
“Sunset apa sunrise bro? Sunset mah ya sekarang noh ketutupan gunung.” balas
pemuda berbandana sambil menunjuk ke arah barat.
“Eh iya kuen maksude, hehe.”
“Ya lagi reang si sama
teman-teman dulu pernah berangkat jam segini nyampe pos Pengasinan jam 12
malam. Berarti ya kegedag lah.” jawab
Abong.
“Golongan reang kan jaman semono kalau naik ya modal nekat dan
kurang persiapan. Masa modal jaket switer atau setelan buat malam mingguan bae. Jadi ya kuen, rada sengsara nyampe sana jam segitu itu. Dinginnya bukan
main. Untung wayah semono kadang ada
yang sembunyi-sembunyi bawa anggur, jadi lumayan ada yang menghangatkan lah.”
Abong melanjutkan sedikit ceritanya di masa lalu.
Menjelang petang, setelah melewati kelok jalan aspal desa hingga rimbun pepohonan pinus hutan,
kelima pemuda tadi tiba di sebuah warung yang berada di pos Cibunar. Warung itu
sudah melegenda, begitu kata Abong. Hampir semua pendaki gunung Ciremai yang
melalui Linggarjati pasti mengenal siapa pemilik warung itu. Saat mereka tiba
disana, terlihat seorang lelaki tua sedang sibuk merapikan kayu yang dibakar
tidak jauh dari muka warung. Gelap sudah memenuhi petang semesta. Dingin
menyeruak dari setiap sudut. Selain disambut oleh suara renyah orang tua, aroma
teduh dan suara serangga kecil juga menyambut kedatangan kelima pendaki muda
ini.
Kelima pemuda ini memutuskan mengisi perut mereka terlebih dahulu sebelum
melanjutkan pendakian. Beruntung persediaan nasi dan lauk pauk di warung
tersebut masih tersedia. Beruntungnya lagi, kata si ibu pemilik warung, “coba saja kalian datang telat barang lima
menit, warungnya mungkin sudah tutup” kepada para pemuda.
Pemuda dengan sepatu lari memutuskan untuk membuat mi instan dan telur
ceplok sebagai lauk, yang lain dengan menu seadanya, oreg tempe, telur asin,
sayur dan sambal, tidak ketinggalan kerupuk. Sambil menunggu pesanan setiap
pemuda siap santap, mereka bergabung dan berbincang-bincang dengan pak tua yang
masih sibuk merapikan kayu dalam unggun perapian. Tak dinyana, pak tua itu fasih
menggunakan bahasa yang sama dengan para pemuda. Sontak obrolan menjelang malam
itu menjadi semakin menghangatkan suasana.
Abong yang sudah lama tidak berkunjung ke Ciremai juga sampai pangling
dengan pak tua yang sedang dihadapannya. Pak tua itu terkenal dengan sebutan
Pak Urip. Ia lelaki sederhana dan selalu bersahaja kepada setiap pendaki. Tak
sedikit yang mudah akrab dan mengenal blio. Ketika mereka membicarakan
orang-orang yang mendaki Ciremai, salah satu pesanan si pemuda sudah siap. Karena
kelaparan, jadi pemuda yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di bangku
kuliah mendapat jatah pertama untuk menyantap makanan di warung itu.
Obrolan dengan pak tua terus berlanjut. Yang ada semakin seru dan memecah
malam yang sunyi kala itu. Pak Urip menceritakan orang-orang yang datang ke
tempatnya satu persatu. Abong pun akhirnya berbagi cerita pengalamannya sekitar
sepuluh tahunan yang lalu ketika mendaki Ciremai via Linggarjati. Akhirnya
disana ada titik temu terkait orang-orang yang sering mengunjungi tempat Pak
Urip.
Ebret, begitu kata pak tua menyebut nama orang yang sering sekali singgah
di tempatnya. Nama itu sering sekali mengunjunginya, entah untuk mendaki hingga
puncak atau hanya untuk menginap di tenda di dekat warung pak tua. Maka dari
itu, perkenalan mereka sudah seperti keluarga saja, kata pak tua menjelaskan
dengan penuh semangat menceritakan kedekatannya dengan orang yang berasal sama
dengan si para pemuda. Kemudian ia pun meminta si para pemuda untuk
menyampaikan salam kepada pemilik nama Ebret. Pak tua pun beranjak ke dalam
warung ketika semua santapan pemuda sudah siap. Di tengah ceritanya, pak tua
menunjukan beberapa bukti kehadiran nama Ebret dengan menunjukan stiker hingga
foto mereka.
