Langsung ke konten utama

Ruminih


Udara begitu pengap. Langit tak memberi sedikit pun ruang untuk cerah awan. Yang menggantung di atas sana hanya kelabu mendung, namun hujan tak kunjung turun. Angin sepertinya sedang enggan berhembus membagikan sejuknya. Dedaudan tua pohon mangga menggantung malas di ranting-ranting kurus kering, beberapa sudah terlebih dulu jatuh dan terlantar di halaman sebuah rumah.
“Si Ruminih itu menyusahkan saja. Mbok ya kalau mau kirim paket itu bilang dulu ke suaminya.” Seraya kesal sebuah ucapan dri seorang ibu yang berbadan lumayan gempal.
“Lha kan sudah titip pesan kemarin itu, Bu. Sudah disampaikan ke suami ibu juga. Pa Dirah saja mungkin kelupaan memberi tahu.” Timpal seorang pemuda.
Pak Dirah adalah ketua rukun tetangga di kampung tersebut. Berhubung suami Ruminih yang tidak memiliki telepon genggam dan sering pergi bekerja, ia akhirnya menitip pesan kalau siang itu akan ada sebuah paket untuknya kepada orang yang bisa ia percaya. Siang itu Pak Dirah juga sedang ada acara pertemuan dengan pak kades, akhirnya ia memberi mandat pada Solikin, pemuda yang selalu nurut padanya dan bisa dipercaya.
Benda yang dikeluarkan dari sebuah mobil boks terlihat seperti sebuah peti. Kotak persegi panjang itu berukuran enam kali dua meter persegi berbahan plat alumunium tebal dan kuat. Seorang dari dalam ruangan mobil boks mendorong paketan dengan penuh keringat peluh, kesusahan karena bobotnya. Sedang yang dibawahnya, di belakang pantat mobil kargo, ada enam orang masing-masing memegang gerobak pasir untuk menyanggah dan memapah kotak berwarna abu itu.
“Berat pisan, isinya apa ya?” celetuk salah seorang.
“Mayit kali ya.” Celetuk seorang lainnya.
“Hushh.. Ngawur kamu!.”
Ruminih adalah seorang tenaga kerja wanita yang sedang bekerja di Saudi Arabia. Ia sudah menghabiskan paling tidak hampir dua belas tahun hidupnya disana. Hanya sekali duakali lebaran saja ia pulang, lalu kembali ke tempat majikannya. Bagi perempuan di desa kami, pergi ke Arab, Hong Kong, Singapur, atau Taiwan, merupakan satu-satunya tempat tujuan untuk bekerja dan memperbaiki ekonomi keluarga juga menemukan hiburan baru disana.
Sementara para lelaki, lebih banyak yang tetap tinggal di kampung sebagai buruh nelayan atau petani, bebapa kuli bangunan. Meskipun akhir-akhir ini banyak juga yang lulus sekolah menengah kemudian melanjutkan pendidikan bahasa asing lalu ikut diklat kerja ke Korea atau program pemagangan ke Jepang. Alasannya jelas, karena kesempatan bekerja di negeri ini semakin hari semakin sulit betul. Apalagi bagi mereka yang hanya lulusan sekolah menengah, tanpa dibekali ketrampilan akhirnya dipenuhi tuntutan untuk lanjut ke jenjang kuliah, dan begitu lulus, pekerjaan yang mereka terima sama sekali jauh berbeda dengan jurusan ia tempuh saat di universitas. Yang hebat adalah mereka yang sekalipun lulusan sekolah dasar, berani membuka usaha dengan modal pas-pasan kemudian merekrut orang sebagai karyawan, memberi kesempatan bagi siapapun untuk ikut berkembang. Pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak selain memangkas tiap anggaran atau dana bantuan dan dibagikan kepada ormas-ormas sialan.
Kata Ruminih, majikannya disana baik sekali. Jadi sayang kalau ia tinggalkan dan kembali ke kampung halaman kalau hanya satu kali kontrak. Akan susah, kalau ia memilih untuk berhenti terlebih dahulu lalu kembali mencari majikan baru. Ia berpikir bahwa ia harus bekerja keras supaya anak-anaknya tidak mengikuti jejaknya. Ia menabung buat pendidikan dan segala kebutuhan ketiga buah hatinya. Tiap melakukan panggilan seluler dengan putri semata wayangnya, Ruminih selalu bilang ia akan segera pulang cepat atau lambat. Tiga bulan lagi, katanya. Itu paling cepat, kalau tidak ada halangan apapun dan majikannya pun sudah tentu mengijinkan. Hanya saja, tiap ucapannya yang tersambung di lajur telepon cuma obat penenang bagi putrinya dan lebih sering jadi bualan manis dari sekian ribu omong kosong, pikir putrinya.
