Langsung ke konten utama

Mencoba Menerima


I don’t know what I’ll be. One day, I will build a house next to sea... or above the cliff.  Who knows?.” Mengutip sedikit sebuah lagu yang belakangan ini lumayan sering kudengar dari sebuah radio. Ya aku menambahinya sedikit di bagian belakang lirik itu.
Entah suatu hari nanti kalian atau kamu akan menyebutnya apa. Kejadian ini. Aku selalu berharap dan berusaha untuk menjadi manusia berhasil seperti rencana matang yang lainnya. Aku berharap bisa melewati semua dengan mudah dan mestipun nyatanya tidak, berhasil melawan keadaan ataupun ego yang selalu menekan setiap saat. Namun ternyata aku tak seberani itu rupanya. Nyatanya, aku hanya manusia biasa saja bukan superhero gagah yang bisa melakukan segala hal untuk membantu orang lain. Dan sepertinya tak ingin menjadi luar biasa. Aku terlalu pasrah dengan keadaan.
Aku berharap, sangat sekali berharap, malam ini akan ada sebuah bintang yang jatuh dari langit, lalu melesat tepat mengenai batang kepalaku hingga seluruhnya semrawut pecah berhaburan hingga seluruh isinya berceceran kemana-mana. Hingga tak ada lagi batok bulat yang tersisa. Aku benci hidup. Aku benci kamu. Aku benci diriku sendiri. Aku tahu kamu tak akan tertarik dengan keadaanku, itu pasti. Kamu tak akan tertarik denganku bagaimana pun keadaannya. Itu tak mengapa. Dan sebenarnya tak apa. Aku baik-baik saja, padahal tidak. Hidupmu punya tujuan, pula hidupku. Dan tujuanku memang bukan untuk menarik kehidupanmu ke arahku. Bukan juga untuk menarik perhatianmu apalagi perhatian dunia yang begitu besar itu, siapalah aku. Biar saja aku hanyut dan tenggelam dengan arus yang kupilih sendiri. Tanpa susah payah merepotkan siapapun, bukan begitu baiknya kan? Kamu pun tak akan terganggu. Ah sial, bila saja kumulai semua lebih awal, lebih dulu dan lebih sadar, aku tak akan seperti ini sekarang. Kamu tak akan seperti itu sekarang. Penyesalan selalu terjadi di akhir, belakangan. Mana bisa tahu lebih dulu kalau begitu. Pada akhirnya, kita tak pernah menjangkau apa-apa. Kita tak pernah kemana-mana. Pada akhirnya kita tak pernah benar-benar menjangkau masa depan. Kita terjebak di hari ini, selalu disini. Hari yang dihasilkan oleh apa yang kita kerjakan kemarin, bahkan jika kita tidak melakukan apa-apa kemarin. Jaring-jaring waktu tak kasat mata memanipulasi penyesalan demi penyesalan. Bila saja kusempat cepat-cepat menyadarinya. Maaf, bila aku lebih sering buatmu susah. Pada akhirnya kesepian ini balik lagi mendekatiku dengan cepat, seperti sebuah perjumpaan dengan seorang kawan lama. Dan keadaan menjadi semakin menyebalkan.
Di sekolah, semisal ada seorang tokoh yang begitu dikagumi oleh banyak perempuan dan menjadi bahan cibiran para siswa, di sisi lain akan ada tokoh yang direndahkan dan jadi bahan pengasingan. Tokoh-tokoh yang selama dibangun oleh media dan film dimana-mana. Sedang aku, bukan siapa-siapa, jika di film-film remaja sekolah selalu ada dua kutub berlawanan, tokoh keren dan tokoh super duper cupu, maka aku berada tidak di keduanya. Aku sosok lain yang... tidak berafiliasi ke kedua kutub menyebalkan tersebut. Aku berada jauh di sudut lain tokoh-tokoh itu. Jauh lebih biasa daripada tokoh cameo bahkan. Aku tak terlihat. Tak seorang pun tahu keberadaanku. Aku bukan tokoh korban bullying pun sebagai pelakunya. Aku bukan tokoh cerdas maupun bodoh. Aku bukan tokoh tampan ataupun jelek secara fisik.
Aku hanya seorang manusia gagal. Tak ada capaian yang memuaskan sekelilingku. Aku merasa hidup bukan untukku. Aku terlalu sibuk membangun diriku atas kemauan orang lain. Aku tidak menyukainya, tapi entah kenapa aku melakukannya terus menerus secara tak sadar. Ketika aku coba berusaha hidup menjadi diriku sendiri, aku kembali tak terlihat. Dan itu membuatku baik-baik saja. Aku menyukainya. Tapi tak bertahan lama. Sesuatu yang lain selalu memaksaku dengan hal-hal menyebalkannya.
Ibuku seorang janda, perokok keras dan kadang mabuk dengan lelaki lain di sofa merah hati ruang tamu rumah peninggalan ayah yang mati ketika aku masih kecil. Ia tidak mempedulikan aku. Ia tidak melihat keberadaanku. Dan anehnya aku senang akan hal itu. Aku menjadi seperti hantu yang bisa kemana saja tanpa perlu pamit atau memerlukan izin orang tua lebih dulu.
Aku seorang manusia gagal. Satu-satunya keberhasilan yang aku raih adalah ketika aku berhasil menaiki sebuah meja yang kubuat sendiri dengan susah payah hingga salah satu jemariku memar berdarah terhantam palu saat memaku. Saat aku berhasil munggah berdiri tegak diatasnya dengan dada lapang dan bisa menyombongkan segala hal yang kosong dan sia-sia belaka. Aku bisa merasakan tubuhku terbang, kaki tak menyentuh tanah dan mengapung di udara yang menyerupai kaca tembus pandang.
