Hari masih pagi. Senyum mentari hangatkan
bumi. Burung-burung kecil singgah di ranting pepohanan halaman sekolah.
Beberapa anak kecil sedang bermain berlarian di taman.
Diantara teman-teman, aku memiliki ciri
mencolok dan paling mudah dikenali. Aku bisa dibilang gampang ditemukan bila
sedang berkumpul dengan kawan-kawan. Tubuhku lebih besar daripada anak-anak
pada umumnya. Untuk seumuranku, badanku termasuk yang paling besar. Orang-orang
mudah menyebutnya dengan kata gemuk. Dengan kondisi seperti ini tentu gerak
kinetis fisikku terbatas. Kecepatan yang terbebani bobot tidak ringan
menghasilkan tingkat kelihaian yang rendah. Apalagi saat mata pelajaran
olahraga tiba, waktu seolah menunjukan kekejamannya menghukumku atas kesalahan
yang ukuran badanku perbuat. Untuk itulah aku tidak pandai saat bermain petak
umpet atau bentengan.
Karena hal ini pula, teman-temanku jadi selalu
merasa kerepotan. Mereka sekali duakali terkena masalah ketika kami harus
melakukan jenis olahraga atau permainan yang mengharuskan kerjasama tim. Paling
tidak mengenakan adalah saat dimana teman-temanku diminta untuk memilih grup
mereka sendiri. Kalian tahu jawabannya. Tidak satupun mengajakakku di dalam daftar
tarung mereka dan malah saling lempar tunjuk.
“Indri, ikut kelompok sana saja, pak.”
“Sana saja, pak.” kata mereka bergantian.
Menyedihkan bukan. Meski kadang, aku juga
sedikit beruntung mendapat sedikit bantuan tangan guruku yang memberikan jalan
keluar. Tetap saja teman-teman yang ditimpa namaku dalam kelompoknya akan
merasa kecewa dan putus asa duluan sebelum pertandingan dimulai.
Awalnya aku menganggapnya sebagai gurauan
saja. Sesekali aku juga bahkan membalas ledekan mereka dengan usaha yang kulakukan
habis-habisan. Sampai keringet panas dingin keluar. Sampai akhirnya kalah juga.
Hehe. Aku benar-benar menguji kesabaran teman-temanku dan menguras seluruh sisa
emosi mereka. Saat inilah kemudian aku menyadari sesuatu yang berat. Waktu itu
aku belum menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan. Tapi aku cukup jeli
untuk dapat merasakannya. Aku hanya menjadi bahan candaan dan olok-olok teman
sekelasku. Laki-laki dan perempuan. Penampilan fisikku jadi bulan-bulanan.
Ketika sedang tidak ada guru, teman-temanku seenaknya merendahkan kondisi berat
dan ukuran badanku.
“Dut.. Gendut..”
“Gembrottt...”
“Gendut.. gendut..”
Kata-kata ini yang selalu teringat sampai
saat sekarang. Mereka mencoba melekatkannya pada isi kepalaku, dan berhasil.
Padahal, aku tidak pernah meladeninya. Paling-paling, kalau lagi saking
keselnya, karena aku gadis kecil yang cengeng, aku cuma nangis. Lalu seorang
guru datang menghampiri. “Indri, kenapa
nangis?” tanyanya. Aku tidak berani jawab karena malu dan takut. Aku lebih
memilih tetap menangis sampai jam pelajaran berikutnya. Atau kalau sang guru
membawaku ke dalam ruangannya, menghadiahi permen atau cemilan yang ada disana.
Hingga suatu waktu, saat beberapa temanku
meneriaki dengan kata-kata yang biasa kudengar, seseorang entah dari arah mana,
membantu membelaku. “Diam kalian semua,
jangan ganggu dia!” suara itu keras dengan nada gemetaran. Berhasil.
Teman-temanku yang sedang berteriak ke arahku pun pergi, dengan memberi wajah
salam yang meledek. Suara itu ternyata berasal dari seorang teman sekelasku
juga. Namanya Bima. Teman yang kukenal sejak kecil.
*
Saat sekolah menengah, Bima dan aku satu sekolahan.