Cutin, putri Ruminih, masih duduk di kursi kelas tiga sekolah menengah pertama. Ia tinggal di rumah bersama seorang adik laki-laki kelas enam sekolah dasar dan bapaknya yang bekerja sebagai buruh nelayan. Kakaknya, Kardi, pergi merantau ke ibukota dan jarang sekali berkabar. Tarno, suami Ruminih, lebih banyak hidup di tengah lautan tenimbang di darat. Pukul tiga dini hari ia pergi bergegas ke pelabuhan tempat perahu juragannya bersandar. Daspin, rekannya, selalu menjemput Tarno menggunakan sepeda kumbang sisa Belanda yang bagian rangkanya sudah penuh karat, hanya jeruji dan velknya yang terlihat baru dipoles perak. Mereka baru pulang menjelang tengah hari, setelah menyelesaikan semua urusan pelelangan ikan hasil tangkapan hari itu juga. Bagi Tarno, hasilnya tidak seberapa, tapi cukup untuk ditukar dengan bahan sembako dan beberapa bungkus tembakau. Baru lah kalau cuaca di laut sedang bagus dan hasil tangkapan melimpah, uang yang didapat bisa lebih dan biasanya disaat hari-hari itu terjadi, uangnya ia gunakan untuk pergi ke pasar malam membeli jajanan seperti martabak telur dan semangkuk mi pangsit untuk dimakan bersama kedua anaknya di rumah. Kadang seusai menaruh kantong-kantong ikan hasil jatahnya di rumah, Tarno pergi mencari kerja serabutan di rumah-rumah Wakaji dan tetangga, apasaja.
Cutin selalu memasak buat adiknya ketika ditinggal ayahnya bekerja. Hanya nasi putih menggunakan kompor listrik. Lauknya kadang bila bapaknya membawa satu kresek ikan, ia akan membersihkannya kemudian menggorengnya dan memakannya bersama-sama. Tidak jarang juga ia beli lauk matang di warung Yu Nani.
Nining, seorang janda beranak tiga. Tinggal di depan rumah Ruminih. Rumah Ruminih terletak persis di bokong rumah Nining. Mereka bertetanggaan. Melihat kondisi Cutin dan sang adik lelaki, sering kurang diperhatikan soal jam makan, Nining jadi iba dan ikut bersimpati dibuatnya. Karena memiliki anak-anak yang usianya sepantaran, ia merasa kasihan dan tidak berdiam diri, meski juga keluarga pas-pasan, Nining sering berbagi lauk dengan anak-anak Ruminih secara sukarela. Bukan hanya Nining, sebenarnya beberapa tetangga dekat juga melakukannya berkali-kali. Maka dari itu, kadang kalau hasil tangkapan Tarno sedang banyak, ia membagikan ikan-ikan itu kepada para tetangga. Sebagai bentuk rasa terima kasih ia melakukannya. Dan memang begitulah seharusnya hubungan timbal balik antar tetangga lazimnya. Namun lebih sering ia memberikannya pada Nining, ia yang paling dekat dan paling sering memberi buah hatinya lauk pauk bahkan sesekali uang jajan, pikir Tarno. Dan itu memang benar adanya. Bahkan suatu waktu, saat sore Tarno juga tidak sungkan untuk minta dibuatkan segelas kopi di rumah Nining. Tentu hal itu juga bukan hal yang merepotkan bagi Nining. Beberapa tetagganya sudah biasa melihat pemandangan ini ketika mereka kedapatan melewati beranda rumah Nining entah itu sehabis membeli keperluan di warung maupun saat menjemput anak-anak mereka dari sekolah. Dan tetangganya terlihat tidak memikirkan apa-apa tentang kejadian itu. Semua berjalan baik adanya, biasa saja.
Tiga bulan berikutnya, kali ini Ruminih benar-benar memenuhi seluruh ucapannya saat ditelpon putrinya. Ia pulang kampung. Hari raya sudah hampir seminggu lagi, ketika ia datang menginjakan kaki di pelataran rumahnya. Rumahnya hanya bilik bambu usang dibalut plistur kapur dicampur cat yang sudah hampir rontok dan pasti bikin was-was tidak keruan ketika diterjang angin saat tiba musim hujan. Di depan halaman rumah terdapat sebuah pohon jambu air berbuah rimbun.
