Di suatu sore, seorang teman bercerita padaku tentang kapas. Dia ingin sekali menjadi ringan seperti benda itu. Aku bisa mengerti kenapa. Masalah perceraian keluarga dengan adik-adiknya yang masih kecil (sebenarnya tak pantas aku ceritakan, berhubung tak kusebut namanya, jadi kuharap tak apa dan diapun aku yakin bisa mengerti), masalah asmaranya tak kalah belepotan, pacarnya kepergok sedang makan dengan lelaki lain yang awalnya diakuinya teman kerjanya namun lambat laun memang ada main, masalah keuangan (inimah dompetku juga si haha) dan terakhir yang kutahu dia juga sedang mentok dalam menulis thesisnya. Sungguh berat memang. Pantas saja kapas menjadi rujukan hidupnya. Tapi hanyalah benda yang bergantung pada musim dan sesuatu yang lain. Kapas mungkin dapat terbang tertiup angin kemanapun, jauh dekat, melayang atau tergeletak. Sayangnya menjadi bila terkena air atau dilahap api, bila tak lepek ya bisa jadi abu seutuhnya. Kapas tak berpikir. Kapas tak bisa bergerak sendiri sekalipun ia ringan seringan-ringannya tanpa ada tandingan. Hanya saja ini ialah masalah sudut pandang, jika aku sedang dalam posisinya mungkin aku juga akan berpikir sama. Jadi apapun, sebaiknya ya jadi diri sendiri dalam keadaan apapun. Bukankah benar yang sering dibicarakan orang bahwa badai selalu berlalu meski kadang datang kembali? Bukankah musim baik bagi petani juga membutuhkan cukup mendung dan hujan untuk menghidupi tumbuhan yang mereka pelihara?
Meneguk secangkir teh sungguh syahdu betul memang. Sayangnya teh disini terasa sangat hambar sekali. Sekalipun tampilannya anggun dengan cangkir kecil nan manis, namun begitu mendarat di lidah tak ada aroma nikmat secuil pun. Layaknya sedang meneguk secangkir air mineral yang dijerang hingga mendidih, hanya warnanya saja yang berbeda. Aku lebih menyukai teh asal negeri Tiongkok. Pagi sudah nampak jelas benar. Matahari bahkan sudah gagah bertengger di langit timur. Namun hangatnya dianulir oleh pendingin ruangan. Cukup cahayanya saja yang berhasil menerobos masuk ke beberapa sudut tempat kita menetap untuk beberapa saat ini. Aku melihat jam tangan dengan angka dijitalnya yang menyala begitu satu gerakan menyentuhnya. Menunjukan angka enam lebih tujuhbelas. Aku menatap ke arahnya yang masih tertidur pulas. Damai sekali. Aku jadi ingat tentang satu kalimat panjang dalam obrolan sebelum tidur semalam.
“Namanya juga menetap, kamu harus siap dengan kebosanan yang akan jadi tamu dadakanmu setiap waktu. Dan saat itu tiba, kamu hanya perlu berdua dengan secangkir teh atau kopi dan duduk di beranda, menyaksikan ingatanmu tentang perjuangan yang selama ini sudah kamu lakukan untuk menetap itu. Menyesapnya pelan-pelan. Tapi ingat, dengan memutuskan untuk menetap juga, kamu seperti sedang menancapkan sebuah tiang pancang yang akarnya terus menjadi lebat mengikuti waktu. Di tempatmu pasti ada juga pepatah semakin tinggi pohon semakin kencang angin menghela iya kan?”
Saat aku masih diam tertegun oleh ekspresi lelapnya, saat itu juga dia terbangun, seperti ada sesuatu yang memberitahunya kalau dirinya sedang diperhatikan oleh orang lain, olehku.
“Ada apa?” katanya belum benar-benar sadar.
Tapi aku melongo begitu dia melontarkan kata-kata. Aku tak mengerti apa yang terjadi. Aku menghindar dan membuang tatapanku dengan mengambil gelas yang berisi air di meja, lalu meneguknya, seperti pada pagi-pagi sebelumnya.
“Hei, sebenarnya, bagimu, butuh berapa lama si untuk bisa mempercayai seseorang?”
Dia melongo ketika kuberi sebuah pertanyaan. Aku yakin kelopak matanya saja masih berat untuk dibuka, apalagi memberi jawaban padaku.
“Satu hari?”
Pertanyaan lain terlontar begitu saja dari mulutku, padahal perasaan, aku tidak pernah memikirkannya.
“Satu Minggu? Satu tahun?”
Kalimat dengan tanda tanya itu tak terkontrol saling susun satu sama lain dan keluar begitu saja bagai seorang pendosa yang yak menyadari kesalahannya.
“Kamu kenapa sih? Sini peluk aku dulu.” Dia membuka kedua tangannya, mendekat dan seperti sedang membiarkan seorang anak kecil meraih lalu mendekap ke pelukannya. Dan aku masih yakin kedua kelopak matanya masih berat untuk terbuka sepenuhnya. Muka dan rambutnya nampak kusut betul.