Aku yang sudah berteman semenjak sebelum duduk di bangku sekolah, meski
terpisah ruang kelas, kami sering menghabiskan waktu bersama. Bima sudah
seperti kakakku sendiri. Walaupun kenyataanya, aku lebih tua beberapa hari
darinya. Persahabatan kami memiliki arti lebih dari makna kata itu sendiri.
Apalagi sejak kejadian dia membelaku di depan teman-teman sekelas sekolah dasar
dulu. Dan karena oleh itu juga, aku jadi bisa memilih menerima menjadi diriku
sepenuhnya. Percaya diri. Hingga diam-diam, ada sesuatu milikku yang tidak
sadar telah terjatuh seiring beranjaknya usia. Begitu saja. Aku menikmati tiap
detik momen melayang di udara menuju sesuatu yang akan kujadikan sandaran.
Lembut. Nyaman. Tenang. Dan untuk
menggapai keinginanku, aku perlahan-lahan merubah diri menjadi sesuatu yang
lain. Yang tidak pernah ada dalam kehidupanku sebelumnya.
Di titik inilah, aku kehilangan kendali atas
diriku sendiri. Aku mulai banyak melakukan hal-hal kecil untuk orang lain,
untuk orang yang menurutku pantas menerimanya. Singkat kata, aku mengidolai
Bima. Jujur aku malu mengakuinya. Tapi begitu adanya. Aku bisa merasakan
kenyamanan bisa berada di dekatnya. Sebagai seorang perempuan, aku juga tetap
menjaga sikapku. Sudah beruntung bisa hampir selalu dekat dengannya kemanapun
dia pergi. Itu sudah cukup dan tidak masalah. Meskipun tidak munafik, aku juga
butuh sebuah ikatan. Tapi aku sadar dan juga takut kehilangan ikatan lainnya; persahabatan.
Aku takut kalau-kalau ternyata Bima tidak menyukaiku, yang ada aku malah tidak
mendapatkan apa-apa atau malah bahkan akan kehilangan rasa ikatan pertemanan
yang sudah kita buat sejak kecil.
Ketika sedang berkumpul bersama kawan-kawan,
mengerjakan tugas kelompok di rumahku, tanpa susah payah kubuat pertanyaan,
Bima memberi sinyal terhadap perempuan-perempuan yang juga satu kelompok. Kata
dia, sekarang dirinya lebih fokus untuk mengedepankan pertemanan. Kemudian,
entah mengapa, aku tersentak tentang lekuk tubuhku yang belum berubah sejak
sekolah dasar hingga saat sekarang. Tetap besar dan kadang masih mendapat
panggilan “gendut” dari teman satu sekolahan. Bima, meski tahu kondisiku yang
sebenarnya, dia selalu saja membelaku. Aku ingat sekali dia pernah berkata, “Indri, di dalam kata cantik itu, nggak ada
yang namanya gemuk atau kurus. Cantik ya C-A-N-T-I-K. Oke?” Sejak itulah
aku sering bertanya-tanya pada diriku sendiri. Untuk apa sih Bima membelaku
sampai segitunya.
Aku tahu ini berat benar-benar berat, secara fisik
dan batin terutama. Bobot pikiranku selalu saja dipenuhi oleh keinginan dan
obsesi untuk bisa tampil dengan lekukan tubuh yang lebih ramping seperti
model-model di majalah. Namun, hal itu urung aku lakukan. Asalnya, beberapa
kali, Bima kasih pelajaran kepada orang-orang yang mencoba melecehkanku. Lagi-lagi
atas dasar pertemanan. Itulah gunanya teman, katanya. Karenanya juga, yang
membuat perasaanku yang disesaki kekesalan tiba-tiba berubah menjadi
berbunga-bunga. Dia mengenaliku lebih dari siapapun. Sejak kecil hingga sekarang
tidak pernah berubah. Itu juga yang terus menguatkanku dan berani dalam menghadapi
dunia.
