Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Peri Absurb

Ini adalah coretan yang saya tulis iseng-iseng berdasarkan pengalaman seorang teman yang ngeyel percaya banget sama cinta pada pandangan pertama, padahal itu ngga benar-benar ada, dan dia masih agak kurang sadar akan dirinya sendiri. Lebih tepatnya, kepedean lah. Coretan ini juga cuma sebagai pelajaran buat saya biar punya sedikit keberanian menulis, ya walaupun ngga tau pantes apa ngganya nih dibilang tulisan, enak nggaknya pas dibaca. Kacau banget deh isinya, pokoknya. Bukan tulisan yang pertama sih, tapi ini merupakan ekperimen-ekperimenan aja, bikin narasi yang ngga tau gimana alurnya. Pastikan sebelum melanjutkan membaca, kamu sudah nyedian kantong plastik kresek buat kalau mual sudah siap muntahin disana, nggak sembarangan. Jujur, saya sendiri yang pernah nulis kaya gini, ngerasa, ini kok jelek banget, agak jijik gimana gitu, sumpah. Biarin deh malu-malu juga diposting aja, kali aja ada yang lebih ancur nulisnya dari saya diluar sana. Cuma ya gitu kesannya lucu, konyol ...

Tentang Pejalan

Untuk kali ini, aku harus menyerah dengan nasib. Atau takdir. Entah apalah. Semua daya sudah ditunaikan. Dan memeang dari awal segalanya bukanlah hal yang mudah untuk dijalani bersama. Apalagi dengan dua kepala yang juga memiliki porsi pemikiran berbeda. Mungkin beberapa kali saja kesamaan hadir menengahi. Dan beruntungnya saat itu kepala kedua insan ini sedang dingin. Diplomasi ecek-ecek berhasil terjadi. Dan tidak berselang lama, konflik-konflik minor membuat gejolak permasalahan kembali menggangu cerita yang hampir manis ini. Beberapa kali kumintai pendapat teman, tentu temannya, juga temanku sendiri. Guna mendapat hasil yang memuaskan.   Perlu diakui, bahwa memang sudah sedari awal kita tak pernah benar-benar menjatuhkan diri atau mengalah demi satu sama lain. Orang bilang mungkin ini gengsi. Lebih dari itu, aku tidak dapat menemukan kata yang pas sebagai pengganti. Dan mungkin memang iya, kita berdua memang saling memiliki gengsi yang tinggi. Tapi untuk apa sentime...

Tamasya Kerja

Tulisan ini cuma sekelebat cerita yang saya dapat saat menjadi seorang kru acara  gathering  sebuah perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Waktu itu di akhir tanggal bulan November. Hujan lagi sering banget turun. Dapat tawaran dari seorang rekan yang biasa dipercaya menggarap acara. Rezeki dalam bentuk apapun tidak boleh ditolak, kan? Lumayan buat ongkos wisuda, hehe. Seminggu, lima kali piknik. Mungkin kalimat ini cocok menggambarkan suasana perasaan saya saat bekerja di acara seremoni ini. Selama seminggu itu juga, sedetik pun saya tidak pernah menggunakan jaringan telekomunikasi dengan dunia luar. Dari kawasan Kawah Wurung, tepatnya di rumah singgah Jampit. Di area ini bebas dari jaringan koneksi seluler manapun, yang mana biasanya selalu menghasilkan dering atau getar di telepon genggam di tengah malam hingga pagi hari sampai siang lagi, yang kadang cukup menggangu ketika datang di waktu yang tidak tepat. Tanpa ada kabar berita atau mengabari berita ke luar itu ra...

Ngigo

Hmmm... Pernah berpikir, ngapain sih harus susah payah manjat gunung, ngontel sampai ke tempat yang gak mungkin kalau cuma pakai sepeda apalagi sampai nge"gembel" ke daerah orang cuma dengan budget yang sangat ringan dalam arti segala-galanya, wahaha. Entah sekedar gaya-gayaan atau bukan, tapi pas dilakuin hal-hal konyol semacam ini justru bisa bikin jadi ketagihan. Ada sesuatu yang secara tidak langsung sangat tidak ingin saya tahu malah jadi kenal betulan, sesuatu yang kita benci malah bisa jadi teman yang sangat bisa memberi timbal balik sumbangsih paling tinggi, atau hal-hal baru yang ngeluyur begitu aja ke dalam kehidupan saya. Misalnya, memaki diri sendiri saat tiba di ujung rasa lelah dan memang harusnya istirahat bukan malah dipaksain, kok bisa selemah ini ya rasanya. Tahu nggak?? Ke gunung itu jalannya terjal, ke pantai bisa ketemu ombak besar, ke danau bisa kena dingin terus badan gemetar, ke sungai apalagi arusnya gempar, ke goa gelapnya kekar, ke bukit teri...

Marno Bebal

Postingan asli (spontan) sebelum disunting ada di link dibawah https://www.facebook.com/suhronmoron/posts/1433094286705574 2016. Setelah mengakhiri (sesaat) masa perantauan di negeri ujung timur pulau Jawa, Marno Bebal kembali pulang ke rumah. Rumah disini, ia diartikan sebagai tempat darimana lahir secara fisik dan dibesarkan hingga pada usia yang benar-benar menyadari dimana ia kelak akan mengabdi. Indonesia itu terlalu luas dan ia bukanlah dewa yang bisa sekali tunjuk jadi apa yang dipinta. Dan kalau pun Marno Bebal hanya memusatkan fokus pada kampung halaman sendiri, bukan berarti ia tidak peduli dengan Indonesia. Toh, Marno Bebal juga tidak mengingkari tanah yang ia injak ini masih dalam ruang lingkup Nusantara Raya. Hmmm... Lelaki kurus berambut gondrong itu merasa, bagaimana ia bisa fokus membenahi atau paling tidak memberi  concern  pada daerah lain sedang rumahnya sendiri masih acakadul. Marno Bebal perlu pergi keluar rumah supaya bisa melihat dari jauh baga...