Kelima pemuda terus menikmati santap malam mereka hingga tandas. Setelah
menunggu beberapa saat hingga makanan mereka sudah kandas di lambung, mereka
kemudian melanjutkan pendakian. Mereka membayar semua tagihan dan merapikan
ransel. Mereka pamit setelah selepas pak tua itu memberi sedikit wejangan saat
mendaki. Dan kelima itu benar-benar mendengarkan omongan si pak tua dengan
seksama. Misalnya, saat bertutur kata, di gunung ini, para pemuda diminta
menjaga sikap lisannya agar tidak berkata sembarangan. Terlepas dari unsur
mistis, pesan yang disampaikan oleh pak tua itu sebenarnya mengajarkan si
pemuda untuk bisa mengontrol diri sendiri.
Pendakian malam ini sayangnya kurang persiapan. Lampu yang mereka bawa
tidak cukup untuk digunakan berlima. Hanya tiga lampu sorot berukuran kecil
yang menerangi perjalanan mereka. Beruntung, malam itu purnama sedang sudi
temani. Jadi sepanjang jalan, pendar kuning cerah tidak henti-hentinya
menampakan jalan setapak yang dilalui.
***
Tujuan awal para pemuda mendirikan tenda sebenarnya di pos Pengasinan.
Namun karena faktor kelelahan dan salah seorang dari mereka ternyata kakinya
pernah dioperasi dan masih mengenakan besi pen,
maka mereka putuskan untuk membangun tenda di pos Pamerangan. Gerimis
sempat membuat perjalanan mereka terganggu saat tiba di pos Kondang Amis hingga
Kuburan Kuda. Karena kesepakatan bersama, mereka untuk terus melanjutkannya.
Mereka juga sempat berjumpa dengan dua pendaki lain yang memutuskan untuk
membangun tenda di pos Kondang Amis.
Sekitar jam 10 malam, kelimanya bergegas membuat tenda. Saat tenda berhasil
dikeluarkan dari ransel salah seorang pemuda, semua membuka tas kecil berisi
tenda dan pasak-pasaknya.
Sampai pemasangan frame, semua
pemuda masih ikut turun tangan. Namun saat pemasangan pasak, hanya seorang
oemuda yang mengenakan bandana sendirian yang menyelesaikan tugasnya. Yang lain
malah sudah santai rebahan di dalam tenda dan menyantaop cemilan yang dibawa. Dengan
buru-buru dan sedikit rasa takut, pemuda berbandana cepat-cepat memukul pasak
hingga terbanam separuh menggunakan batu yang ia dapat di sekitar tenda.
Setelah semua beres, pemuda yang mengenakan bandana tersebut ikut bergabung
ke dalam tenda. Lampu sorot digantung di atas sudut tenda. Begitu memasuki
ruangan tenda berkapasitas empat orang, si pemuda berbandana tersebut kaget
karena posisi rekan-rekannya sudah menyerupai ikan pindang dalam panci. Ruangan
itu penuh sesak, ditambah dengan ransel bawaan yang berhimpitan, jadilah ia
rebahan sedapatnya disana.
Tanpa buang waktu, kelima pemuda di dalam tenda menggunakan waktu untuk
beristirahat supaya badan segar kembali. Mereka tertidur seperti ayam. Ada yang
terbangun ketika mendengar dengkuran temannya, kemudian melanjutkan tiduranya
lagi. Ada yang terbangun karena mencium bau ikan asin dari kaki salah seorang
pemuda yang mengenakan sepatu, kemudian tetap memilih melanjutkan tidur lagi di
dalam tenda itu tanpa mau mmengambil resiko tidur di luar tenda. Lampu tenda
dimatikan saat semua penghuninya beristirahat.
