Langsung ke konten utama

Menjelang Malam dan Pasta Hangat

Malam musim panas terasa sejuk. Angin pantai sengaja dibiarkan masuk melalui daun jendela. Kain gordyn bersibak pelan menggurai bayangan menarinari.


“Apa yang sedang kamu lakukan? Ada kerjaan ya?”


“Nope, nothing. Just small thing I should send to my client. Rada telat si, aku lupa soal beda timezone. Jadi rada panik sedikit.” Aku menoleh ke arahnya, melempar sebuah senyum buatan untuk meyakinkan kalau semua baikbaik saja.


“But,… you don’t look like you. Sesuatu terjadi?”


“Ya, sudah terjadi.” Haha, aku masih menguasai diriku sendiri meskipun ada hal yang bermasalah.


“If I could recommend, I suggest you to get shower and refresh your mind. You look so messed up.”


“Thank you, a lil bit more kok. Jadi apa rencanamu di musim dingin nanti?”


“Hmmm apa ya? Yang jelas aku tidak akan pergi ke supermarket untuk membeli jaket bulu angsa. Kamu tahu pasti soal itu.”


Obrolan terjeda ketika sebuah pesan surel masuk di kotak milisku. Dia bergegas ke dapur begitu mengetahui aku melanjutkan kerjaanku. Ruangan kamar hampir selalu dibiarkan redup, jadi hanya ada sedikit cahaya lampu latar menyinari setiap sudut ruangan. Secangkir kopi disamping laptopku sudah hampir dingin total. Kusesap beberapa kali hingga menyisakan sedikit air dan ampas kecoklatannya. Problem solved. Untungnya klienku masih bisa menoleransi keteledoranku soal perbedaan waktu. Ya, justru semakin lama aku menetap disini, semakin aku lupa dengan perbedaan waktu di kota kecilku nan jauh. Jangankan kegiatan kerjaan, kadang aku juga suka lupa waktu ketika melakukan panggilan telepon ke mamaku. Aku selalu berpikir masih berada di zona waktu yang sama. Jadi beberapa kali mamaku protes tiap kali telepon. “Kamu ini, jam berapa sekarang baru telepon mama.” Tapi bagaimanapun, mamaku hanya sekedar protes. Aku tahu didalam hatinya tetap menerima jam berapapun di hubungi. Aku bukan anak yang baik, hanya meneleponnya seminggu sekali. Tapi masih mending, karena mamaku tidak pernah menghubungiku lebih dulu sama sekali sejauh ini. Haha. Bukan, bukan karena blio tidak menyayangiku, itu karena blio tidak tahu cara menggunakan gawai masa kini. Jadi maklumlah hanya bisa membuka atau menerima panggilan. Sudah pernah kuajari, tapi dasar orangnya gamau ribet, jadilah aku yang ribet kalau ada apaapa.


Aku menaruh kaos kotorku diatas mesin cuci lalu mengambil handuk. Sarannya tidak buruk juga. Hampir seharian aku berkelahi dengan ide dan referensi klien labil, dan deadline yang hampir kulupa. 


Dia sibuk di dapur, entah apa yang sedang dia buat. Aku belum sempat melihatnya. Inilah yang terjadi selama kita tinggal bersama. Kegiatan domestik selalu dilakukan bergantian tanpa paksaan, bahkan sesekali duakali bersama kita buat dapur super berantakan dengan mencoba resep dari akun chef di Yutub. Mungkin sejauh ini, itulah hal paling mendasar yang membuat kita saling bertahan bersama. Dia tak menggangguku ketika ada kerjaan yang harus kuselesaikan, juga sebaliknya. Jika dia sedang membaca buku favoritnya, aku mencoba untuk mencari kesibukan lain dan menghindari mengganggunya atau bahkan hanya untuk memberi pertanyaan kecil. Dia tak pernah komplen meski lebih sering kumasakkan salad dan telor dadar. Aku juga tak pernah marah ketika dia memasak terlalu banyak bumbu sehingga membuat makanannya terasa membuat seuruh isi perutku ingin meledak. Air dingin selalu berhasil membuat badan menjadi terasa lebih segar lagi. Aku tak peduli dengan teori tentang menghemat air bersih. 


“Hey, look Mr. Superbusy is now back looking so damn great.”


“You talk tooooo much. You must be so hungry, pretty.


“Ish, genit!”


“Siapa duluan yang genitin, huh.”


“Sini bantu aku cicipin pasta ala Chef Vasilisa Vetrova.”


“Siapa tuh?”


“Ahaha. Ayok sini ah cobain. don’t blame me if this burn your belly yak.”


Dia menyodorkan sepiring kecil berisi pasta dan saus tomat merah beraroma lada dan cabai kuat yang masih menguarkan asap. 


“Smell so familiar, where did you get the spices?”


“Ada di toko, kita saja yang terlalu malas sehingga luput tak pernah menyadarinya selama ini.”


“Whoaa.. too busy to get lost ya.” Haha


“Aku mau balik pas musim dingin, what do you think? I miss my family.”


Aku yang sedang meniup sesendok pasta tibatiba berhenti dan menatap ke arahnya. Seperti seorang backpacker yang kebingungan arahnya. Terihat jelas wajahku seperti seorang bodoh. 


“That’s not bad idea. Christmast is always great with family, iya kan?” Aku mencoba menutupi apa yang baru saja kurasakan.


“Do you wanna come?”


“I am not sure.” 


“My mother asked about you on a phone call.”


Gila. Baru kali ini grogi mendekap seluruh pikiran setelah sekian lama. Isi kepalaku seperti seplastik siomay yang jatuh berhamburan dengan saus kacangnya yang kental. 


“Sorry, is it shocking you?”


Ya, tentu. Dalam hatiku. Tidak. Bukan soal dia bercerita tentangku pada ibunya. Bagian itu aku tak pernah mempermasalahkannya. Yang menggangguku ialah, aku berpikir bahwa masamasa seperti ini akan cepat berakhir. Aku juga menceritakan tentangnya pada mamaku, bahkan sesekali dia ikut hadir saat kutelpon mamaku. Sekali lagi, yang menggangguku ialah, aku merasa kita sudah settled down dan tak perlu pergi kemanamana lagi. Cukup egois memang. Sangat egois! Itulah aku. Aku hanya diam ketika dia melontarkan sebuah pertanyaan. 


“You know… the taste is so so so so much delicioussh! I love it.”


Begitulah kemudian yang keluar dari mulutku ketika menandaskan satu sendok pasta hangat. Benar. Masakannya memang selalu lezat. Kalau tidak lezat, itu biasanya ada campur tanganku dalam menuangkan bumbu saat dia masak. 


“Hi, bagaimana dengan rencana musim dinginmu? Wanna come with me? Or do you have any plan?”


“Let see. You cook good, what if your mother cook. I think trying one piece her cake is not bad idea.”


“Hmmm.. don’t ever try flirt my mom ya.. or I’ll kill you with a cake knife then.”


Kita berdua ngakak mendengar sederet kalimatnya itu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...