“Woy Jak, jadi ngumpul nggak nih? Kampret pada lama banget, ngaret si ngaret, ini udah berapa jam woy telatnya.” Maki seorang pemuda berambut gondrong nanggung dan dibiarkan semrawut ala kadarnya mirip John Lennon sambil memegang telepon seluler berukuran lima inci di tangan kirinya. Sontak, beberapa orang yang sedang duduk mengobrol sambil menikmati hidangan diatas meja di sekitarnya melolototinya. Sang pemuda yang hanya mengenakan kaos oblong berwarna abu-abu polos itu cuma membalas dengan tatapan sinis pelit.
“Santae
broh, ini lagi di jalan. Sama yang lain juga. Mobilnya si Eko mogok.” Balas
Jaki sambil menenteng tas jinjing berisi laptop berjalan pelan keluar
meninggalkan sebuah ruangan.
Dasarnya
si Jaki ini emang suka bohong. Beberapa temannya suka kesal sendiri kadang.
“Jangan
ngibul lagi Jak, udah sering pisan ira bilang
kaya gitu itu. Coba mana suara yang lain kalau emang lagi barengan?” nada kesal
terdengar semakin menjadi-jadi. Secangkir kopi piccolo hampir tandas
diseruputnya seusai mengumpat tak jelas kepada seorang yang sedang berada di
seberang sambungan telepon genggamnya.
“Si
Eko sama Fajar lagi nyari bengkel, Pang. Sabar kenapa!?!!” Jaki baru saja
keluar dari pintu otomatis sebuah gedung tempat kerja. Keduanya temannya sudah
menunggunya di sebuah mobil SUV berwarna hitam, seorang di jok sebelah kiri
depan melambaikan tangan sekenanya menandakan keberadaannya dari kaca jendela.
***
“Maaf
lama ya? Si Ipang lagi sensi banget nih gaes. Barusan nelpon kaya lagi nyariin
pacarnya yang ilang aja. Posesif gila.” Jaki buka suara.
“Gimana
nggak gila si Ipang nungguin, ira janjian
sama kita-kita jam berapa emang, Jak?” ucap si Fajar dari balik kemudi dengan
nada kesal yang tidak dibuat-buat.
“Sekarang
jam berapa?” si Eko ikut membuka mulutnya, meski agak sedikit terpaksa.
Jaki
hanya tersenyum cengengesan menahan rasa malu yang tidak bisa dibendung lagi.
Eko terlihat kesal mendengar suara ketawa dari jok belakang, yang seolah
menganggap tidak ada kejadian apa-apa. Akhirnya sepanjang perjalanan, ketiga
pemuda di dalam sebuah mobil tiba-tiba terasa menjadi asing satu sama lain.
Hanya suara radio di dashboard yang membelah kesunyian. Terdengar suara khas
Liam Gallagher menyanyikan tembang sakti milik grup bandnya, Oasis, Don’t Go Away.
...I don’t wanna be there when
you’re coming down
I don’t wanna be there when you
hit the ground...
***
“Brengsek
kalian ini. Telat kok berjamaah. Jauh-jauh dari Bali, cuma buat kaya gini ini.
Ya Tuhan. Pertemanan macam apa ini.” suara jengkel dan menuntut dari pemuda
yang terlihat hanya menggunakan pakaian paling santai diantara ketiga temannya
yang baru datang. Pertemuan kawan lama sore itu diawali dengan ketengangan yang
tidak enak. Karena merasa bersalah, ketiganya hanya diam. Namun yang
jelas-jelas tersudut ialah si Jaki. Ini semua karena ulahnya. Dan ia kemudian
menyadarinya ketika si Ipang betul-betul marah dihadapannya. Ketiganya hanya
bisa berkata maaf kepada si Ipang, guna meredakan amarahnya.
Hari
mulai benar-benar petang. Pengunjung warung kopi masa kini dengan aksen warna
kayu potong diplistur dan beberapa corak etnis mulai ramai berdatangan. Seluruh
kursi hingga pojok ruangan terisi penuh muda-mudi. Beberapa diantara mereka
melirik percakapan yang dilakukan oleh empat serangkai di meja sebelahnya. Hal
ini disebabkan oleh ucapan Ipang yang tidak habisnya mengeluarkan umpatan
kepada ketiga temannya. Hingga benar-benar posisi Jaki terpojok, tiba-tiba
muncullah seorang perempuan mengenakan setelan blazzer denan warna gelap dan
rok pendek menghampiri meja empat serangkai. Perempuan itu tidak asing bagi
para jejaka. Rambutnya dan kacamata yang ia kenakan adalah kunci. Perempuan itu
membawa sebuah box berukuran tigapuluh sentimeter persegian dan meletakannya di
atas meja dimana empat serangakai berkumpul.
“Sudah-sudah
ributnya, ini lihat apa yang aku bawa.” Si perempuan menengahi dan membuka isi
kotak kertas itu.
***
Ternyata
ketegangan yang baru saja terjadi adalah sebuah skenario yang dibuat oleh
Shinta untuk merayakan hari lahir Jaki. Shinta meminta ketiga teman-temannya
untuk melakukan adegan drama itu. Meski agak sedikit memalukan karena ditonton
oleh pengunjung warung kopi yang lain, usaha mereka ternyata berhasil. Jaki
sampai dibuat merasa benar-benar bersalah dan meminta maaf sampai meminta belas
kasihan ke Ipang. Walaupun pada akhirnya Ipang lah yang meminta maaf dan
mengucapkan selamat hari ulang tahun bagi Jaki. Begitupun kedua temannya yang
lain.
Jadi,
Shinta tahu kalau di hari spesialnya, Jaki akan mengadakan rapat dengan
pelanggannya. Namun Shinta memaksa Jaki untuk bisa hadir di pertemuan
persahabatan itu. Diaturlah, Ipang yang mengajak Jaki janjian. Shinta yang
berpura-pura diajak Ipang juga kemudian meyakinkan Jaki. Eko dan Fajar hanya
kebagian sebagai tim hore.
Kelima
lajang akhirnya bersama menikmati malam yang menyenangkan.
Komentar
Posting Komentar