“I don’t know what I’ll be. One day, I
will build a house next to sea... or above the cliff. Who knows?.” Mengutip sedikit sebuah lagu
yang belakangan ini lumayan sering kudengar dari sebuah radio. Ya aku
menambahinya sedikit di bagian belakang lirik itu.
Entah suatu hari nanti kalian atau kamu akan menyebutnya apa. Kejadian ini.
Aku selalu berharap dan berusaha untuk menjadi manusia berhasil seperti rencana
matang yang lainnya. Aku berharap bisa melewati semua dengan mudah dan mestipun
nyatanya tidak, berhasil melawan keadaan ataupun ego yang selalu menekan setiap
saat. Namun ternyata aku tak seberani itu rupanya. Nyatanya, aku hanya manusia
biasa saja bukan superhero gagah yang
bisa melakukan segala hal untuk membantu orang lain. Dan sepertinya tak ingin menjadi
luar biasa. Aku terlalu pasrah dengan keadaan.
Aku berharap, sangat sekali berharap, malam ini akan ada sebuah bintang
yang jatuh dari langit, lalu melesat tepat mengenai batang kepalaku hingga
seluruhnya semrawut pecah berhaburan hingga seluruh isinya berceceran
kemana-mana. Hingga tak ada lagi batok bulat yang tersisa. Aku benci hidup. Aku
benci kamu. Aku benci diriku sendiri. Aku tahu kamu tak akan tertarik dengan
keadaanku, itu pasti. Kamu tak akan tertarik denganku bagaimana pun keadaannya.
Itu tak mengapa. Dan sebenarnya tak apa. Aku baik-baik saja, padahal tidak.
Hidupmu punya tujuan, pula hidupku. Dan tujuanku memang bukan untuk menarik
kehidupanmu ke arahku. Bukan juga untuk menarik perhatianmu apalagi perhatian
dunia yang begitu besar itu, siapalah aku. Biar saja aku hanyut dan tenggelam
dengan arus yang kupilih sendiri. Tanpa susah payah merepotkan siapapun, bukan
begitu baiknya kan? Kamu pun tak akan terganggu. Ah sial, bila saja kumulai
semua lebih awal, lebih dulu dan lebih sadar, aku tak akan seperti ini
sekarang. Kamu tak akan seperti itu sekarang. Penyesalan selalu terjadi di
akhir, belakangan. Mana bisa tahu lebih dulu kalau begitu. Pada akhirnya, kita
tak pernah menjangkau apa-apa. Kita tak pernah kemana-mana. Pada akhirnya kita
tak pernah benar-benar menjangkau masa depan. Kita terjebak di hari ini, selalu
disini. Hari yang dihasilkan oleh apa yang kita kerjakan kemarin, bahkan jika
kita tidak melakukan apa-apa kemarin. Jaring-jaring waktu tak kasat mata
memanipulasi penyesalan demi penyesalan. Bila saja kusempat cepat-cepat
menyadarinya. Maaf, bila aku lebih sering buatmu susah. Pada akhirnya kesepian
ini balik lagi mendekatiku dengan cepat, seperti sebuah perjumpaan dengan
seorang kawan lama. Dan keadaan menjadi semakin menyebalkan.
Di sekolah, semisal ada seorang tokoh yang begitu dikagumi oleh banyak
perempuan dan menjadi bahan cibiran para siswa, di sisi lain akan ada tokoh
yang direndahkan dan jadi bahan pengasingan. Tokoh-tokoh yang selama dibangun
oleh media dan film dimana-mana. Sedang aku, bukan siapa-siapa, jika di
film-film remaja sekolah selalu ada dua kutub berlawanan, tokoh keren dan tokoh
super duper cupu, maka aku berada tidak di keduanya. Aku sosok lain yang...
tidak berafiliasi ke kedua kutub menyebalkan tersebut. Aku berada jauh di sudut
lain tokoh-tokoh itu. Jauh lebih biasa daripada tokoh cameo bahkan. Aku tak
terlihat. Tak seorang pun tahu keberadaanku. Aku bukan tokoh korban bullying pun sebagai pelakunya. Aku
bukan tokoh cerdas maupun bodoh. Aku bukan tokoh tampan ataupun jelek secara
fisik.
Aku hanya seorang manusia gagal. Tak ada capaian yang memuaskan
sekelilingku. Aku merasa hidup bukan untukku. Aku terlalu sibuk membangun
diriku atas kemauan orang lain. Aku tidak menyukainya, tapi entah kenapa aku
melakukannya terus menerus secara tak sadar. Ketika aku coba berusaha hidup
menjadi diriku sendiri, aku kembali tak terlihat. Dan itu membuatku baik-baik
saja. Aku menyukainya. Tapi tak bertahan lama. Sesuatu yang lain selalu
memaksaku dengan hal-hal menyebalkannya.
Ibuku seorang janda, perokok keras dan kadang mabuk dengan lelaki lain di sofa
merah hati ruang tamu rumah peninggalan ayah yang mati ketika aku masih kecil.
Ia tidak mempedulikan aku. Ia tidak melihat keberadaanku. Dan anehnya aku
senang akan hal itu. Aku menjadi seperti hantu yang bisa kemana saja tanpa
perlu pamit atau memerlukan izin orang tua lebih dulu.
Aku seorang manusia gagal. Satu-satunya keberhasilan yang aku raih adalah
ketika aku berhasil menaiki sebuah meja yang kubuat sendiri dengan susah payah
hingga salah satu jemariku memar berdarah terhantam palu saat memaku. Saat aku
berhasil munggah berdiri tegak diatasnya dengan dada lapang dan bisa
menyombongkan segala hal yang kosong dan sia-sia belaka. Aku bisa merasakan
tubuhku terbang, kaki tak menyentuh tanah dan mengapung di udara yang
menyerupai kaca tembus pandang.