Di suatu siang yang sedang merekah menumpahkan panasnya ke bumi nusantara, saat itu Kardi masih di Jakarta. Tarno juga sedang di berlabuh di pantai Subang karena laut di daerah itu sedang menghasilkan banyak ikan bagi para nelayan. Ruminih hanya disambut oleh kedua anaknya di rumah. Bajunya terlihat seperti baru keluar dari pabrik garmen, begitu turun dari mobil minibus abu-abu, pakaian yang dikenakan Ruminih warnanya kinclong menyala di terik siang tengah hari bulan Juni. Ia menjatuhkan air mata saat memeluk kedua buah hatinya. Begitu juga putra-putri Ruminih. Isak tangis mengundang kedatangan para tetangga yang penasaran ingin melihat. Para tetangga kagum melihat Ruminih yang kulitnya lebih cerah seperti muda lagi, tidak segelap saat ia masih menjadi tukang jemur ikan asin milik saudaranya di dekat pelabuhan. Kulitnya yang terhindar dari matahari negeri ini dan garam berlebih membuatnya kencang kembali seperti remaja putri beranjak dewasa. Namun keindahan pemandangan itu sedikit terganjal oleh kondisi daun pintu yang terbuat dari kayu asam, terlihat akan roboh sekali tiup.
Udara panas membuat keluarga sedang bahagia itu dipenuhi oleh rasa pengap sialan. Para tetangga sudah berkumpul di rumah Ruminih dan melakukan basa-basi seperti kumpulan ibu-ibu dimanapun pada umumnya, sembari menikmati kurma oleh-oleh dari negeri Unta yang ia beli di toko seorang keturunan Arab dekat tol saat perjalanan pulang. Mereka menyanjung tekad Ruminih dalam memperbaiki ekonomi keluarga dengan meninggalkan rumah seperti orang gila, sebenarnya arah pembicaraan para tetangga berharap supaya diberi oleh-oleh lebih dari negeri padang pasir oleh Ruminih. Begitulah tetangganya, para penjilat kelewat bangsat. Tapi tidak dengan Nining, ia justru membawakan gorengan dan rumbah urab untuk Ruminih, ia pasti sudah lama tidak menikmati makanan sekitar rumah tinggalnya, pikir Nining. Makanan kampung yang mungkin ia sangat rindukan. Perjumpaan itu berlangsung haru hingga hari menjelang sore. Tarno tiba saat siang hari menjelang dan ikut hanyut dalam suasana yang sedang terjadi itu.
Hari-hari berlalu, hari suci hari raya pun terlewati dengan begitu berkesan dan menyenangkan bagi Ruminih. Ia kembali merayakan hari agung bersama keluarganya. Pergi bersama ke peribadatan dengan suasana hiruk pikuk tetangga di sekelilingnya. Hal yang ia telah tinggalkan beberapa tahun sebelumnya. Wajah sumringah tidak bisa ia sembunyikan. Meski bangunan rumahnya masih belum diperbaiki, di meja ruang tamu yang juga ruang tidur, berbagai jenis kue ditata begitu rapi menyambut tamu yang berkunjung. Saudara dari jauh juga hadir. Hari itu sedikit mendung dan udara dari menggantung terasa sejuk. Angin berhembus dari arah tenggara membawa kibasan yang menenangkan.
Beberapa hari di rumah, ia banyak menemukan segala sesuatunya telah berubah dan merasa pangling terhadap sesuatu yang dilihatnya. Ruminih kembali beraktifitas sebagaimana ibu rumah tangga yang tinggal dan hidup di kolong kampung seperti seharusnya ia dibesarkan oleh orang tuanya. Ia mengurus segala kebutuhan domestik. Kardi yang mudik untuk menyempatkan diri mengambil cuti sebentar, setelah beberapa malam sebelumnya menghabiskan hampir seluruh tabungannya untuk meneguk ciu murahan yang dibeli di kios Kaji Darso bersama kawan-kawannya merayakan malam takbiran, kini sudah kembali merantau ke ibukota. Jadi Ruminih hanya sibuk mengurusi tiga orang di rumah. Ia memasak hidangan untuk Cutin dan adiknya, juga suaminya, Tarno sang kekasih.