“Ga perlu dijawab deh, aku lagi ngaco kayaknya. Sedang butuh semacam teh atau kopi mungkin.”
“Ayo!! Mau!!!!” Dia memberikan tatapan matanya layaknya lampu yang baru saja dinyalakan, juga masih berbaring disampingnya.
Badannya terasa hangat sekali. Panas. Sepertinya dia terserang demam.
“Are you okay?” tanyaku.
“Iya, aku baik-baik saja. Kenapa?”
“Sepertinya kamu kurang fit hari ini. Menurutku.”
“Sok perhatian kamu nih. Mau kemana kita hari ini?”
“Asal kamu sehat, kemana saja ga jadi masalah buatku.”
“Alexandria? Machu Pichu? Petra? atau?”
“Ke Sirius?”
“Jauh banget si!”
“Berani ga?”
“Asal ada kamu, ayo!!”
“Ngopi aja dulu yu? Mau ga?”
“Dimana!”
Di samping penginapan, ada sebuah rumah besar yang digunakan sebagai hotel. Kadang, kalau malas mengacak-acak dapur, kita selalu pergi kesana untuk mendapatkan sarapan. Dan pagi ini kita pergi kesana. Setelah beberapa minggu tinggal bersama, aku jadi semakin tahu kebiasaan makannya. Piring dengan isian minimalis seperti cuma kentang goreng dipadu salad dan teh di pagi hari, siang hari setelah bersamaku kini dia rutin makan telur rebus diselingi salad lagi dan saat menjelang malam dia sekarang ketagihan ikan bakar! (ketagihan!!!). Aku dan dia bukan pemabuk, tapi hampir tiap malam sekaleng bir selalu menemani.
Pemilik rumah kita makan ialah seorang perempuan tua bertubuh gempal dan rambut pirang seleher. Entahlah kenapa, setiap kita berkunjung ke tempatnya, yang awalnya kita cuma duduk berdua, tiba-tiba dia selalu datang dan duduk di kursi di meja makan sebelah. Aku tak mengerti maksudnya apa. Mungkin ingin lebih dekat dengan pelanggan, namun justru malah bikin risih. Dan gadis yang duduk bersamaku juga menyadari kehadiran si perempuan itu mengganggu. Perempuan berkacamata tebal dengan setelan celana tiga perempat itu mencoba menyap kita. Dan kita hanya membalas seadanya.
Beruntung makanannya murah dan lumayan lezat, jadi kita masih mempertimbangkan tempat ini meski ada sesuatu yang ganjil dengan perlakuan si nyonya. Tempo hari aku bertemu dengan salah seorang pekerjanya disebuah toko, kami mengobrol sebentar dan dia memberitahuku kalau bosnya memang sedikit mengalami sakit di dalam kepalanya. Itu artinya kalau si nyonya tua mentalnya terganggu.
“Dia selalu berpikir memiliki banyak tamu, jadi kami pekerjanya didorong untuk belerja dan bekerja terus, padahal semua pekerjaan sudah rampung. Aku yang harusnya ngurus kamar jadinya malah diminta ngurus kebun dan taman yang mana bukan bidangku. Dia pandai bergurau, sayangnya aku tak mengerti candaannya itu. Intinya, orang-orang yang bekerja disana, bekerja seperti sedang ada 100 tamu menginap sibuknya, padahal 1 tamu pun tak ada.”
“Separah itu ya?”
“Dia menganggap semua tamu orang sini jorok dan kotor sekali ketika menginap, tapi dia lupa dia juga orang sini. Dan aku membersihkan kamarnya hampir setiap hari, Anda tahu seberapa kotor dan joroknya? Ah… Aku tidak tega menceritakannya, aku takut Anda kehilangan selera makan setelah mendengarnya.”
“Anda semangat terus ya bekerja disana! Makan yang banyak juga!” saranku saat ketika hendak pergi dari toko.
“Bagaimana bisa makan banyak? Dia makan ayam dan kita, pekerjanya, makan kacang dan roti sisa kemarin.”
“Tapi aku terap bertahan karena aku butuh uang.” lanjutnya.
“Semoga nasib baik segera menghampiri Anda, lain kali kita bisa bicara lagi.” aku mencoba menutup obrolan.
Setelah kubeli beberapa bar coklat dan sekotak satu liter susu, aku balik ke penginapan. Kuceritakan semua padanya.
“Ya, kadang orang lebih suka menjadi bagi dirinya sendiri.” Katanya.
Siang itu akhirnya aku dan dia menikmati secangkir kopi susu dan beberapa kudapan kecil. Dia asik dan sibuk melanjutkan novel bacaannya. Aku menutup kedua teingaku dengan earphone lalu mendengarkan musik di sampingnya. Hingga tak sadarkan diri aku terlelap. Dan bangun ketika hari beranjak senja. Dia juga tertidur disampingku. Atau memang dia memutuskan untuk tidur. Novel yang dia baca diletakan di meja.
Komentar
Posting Komentar