Aku takut hubungan pertemanan ini akan
berakhir seiring selesainya masa-masa sekolah. Aku sering terlalu khawatir
tidak jelas. Tidak jarang aku melakukan hal-hal bodoh dan menggelikan di
hadapan Bima. Cuma Bima, teman yang berani kuperbolehkan menyentuh dan
mengacak-acak rambutku saat dia sedang kesal kepadaku. Cuma Bima, yang ketika
keceplosan memanggilku gendut dan aku tidak pernah marah, kalaupun kesal, itu
sengaja aku buat-buat hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Aku ingat betul,
waktu itu lagi sering-seringnya, aku iseng menempelkan upil di lengannya. Sebenarnya,
jari yang kugunakan mengupil berbeda dengan yang aku tempelkan ditangannya.
Bima juga sebenarnya sadar akan hal itu dan mengetahuinya. Dan lagi-lagi, dia
tidak marah dan hanya berpura-pura tidak
mengetahui trikku.
*
Suatu ketika, di lobi dekat majalah dinding
sekolah, Bima sedang berbicara dengan seorang temannya, perempuan. Mereka
berdua terlihat sedang membicarakan hal-hal lucu yang menggelikan. Hal itu
kudapat dari pandangan mataku sendiri yang cukup nampak melihat saling balas-balasan
senyum dan tawa yang berasal dari air muka mereka. Entah kenapa, hari yang
cerah seketika menjadi penuh gelegar benderang. Tanpa ada sesuatu yang jelas,
tiba-tiba tensi darah dan tekanan detak jantungku meningkat. Aku bingung untuk
menggambarkan perasaanku. Apakah aku iri?
Apakah aku cemburu?
Aku bisa merasakan darah yang mengalir di
tubuhku tiba-tiba mendidih. Hal itu karena kusadari saat jemari sang gadis
direngkuh erat oleh genggaman tangan Bima. Entah kenapa, aku jadi mudah
teringat dengan kondisi fisikku dan membandingkannya dengan perempuan dengan
rambut panjang lurus yang masih berdidi dihadapan Bima. Aku menjadi tambah
sentimen dan sedikit posesif. Tapi tetap tak berani aku luapkan di depan Bima.
Separah apapun, masih bisa kutahan untuk diriku sendiri. Aku kemudian melengos
dan meninggalkan mereka berdua disana.
Semenjak hari itu juga, lalu selanjutnya membuatku
mengawali sebuah aktifitas konyol dan memalukan sepanjang garis sejarah
kehidupan. Kerja keras yang tidak banyak membuahkan hasil. Membuang waktu. Dan
menjadikanku manusia yang terlalu banyak berkhayal. Susah payah aku mencoba
merubah bentuk tubuhku agar menjadi semenarik mungkin bagi siapapun, terutama
Bima. Aku ingin mengecilkan perut buncit, betis, pinggul dan lenganku, supaya mirip model di majalah teenlit yang sedang populer.
Aku rela mati-matian mengubah pola makan.
Mengatur gaya hidup asupan gizi yang dalam bahasa populernya adalah diet. Tanpa
aturan. Sehari hanya makan sehelai roti gandum dan hampir sepuluh gelas air
mineral. Tidak makan nasi. Tidak makan spageti kesukaan. Tidak makan makanan
yang mengandung gula. Tidak minum soda dan sekali duakali minum jus alpukat.
Dari aktifitas fisik, aku mencoba untuk
berlari ringan mengelilingi lapangan menggunakan jaket tebal seusai pulang
sekolah. Aku mengajak Bima membantuku untuk menjadi penahan beban saat
melakukan sit-up, tanpa kuberitahu maksud
dan tujuan sebenarnya. I do yoga, zumba hingga
renang. Bima yang kurang pandai berenang, kuajaknya juga sebagai sanggahan
tanganku saat berada di kolam. Aku juga tidak pandai berenang, sebenarnya. Dan
hanya berani turun di kolam ukuran anak-anak dengan kedalaman sedang. Itu juga
karena kubela-belain untuk mendapatkan hasil ideal yang maksimal sesuai
tutorial di majalah jadul milik ibuku.
Setelah hampir dua bulan aku mengikuti satu persatu
panduan yang tertulis bersambung di tiap lembar halamannya, belum banyak hasil
yang didapatkan. Seminggu pertama, perutku terasa seperti memar dan sulit untuk
makan akibat terlalu keras melakukan sit-up.
