Langsung ke konten utama

Ada Saja

Kamu tak akan tertarik denganku bagaimanapun keadaanya. Itu tak mengapa. Dan aku akan tetap baik-baik saja, padahal ya tidak juga. Yang jelas akan terlihat baik-baik saja seperti tak terjadi apa-apa. Bukankah terlihat lemah dimata wanita itu sungguh hal memalukan, walaupun mencoba menghadapi kenyataan yang pahit juga aku tidak begitu kuat-kuat amat. Aku akan tetap baik-baik saja sama seperti dirimu yang juga tidak apa-apa itu. Kamu punya tujuan. Begitu pun aku. Meskipun keadaan ini makin hari makin menyebalkan, aku coba bertahan dan menganggap tidak ada hal besar yang menimpaku. Kuakui aku pernah bersembunyi dari situasi ini, tapi aku tidak lari. Tapi kamu yang pergi, bagaimanapun juga aku tidak berhak menahan kepergian seseorang, persis saat seperti kehadirannya. Petuah bijak pun pernah dengan lantang dan nyaring bersenandung, yang datang biarkan datang, yang tinggal biarkan tinggal, yang pergi biarkan pergi. Sebagaimana mestinya. Siang itu awan mendung di akhir Oktober menggantung di langit sepanjang hari. Namun jadwal ketemuanku dengan seorang teman tetap akan berlangsung. Aku bergegas ke kamar mandi sesaat setelah adzan maghrib berkumandang.


***


"Akhir-akhir ini aku jadi sering mikir, bahwa cuma ada satu lingkar kecil didalam hidupku yang berhak membahas soal kapan aku akan menikah."


"Begitu ya."


"Ya, pertanyaan seperti itu lebih pantas ditanyakan oleh kedua orang tuaku sendiri, pikirku, meskipun diseumuranku hal ini tentu bisa saja mendadak menjadi sebuah badai dahsyat di dalam kepala."


"Itu kan sudut pandangmu. Masyarakat sosial kita kan hal lain lagi."


"Memang unik, hidup di tengah masyarakat yang terlalu perhatian dengan kehidupan orang lain. Kebanyakan menyerupai hakim tuhan yang hanya menilai dan memberi perhitungan tenimbang menenangkan."


"Ya itu karena beberapa dari orang-orang yang kamu maksud itu, baru bisa bahagia ketika melihat orang lain menderita. Itulah kenapa aku ngga bisa sepenuhnya setuju dengan pendapatmu."


"Iya kamu ngga perlu manggut-manggut terus sama opiniku yang bisa saja salah."


"Baiklah."


"Oya, belakangan, aku juga jadi sering lebih lama memperhatikan wajah-wajah orang yang melintas di depanku. Aku tidak bermaksud memperhatikan sebenarnya."


"Terus, apa yang kamu lihat?"


"Banyak, terlampau banyak malah. Wajah-wajah kusut penuh dengan tagihan akhir bulan. Wajah-wajah yang mendamba liburan. Wajah-wajah yang kering kasih sayang. Ahhh banyak deh."


"Kamu kaya lagi bikin lirik lagu aja. Ahahah."


Suasana hening. Keduanya menikmati sajian di meja. Udang goreng, cumi bakar, kepiting balado, salad buah dan ikan bakar baramundi segar terpampang. Keramaian di warung seolah senyap seketika saat keduanya benar-benar menikmati seluruh hidangan yang masih panas. Tangan dan mulut keduanya sibuk sekali meladeni olaham hasil laut. Bahkan sekali duakali lalu lalang orang pun hanya terlihat sebagai pelengkap di pelataran terbuka warung makan di Gatsu itu.


"Kamu terlihat cantik banget malam ini." ucap si lelaki. Ia pikir kalimat itu hanya terdengar di dalam hatinya saja, tapi ternyata bibirnya telah lepas kontrol dan dengan suara yang mudah di dengar oleh sepasang daun telinga seorang gadis di sampingnya, bukan hanya telinganya, tetapi di tempat lain juga. Tempat yang dalam.


Si gadis melongo sejenak, berhenti mengunyah daging capit kepiting dan memberi tatapan serius ke muka si lelaki, disampingnya.



"Ah apaan si kamu nih. Kan tiap hari juga aku mah cantik gini." Dengan sok percaya diri si perempuan membalas, padahal pipinya tambah merah, untunglah malam hari jadi tak begitu nampak.


Suasana kembali hening. Keduanya kehilangan kata-kata, atau entah sedang memikirkam sesuatu, yang jelas tangan dan kedua mulut sepasang muda-mudi itu masih sibuk mengais daging udang besar. Hidangan itu yang terakhir yang tersisa di meja. 


"Makasih ya." ucap si perempuan seh benar-benar menandaskan makanan di tangannya.


"Buat??"


"Udah ngajak nyobain makanan enak ini."


"Kirain buat apa."


"Ya makasih kamu ngajakin aku nyobain bunuh diri." Ahahaha


"Ngawur."


"Oya, gimana tulisanmu? Sudah sampai mana?"


"Gatau ni sampai mana. Hehe. Lagi ga fokus. Dilanjutin berantakan, didiemin makin ga karuan. Isi kepalaku larinya lebih cepet dari jari-jariku. Jadi banyak yang belum ketulis sudah keburu ngilang duluan."


"Oh gitu ya. Semangat ya, kamu pasti bisa."


"Tenang aja. Semangat terus kok."


"Aku udah ga sabar si baca cerita lengkapnya gimana.. tapi kalo kamu lagi cape pikiran, ya istirahat dulu lah, ga harus semua selesai sekarang juga kan?"


"Tumben banget kamu cerdas gitu."


Keduanya tertawa bersamaan tanpa rencana.


"Efek makan seafoodkali ya."


Komentar

  1. Penggemar ke 100....11 Februari 2021 pukul 01.06

    Di tunggu tulisan-tulisan dan cerita-cerita nya ....

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...