Rencananya, mereka melanjutkan perjalanan paling awal pukul 5 pagi dan paling
telat-telatnya pukul 6 pagi. Namun realita berkata lain, setelah semalam jatah
tidur terhambat oleh hal-hal tidak penting dan sedikit mendapat kejadian
mengejutkan, kepala Abong saat tidur ada hewan yang menyundul, kelimanya
terbangun di separuh malam dan was-was sambil membuat dugaan yang aneh-aneh, padahal
kemungkinan sekelompok babi kelaparan pelakunya, mereka berlima pun bangun
kesiangan. Pukul 7 mereka baru membuka mata dan melanjutkan perjalanan setengah
jam berikutnya.
“Bedug bisa sampai puncak bli Bong kalau begini ini?” tanya pemuda
yang ternyata kakak ipar si pemuda yang baru saja di wisuda.
“Ya baka jos ora lirenan ya sampai lah. Deket kok.” ucap Abong dengan tegas
sambil mengencangkan kuncian tas di bahunya.
Mereka melewati tiap pos dengan beberapa kali penghentian kecil. Hal ini
dilakukan karena kondisi fisik mereka yang kurang berolahraga mudah lelah. Mereka menghabiskan waktu untuk mengurangi
rasa letih di otot di beberapa bagian tubuhnya. Tidak jarang di tiap perhentian,
selain meminum air mineral, Abong dan yang lain menyulut batang rokok tembakau
lalu menghisapnya dalam-dalam dengan gaya penghayatan yang kadang dibuat-buat,
kecuali si pemuda berbandana. Kadang juga memakan bekal roti goreng isi pisang yang
penuh minyak sebagai cemilan. Kadang juga meracik mi instan dengan diremas
hingga remuk lalu ditaburi bumbu dan dikocok hingga siap santap jadi kudapan
selama perjalanan.
“Berapa jam lagi teka ning puncak,
Bong?” tanya pemuda yang ternyata baru diketahui setelah mengobrol, berusia
lebih tua dibanding Abong. Dialah Usop, kakak ipar salah seorang pemuda, yang
baru saling mengenal saat melakukan pendakian ini.
“Limalas menit lagi juga sampai.”
Abong dan pemuda berbandana kompak menjawab memberi semangat dan harapan, meskipun
realitanya tidak seperti itu. Padahal aslinya, kalau lancar saja, jarang
berhenti, untuk bisa sampai puncak dari pos Tanjakan Seruni ini memakan waktu
lebih dari satu jam. Mungkin inilah yang dinamakan kebohongan demi kebaikan.
Tapi kebohongan tetaplah kebohongan, malah bisa mendapat resiko buruk dengan
memaksakan kehendak orang lain bila melakukannya.
Saat tiba di pos Bapa Tere dengan medannya yang sudah mulai benar-benar curam
(kalau terjal, jalur Linggarjati ini dari awal memang menyediakan sensasi
terjal yang tidak habis-habis), semangat mereka semakin terpompa. Mungkin ini
cerminan kata “luar biasa” seperti apa yang dikatakan oleh salah seorang
pendaki asal Medan yang mereka temui di pos pendaftaran tadi.
“Edaaaan. Dalane gawe lara boyok coh.”
ucap Egi, pemuda yang mengenakan sepatu lari bertuliskan NB sedari tadi itu.
Tapi hal itu dibayar lunas dengan penampakan yang tersaji di hadapan
mereka. Benar “luar biasa” memang, saat tiba di pos Sangga Buana II, mereka
berlima dihadiahi pemandangan flora dan fauna endemik berhabitat asli Ciremai
yang elok. Hal itu tidak lain, udara segar pemandangan hijau di segala sisi,
kicau berbagai jenis burung dengan penampakannya yang anggun dan bunga-bunga sedang
bermekaran dengan aneka warna berpadu padan yang mereka tidak ketahui namanya
memuaskan seluruh panca indera. Beberapa kali di tengah perjalanan, mereka juga
dihibur aksi loncat indah dari pohon ke pohon oleh para kera.
“Enak dibawa mah ya Bong kuh manuke buat
ke acara gantangan mah.” kata salah Suwardi, seorang pemuda yang baru saja di
wisuda dan memang pecinta kicau burung sambil menunjuk ke arah beberapa kawanan
Love Bird yang sedang bergerombol di
sebuah pohon.