Beberapa hari setelah itu, ruangan dimana aku masih tegak diatas meja,
banyak orang asing datang dengan suara asing pula. Satupun aku tidak mengenali
mereka. Eh tunggu dulu, aku kenal dengan pak RT dan RW. Mereka ada disana. Aku
melihat salah seorang menutup hidung mereka dan menatap kearahku dengan penuh
keheranan. Beberapa mereka memincingkan pandangan ke arahku.
Hari itu panas merekah di langit awal musim kemarau.
“Hei, kamu tahu ngga, sinyal wi-fi yang kadang suka nongol di gawai kita.”
“Iya kenapa? Itu karena kita secara ga sengaja sudah mengatur otomatis di
pengaturan kan?”
“Ya, kamu bener. Kamu gabisa langsung akses kan kalau belum tahu kodenya?”
“Kecuali itu wi-fi yang diatur
bisa diakses oleh khalayak umum. Ya kan?” Ucap keduanya bersamaan sambil
tertawa kecil.
“Kamu sadar ngga, selama ini aku sudah bisa mengakses kehidupanmu hingga ke
segala penjuru?”
“Iya... Lalu?”
“Hmmm.. Aku tahu hubungan kita beda jauh sama teknologi akses wi-fi yang baru aja kita bicarakan tadi.
Tapi, dengan kamu sudah memberi akses kepada aku, aku harap, kamu bisa menjaga
komitmen kalau kamu ngga akan buka akses itu ke orang lain. Kamu jangan mikir
aku egois ya, tapi aku hanya ingin mastiin aja kalau hubungan kita ini ga
main-main.”
“Tumben kamu ngomongnya sampe jauh banget. Kamu lagi kepikiran apa sih
emang?”
“Ngga tau, coba tebak deh, tadi kita secara ga sengaja udah bisa keluarin
jawaban yang sama dari pikiran kita masing-masing. Mestinya sekarang bisa lebih
mudah buat kamu tahu apa yang sedang aku pikirin.”
“Hmmm...” sambil menarik nafas dalam-dalam.
“Kamu sebenarnya tahu ngga sih kita lagi ngomongin apa?”
Lelaki di sampingnya itu masih
menikmati sepiring kecil siomay yang saus kacangnya sudah meleleh
kemana-mana. Keadaan menjadi hening, padahal di taman itu beberapa orang sedang
melakukan kegiatan olahraga, seperti lari kecil.
Oya perkenalkan, ini gadis pujaanku. Dan kami
sudah menjalin hubungan selama kurang lebih tiga tahun belakangan. Kalau kamu
sering lihat iklan kecantikan dan menjadi salah satu korban bahwa fisik adalah
segalanya, perempuan di sampingku sekarang ini mendekati aktris-aktris iklan
itu. Rambut gelap lurus panjang, berbadan proporsional, bibir merah muda yang
kalau sedang senyum tingkat kemanisannya bisa nambah tidak terkira, kulit
cerah, pipi tirus dengan dengan lembut tanpa jerawat hingga sepasang mata mata
sipitnya yang tajam. Beruntung? Mungkin. Tapi aku mendapatkan hatinya bukan
karena keberuntungan semata. Ada hal-hal lain yang aku usahakan.
“Kamu ngelamun ya?”
“Eh engga ah, ini lagi nikmatin saus kacangnya. Enak banget.” Sambil ngemut
pare yang memang dibaluri saus kacang kental.
“Ah.. kan tadi aku lagi bahas hal lain. Ki, kamu sebenarnya ada niatan bawa
hubungan kita ke arah yang serius ga sih?”
“Maksud kamu?”
“Ya ketemu orang tuaku gitu sambil bawa....”
“Hampir tiap hari juga kan ketemu Ning, aku sama orang tuamu, begitu juga
sebaliknya.”
“Bukan gitu maksudnya Ki.”
“Terus? Tadi katamu apa? Bawa apa gitu?”
“Ki, makanya kalau ada orang ngomong dengerin dulu sampai selesai.”
“Kamu kok serius banget si sekarang?”
“Ki...” dengan nada sedikit meninggi yang mampu mengenyahkan lawan
bicaranya ke tengah suatu kesunyian yang rimbun dalam sesaat.
“Aku tahu maksud arah pembicaraanmu akan kemana, Ning. Tapi boleh ngga
kalau kita tidak bahas ini disini?”
“Memang pantasnya dimana dan kapan kita bahas hal ginian Ki? Kan mumpung
kita lagi ada waktu kaya gini juga, waktu buat berdua, ya buat ngobrol hal-hal
penting apa salahnya?”
Lelaki di sampingnya hanya diam. Sesaat tidak ada sambungan obrolan dari
keduanya. Suara burung cicit diatas pepohonan di sekeliling terdengar nyaring.
Hari itu cerah.
“Ning, kamu yakin bisa menerima keadaan keluargaku?”
Kali ini si perempuan yang hening. Mungki menatap wajah Nining yang baru
saja melahap satu sendok makanan di piring kecilnya. Kedua bola mata perempuan
itu melihat kosong ke arah depannya, di kejauhan ada sepasang suami istri yang
sedang mengajak buah hati mereka bermain.
“Ning...” sekali lagi lelaki di sampingnya itu mencoba menyadarkan keadaan
si perempuan yang terlihat agak kaget itu.
“Aku akan siap menerima apapun yang ada di sekelilingmu, Ki. Tapi aku ga
yakin mamaku bisa melakukan hal yang sama. Meskipun dia bisa menerimamu,
tapi..”
“Kalau begitu mari kita sama-sama coba meyakinkan mamamu itu, gimana?”
Komentar
Posting Komentar