Beberapa hari setelah itu, ruangan dimana aku masih tegak diatas meja, banyak orang asing datang dengan suara asing pula. Satupun aku tidak mengenali mereka. Eh tunggu dulu, aku kenal dengan pak RT dan RW. Mereka ada disana. Aku melihat salah seorang menutup hidung mereka dan menatap kearahku dengan penuh keheranan. Beberapa mereka memincingkan pandangan ke arahku.
Hari itu panas merekah di langit awal musim kemarau.
“Hei, kamu tahu ngga, sinyal wi-fi  yang kadang suka nongol di gawai kita.”
“Iya kenapa? Itu karena kita secara ga sengaja sudah mengatur otomatis di pengaturan kan?”
“Ya, kamu bener. Kamu gabisa langsung akses kan kalau belum tahu kodenya?”
“Kecuali itu wi-fi yang diatur bisa diakses oleh khalayak umum. Ya kan?” Ucap keduanya bersamaan sambil tertawa kecil.
“Kamu sadar ngga, selama ini aku sudah bisa mengakses kehidupanmu hingga ke segala penjuru?”
“Iya... Lalu?”
“Hmmm.. Aku tahu hubungan kita beda jauh sama teknologi akses wi-fi yang baru aja kita bicarakan tadi. Tapi, dengan kamu sudah memberi akses kepada aku, aku harap, kamu bisa menjaga komitmen kalau kamu ngga akan buka akses itu ke orang lain. Kamu jangan mikir aku egois ya, tapi aku hanya ingin mastiin aja kalau hubungan kita ini ga main-main.”
“Tumben kamu ngomongnya sampe jauh banget. Kamu lagi kepikiran apa sih emang?”
“Ngga tau, coba tebak deh, tadi kita secara ga sengaja udah bisa keluarin jawaban yang sama dari pikiran kita masing-masing. Mestinya sekarang bisa lebih mudah buat kamu tahu apa yang sedang aku pikirin.”
“Hmmm...” sambil menarik nafas dalam-dalam.
“Kamu sebenarnya tahu ngga sih kita lagi ngomongin apa?”
Lelaki di sampingnya itu masih  menikmati sepiring kecil siomay yang saus kacangnya sudah meleleh kemana-mana. Keadaan menjadi hening, padahal di taman itu beberapa orang sedang melakukan kegiatan olahraga, seperti lari kecil.
Oya perkenalkan, ini gadis pujaanku. Dan kami sudah menjalin hubungan selama kurang lebih tiga tahun belakangan. Kalau kamu sering lihat iklan kecantikan dan menjadi salah satu korban bahwa fisik adalah segalanya, perempuan di sampingku sekarang ini mendekati aktris-aktris iklan itu. Rambut gelap lurus panjang, berbadan proporsional, bibir merah muda yang kalau sedang senyum tingkat kemanisannya bisa nambah tidak terkira, kulit cerah, pipi tirus dengan dengan lembut tanpa jerawat hingga sepasang mata mata sipitnya yang tajam. Beruntung? Mungkin. Tapi aku mendapatkan hatinya bukan karena keberuntungan semata. Ada hal-hal lain yang aku usahakan.
“Kamu ngelamun ya?”
“Eh engga ah, ini lagi nikmatin saus kacangnya. Enak banget.” Sambil ngemut pare yang memang dibaluri saus kacang kental.
“Ah.. kan tadi aku lagi bahas hal lain. Ki, kamu sebenarnya ada niatan bawa hubungan kita ke arah yang serius ga sih?”
“Maksud kamu?”
“Ya ketemu orang tuaku gitu sambil bawa....”
“Hampir tiap hari juga kan ketemu Ning, aku sama orang tuamu, begitu juga sebaliknya.”
“Bukan gitu maksudnya Ki.”
“Terus? Tadi katamu apa? Bawa apa gitu?”
“Ki, makanya kalau ada orang ngomong dengerin dulu sampai selesai.”
“Kamu kok serius banget si sekarang?”
“Ki...” dengan nada sedikit meninggi yang mampu mengenyahkan lawan bicaranya ke tengah suatu kesunyian yang rimbun dalam sesaat.
“Aku tahu maksud arah pembicaraanmu akan kemana, Ning. Tapi boleh ngga kalau kita tidak bahas ini disini?”
“Memang pantasnya dimana dan kapan kita bahas hal ginian Ki? Kan mumpung kita lagi ada waktu kaya gini juga, waktu buat berdua, ya buat ngobrol hal-hal penting apa salahnya?”
Lelaki di sampingnya hanya diam. Sesaat tidak ada sambungan obrolan dari keduanya. Suara burung cicit diatas pepohonan di sekeliling terdengar nyaring. Hari itu cerah.
“Ning, kamu yakin bisa menerima keadaan keluargaku?”
Kali ini si perempuan yang hening. Mungki menatap wajah Nining yang baru saja melahap satu sendok makanan di piring kecilnya. Kedua bola mata perempuan itu melihat kosong ke arah depannya, di kejauhan ada sepasang suami istri yang sedang mengajak buah hati mereka bermain.
“Ning...” sekali lagi lelaki di sampingnya itu mencoba menyadarkan keadaan si perempuan yang terlihat agak kaget itu.
“Aku akan siap menerima apapun yang ada di sekelilingmu, Ki. Tapi aku ga yakin mamaku bisa melakukan hal yang sama. Meskipun dia bisa menerimamu, tapi..”
“Kalau begitu mari kita sama-sama coba meyakinkan mamamu itu, gimana?”



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...