Mereka menghabiskan waktu agak lama di pos yang menyajikan suasana damai
ini. Kemudian setelah itu kembali melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya
hingga betul-betul sampai di puncak.
“Masih adoh tah Bong? Kok ngga
sampai-sampai.” keluh Usop.
Meski begitu, mereka melewati setiap trek terjal hingga Pengasinan dengan
lancar.
***
Tibalah mereka di pos terakhir, pos Pengasinan. Langit begitu biru kosong
tanpa satu awan gumpalan awan pun yang lewat. Angin berhembus cukup kencang.
Puncak Ciremai terlihat menyembul dari balik pepohonan. Sebagian punggung bukit
masih nampak jelas seperti baru kemarin sore habis terbakar. Lajur menuju
puncak semakin kecil menyempit. Kelimanya sepakat menanggalkan beberapa
barang-barang dengan beban berat di pos Pengasinan. Mereka menggantungnya di
atas pohon guna menghindari hewan buas. Maklum, barang yang mereka tinggalkan
kebanyakan makanan. Takut-takut dimangsa hewan, makanan itu dibungkus oleh
saring yang dibawa salah seorang pendaki kemudian digelatungkan cukup tinggi di
batang pohon. Ide ini muncul begitu saja tanpa rencana.
Usop kesal ketika menyadari ucapan pemuda berbandana dan Abong ternyata
tidak sesuai kenyataan. Bahkan untuk sampai ke puncak pun sepertinya
membutuhkan waktu yang masih agak cukup lama, pikir Usop.
“Bohong bae dih. Katanya
limabelas menit lagi, ini sudah hampir tiga jam, baru sampai pos Pengasinan.”
keluh Usop.
“Ya wajar, kan tadi banyak mandeknya..” balas Abong.
“Reang sudah ngga kuat. Sampai
sini bae lah.” ucap Usop sambil
membungkuk memegangi kedua tempurung kakinya.
Meskipun saat di Pamerangan sudah dijelaskan oleh Suwardi, namun pemuda
yang lain berpikir kondisi Usop tidak sampai seserius ini. Konon, Usop pernah
mengalami kecelakaan hebat. Kakinya dioperasi dan diberi pen. Hingga pendakian
ini dilakukan, pen itu belum dilepas dari tempatnya. Dari garis bekas jahitan
operasinya, lukanya terlihat sangat serius. Dan hal ini baru diketahui saat
pendakian tiba di pos terakhir ini, sesaat sebelum menjelang summit attack. Ada yang menyarakan Usop
untuk beristirahat di Pengasinan, tapi ada juga yang mengajaknya terus mendaki
hingga puncak tanpa mengindahkan berbagai resikonya.
Suara-suara itu sempat menimbulkan perdebatan. Sebelum kemudian hanyut
bersama keputusan Usop sendiri untuk tetap melanjutkan perjalanannya.
“Sayang sekali kalau sudah sampai sini saya harus nungguin kalian ke
puncak. Sudah saya putuskan dengan berbagai kemungkinan, saya akan tetap ikut
naik.” ucap Usop dengan penuh keyakinan.
Tapi sebenarnya keputusannya itu dibuat karena faktor rasa sungkannya ke
Abong.
Suara adzan yang menunjukan waktu ashar samar-samar terdengar dari arah
pemukiman warga. Waktu itu mereka berlima sudah sampai separuh jalan untuk
menuju puncak. Abong jadi pendaki yang berada paling depan. Permukaan jalan yang
dipenuhi abu vulkanis membuat mereka mengatur jarak satu sama lain. Jalur
semakin curam saja untuk didaki. Sudut kemiringan yang tajam membuat setiap
pendaki merasa kesulitan mengatur komposisi langkah kaki mereka.
Egi dan Usop yang mengenakan sepatu berkali-kali hampir terpeleset. Sedangkan
sisanya hanya mengenakan sandal jepit merk lokal, Swallow, tidak menemui kendala apapun.
***
Tiba di puncak sekitar pukul 16an. Tidak ada yang mengecek penunjuk waktu
membuat mereka tidak mengetahui pukul berapa tepatnya mereka menginjak puncak
gunung tertinggi di Jawa Barat itu.
Komentar
Posting Komentar