Langsung ke konten utama

Waktu Istirahat

Pergi keluar di malam hari sambil jalan kaki mengelilingi beberapa blok bukanlah ide yang buruk. Udara segar yang disajikan lautan bisa lebih terasa menghampiri setiap mili lapisan kulit hingga ke bagian dalam paruparu. Oksigen yang mengalir pun jadi lebih banyak yang menjernihkan peredaran darah. Nanar lampu merkuri bergantung di tiang dan suara beberapa kendaraan berlalu lalang. Pejalan kaki terlihat selalu lebih dominan tenimbang mereka yang menunggangi kudakuda besi. Sungguh lestari harmoni alam sekali. Aku dan dia sampai di sebuah taman kecil. Setelah membeli masingmasing sekaleng bir dan beberapa kudapan seperti kacang mede, kwaci dan kacang, sebuah bangku kosong sedianya diduduki secara cumacuma. 


“Kenapa kamu ga ngapai-ngapain aku pas pertama kali kita sekamar tidur bareng?”


“Terus kamu pengennya diapain?”


“Ya engga. Maksudku… you have 99% chance to.. damn what should I say, ya kenapa kamu ga raba-raba anggota badanku kek, meluk aku kek. Atau apalah.”


“Hmmmm.. jadi kamu nungguin aku ngelakuin itu?”


“Ga juga si, cuma awkward aja.”


“Itu kayanya karena tiap kamu ketemu dan memutuskan tinggal bareng sama partnermu, hal itulah yang selalu terjadi di awal. Ya kan?”


“I think so, but what happened with you? What were you thinking? What did you feel? at that night. We were easily so much close for first time, our talk was great, I wondered we could read our mind and on fire.”


“Well, I did do like what you said, but only in some cases. Ga munafik, kadang naluri hewani suka muncul tibatiba. Hanya saja, waktu itu, kayanya intimasi ternyata sudah cukup membuat seluruh aliran darahku dipenuhi dopamin.”


“Aku masih tak paham. I was thinking, damn, I hate to say.”


“What?”


“I was thinking that.. You are a “Guy”.”


Dia melemparkan raut wajahnya yang terlihat sedikit tersipu. Bersama opini yang baru saja dia ucapkan, sorot matanya juga menampakan secuil penyesalan.


“Hmmm.. kalau saat itu aku butuh sesuatu seperti yang kamu pikirkan, aku bisa pergi ke brotel dekat toko suvenir.”


“Hei, ngomong-ngomong soal musim dingin, gimana rencanamu? Sudah ada yang terpikirkan?”


Setelah menenggak satu teguk bir di kalengnya, dia melontarkan pertanyaan itu. Aku masih menikmati bagianku. Pelan. Suara tegukan di tenggorokan pun terdengar seperti seorang atlet lari di padang gurun yang baru saja menemukan oasis. Di malam yang tidak begitu berisik, suara itu sangat jelas terdengar. Dia melihat ke arahku. 


“Ahh benar-benar haus ya.”


Dalam satu tegukan barusan, aku menghabiskan hampir setengah isi kaleng. Dan aku tak menyadarinya aku sehaus itu. 


“Musim dingin ya. Bagaimana ya rasanya. Aku bahkan tak bisa membayangkannya.”


“Yang jelas kamu bisa beku.”


“Terdengar mengerikan. Aku belum pernah melihat salju dan aku sangat antusias menunggu momen itu.”


“Kamu akan menyesal ketika tahu sendiri seberapa dinginnya momen itu.”


“Kudengar, harihari terasa lebih panjang dan segalanya hanya nampak gelap dan biru.”


“Kamu akan mengetahuinya sendiri segera.”


“Bagaimana denganmu? Jadi menemui keluargamu?”


“Kalau tidak keberatan, kamu boleh ikut dan tinggal beberapa waktu disana bersamaku, gimana?”


Damn, sebuah ajakan yang frontal. Sebuah ajakan yang, dalam benakku, adalah sesuatu di level lain. Bagaimana aku menanggapi dan menyikapi hal ini. Aku merasa aku bukan lagi anak kecil yang bisa menjawab segala jenis pertanyaan tanpa berpikir panjang dan tak pernah memikirkan akibatnya. Hari ini hari lain. 


“Hanya saja, aku terpaksa harus mengantarmu ke super market terlebih dulu untuk membeli jaket bulu.”


“Ahahah.. masih banyak waktu untuk mempertimbangkannya kan?”


“Iya, gausah buruburu kasih jawaban. Kita nikmati saja dulu selama bersama disini, okey?”


Setidaknya ucapan terakhirnya bisa sedikit menenangkan. Dia kembali meneguk cairan di kalengnya. Beberapa orang bergantian lewat di jalur pejalan di depan kami. Hanya seorang, kemudian tiga orang, kemudian sepasang, keudian seorang lagi dimana tepat di belakangya ada sepasang orang tua membawa kujamin itu pasti cucunya, kemudian seorang lagi dengan anjing peliharaannya. Taman kecil ini nampak sedikit sibuk. Beberapa bangku pun terisi. Yang jelas, daun pepohonan terlihat rontok perlahan. 


“Sampai kapan kita akan begini?”


“Hah?”


Aku tak seperti seorang yang sedang memperjuangkan sesuatu. Bisa bersamanya tanpa harus bersusah payah. Sejauh ini, ada hal yang membosankan, entah dariku sendiri atau darinya. Namun masih tetap bertahan bersama. Tanpa status tapi aku dan dia tinggal bersama, juga tidur bersama. Dunia yang aneh. Tapi kujalani juga. Aku sepertinya mulai menyukainya, hanya saja gengsi masih menjadi tembok tebal untuk mengaku di depannya. Aku mulai berpikir, kalau aku melakukannya, aku bakal kehilangan momen ini sekaligus dirinya. 


“Aku senang bisa bersamamu sejauh ini. Hanya saja, aku mulai berpikir, akankah kita bisa menghabiskan sisa waktu yang ada untuk bersama?”


“Kamu terlalu melankoli juga ya sebagai seorang pria.”


“Hmm…” aku menatap ke arah wajahnya yang terlihat rileks dan menguasai medan perang.


“Aku juga merasakan hal yang sama. Jadi tolong, jangan sampai kau merusaknya ya. Soal berapa lama, mari kita cari tahu bersama. Bukankah kita tidak sedang belajar matematika atau fisika, yakan?”


Sebuah pernyataan terbuka yang tegas. Selayaknya petir yang menemani hujan deras. Pikiranku mendadak tenang. Aku meraih dan memeluknya menggunakan tangan kiriku. 


“Aku menyukai salju meski belum pernah menyentuhnya secara langsung, tapi kujamin, aku benci betapa dinginnya harihari di musim itu.”


Ada banyak manusia di luar sana yang mengalami nasib baik dan nasib buruk tiap waktu. Kadang, aku hanya tak harus memperdulikannya, namun bersyukur bisa menyaksikan dua perbedaan itu dan belajar darinya. Ada hal yang mengganggu kepalaku. Pertanyaan “ada apa sebenarnya yang terjadi padaku saat ini” selalu menyerupai rumput liar berduri yang kuhindari saat menapaki perjalanan ini. Sial. Aku tak pernah merencanakannya. Aku selalu lari dari satu ke yang lain, dan selalu berlari. Sampai lupa kalau ada lelah yang sedang menemani.


“Angin mulai terasa kencang, ayo balik.”


“Yaap.. waktunya istirahat.”





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...