Di hari yang tenang, masalah mulai muncul. Setelah berbaur kembali dengan tetangga sekitar, Ruminih disesaki perasaan sumuk yang tidak jelas dari mana datangnya. Hal ini ketika  setiap kali melakukan obrolan, orang-orang sekitar selalu dipenuhi oleh sebutan nama Nining dan suaminya. Belum lagi saat kedua anaknya kurang menyukai masakannya. Hal ini mungkin disebabkan oleh tangannya yang sudah terbiasa membuat masakan di timur tengah dan sudah lama sekali tidak memasak masakan nusantara dengan bumbu asli nusantara, terutama masakan rumah saat ia belum menjadi seorang tenaga kerja wanita di padang Arab sana. Terlalu asin, kebanyakan gula, kok dikasih bawang putih, dan masih banyak lagi segudang keluhan dari lidah anak Ruminih. Yang lebih menyakitkan adalah ketika anaknya meminta dibuatkan sayur sup yang biasa dibuat oleh Nining, serasa seolah ada tamparan keras menggunakan wajan panas di wajahnya. Tapi waktu itu ia masih bisa mengontrol diri dan mampu mengendalikan emosi. Akhirnya, ia pun memberanikan diri meminta diajari oleh Nining dengan mengunjungi rumahnya. Nining tentu dengan senang hati membantu Ruminih tanpa pikir panjang. Mereka pergi ke pasar bareng esok harinya, membeli semua bahan yang dibutuhkan. Kemudian mereka juga mengiris wortel, memotong kentang, kol dan daging dan menyiapkan bumubu yang diperlukan bersama di rumah Nining. Keduanya terlihat akrab sekali. Seperti sudah menjadi sahabat sedari kecil, padahal mereka baru bertemu dan kenalan ketika Tarno meminang Ruminih yang seorang warga dari desa kecamatan sebelah. Hari itu juga kebetulan Ruminih sedang mempunyai kuli yang sedang mulai merobohkan rumah lamanya untuk dibangun rumah baru. Dengan membabat habis pohon jambu air, tidak tanggung-tanggung, rumah yang akan dibangun berukuran duakalilipat dari rumahnya yang sekarang. Betapa hal ini menandakan kesuksesannya selama merantau di negeri orang yang akhirnya membuatnya menjadi buah bibir di kampungnya. Maklum di kampung, saat itu jarang sekali warga yang bisa membangun rumah cukup besar kalau bukan keturunan Wakaji yang punya sawah berhektar-hektar atau mempunyai perahu untuk menjaring hasil laut.
Pagi itu masih pagi betul. Matahari cerah mulai merangkak naik ke langit di sisi timur. Angin kecil berhembus menyibak rimbun daun pohon mangga yang ada di depan rumah Nining. Namun bagi Nining, seketika pagi itu seperti mendengar suara guntur menggelegar sejadi-jadinya tepat di kedua lubang daun telinganya yang membuat seluruh jiwa raganya terhenyak oleh sesuatu.
“Ning, ira kuh meneng-meneng gah delengane seneng ya ning lakine kita?” meskipun kalimat itu terlontar dengan santai, namun bagi Nining, deras ucap Ruminih kepada perempuan di hadapannya itu bagai halilintar menyambar, dimana di waktu yang bersamaan, salah satu jari jemari Nining tidak sengaja teriris oleh pisau yang sedang ia gunakan untuk memotong wortel. Nining kaget oleh sederet kalimat yang diucapkan Ruminih. Segalanya menjadi mendadak bisu, kecuali lentikan suara kayu bakar di dalam tungku.
Udara begitu pengap hasil dari asap di tungku pembakaran membuat kelopak mata perih hingga bisa membuat siapapun didekatnya bisa meneteskan air. Cahaya matahari masuk menerobos celah-celah anyaman bambu yang digunakan sebagai dinding rumah.
Hari itu masih pagi betul, anak-anak sekolah sedang bergerombol menuju tempat mereka belajar. Hari terlihat cerah di awal bulan September yang lembab. Nining belum berkata apa-apa tapi ada rembesan air yang bocor dari kedua kelopak matanya. Ada darah yang bocor juga di salah satu jari kirinya. Ada perasaan yang bocor juga di sela-sela dadanya seperti sehabis dikokang ujung bara kayu bakar yang diambil dari bawah tungku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...