Aku bahkan hampir sakit, karenanya. Beruntung, kehadiran Bima membuat
semangatku terus menyala terang. Tidak peduli kantung lambungku memar. Sebulan,
tuhan belum banyak memberiku hiburan. Angka dalam timbangan hanya bergeser satu
sentian strip ke arah kiri dari sebelum aktifitas ini kulakukan. Itu artinya,
tidak banyak perubahan yang kudapatkan.
Menjelang akhir bulan kedua, aku menyerah.
Selain roti gandum, air mineral dan jus alpukat, aku kemudian perlahan menambah
jenis makanan sehatku seperti apel dan jambu biji. Sialnya, saat aku pergi ke
pasar swalayan, aku terjebak di sebuah foodcourt
dan tergoda untuk mencicipi salah satunya. Disana ada makanan favoritku, itulah
kenapa aku akhirnya tersandung dan benar-benar memulai menggagalkan program
yang sudah aku jadwal rutin sebelumnya. Akhirnya sabotase kedai makanan itu
berujung pada keberhasilan, program dietku mengibarkan bendera putih, sekali
lagi. Menandai bahwa aku tidak serius.
*
Setelah sekian lama tak berkabar, kini
kudengar Bima telah sukses menjadi seorang CEO muda sebuah perusahaan tambang
nasional. Sore itu, hujan sedang deras-derasnya mengguyur kota yang terkenal
sekali dengan panas siangnya yang terkutuk. Beberapa butir tetes air terlihat
merayap di jendela dan pintu kaca. Mobil-mobil berderek mengantre mengular
memenuhi jalanan khas ibukota. Anehnya, Bima termasuk dalam sebuah daftar
perusahaan rekanan di tempatku bekerja sekarang.
Hal itu benar-benar akan terjadi setelah
mengetahui bahwa aku akan menjadi delegasi perusahaanku. Sebagai sekretaris
direktur dan penanggung jawab utama pembuat laporan di divisi sales manager, aku memiliki akses penuh tanpa
repot terhadap database klien hingga
karyawan dengan mudah. Itulah mengapa aku bisa mengetahui nama Bima ada disana.
Aku tidak ragu kalau Bima yang tercantum di dalam daftar adalah Bima teman
kecilku. Bima Artha Nugraha. Kami
dipertemukan kembali oleh kejadian yang tidak dinyana.
Di lobi gedung pencakar langit yang berfungsi
sebagai perkantoran, setelah mengisi daftar hadir, aku langsung menuju ruangan
sesuai dengan agenda. Ditengah jalan menuju lift, aku berpapasan dengan seorang
lelaki berperawakan tinggi dan berjalan tegap. Aku tidak mengenalinya tapi
sepertinya aku kenal dengan dia. Bersama dua rekannya, pria berdasi hitam itu
melangkah menuju meja resepsionis. Sekali lagi, perawakannya yang asing menyita
perhatianku. Ia begitu familiar. Ketika dalam posisi papasan yang dekat, tulang
pipi di wajahnya mengingatkanku pada seseorang.
*
Saat Bima benar-benar jadi pindah ke
Singapore bersama orang tuanya, Citra dan aku ikut pergi ke bandara
mengantarnya. Aku tidak tahu akan berapa lama Bima berada disana. Citra juga.
Yang jelas, hari itu rasanya sedikit haru. Harus kehilangan orang yang sudah
sekian lama mengisi hari-hari kemudian akan pergi. Rasa nyaman berada di dekat
Citra pun sama sekali sampai tidak terasa. Bagaimanapun, Citra adalah orang
yang disayangi Bima juga dengan setali hubungan istimewanya. Bima juga teman
dekatku. Meski aku tidak cocok dengan beberapa tingkah dan sikap Citra, kali
ini akhirnya kami sama-sama merasa kehilangan. Beruntungnya Bima, bisa pernah
menjalin hubungan dengan perempuan yang populer di sekolah. Aku tidak tahu
apakah mereka akan melanjutkan hubungannya meski terpisah jarak atau tidak. Aku
tidak sempat bertanya.
Teknologi saat itu masih terbatas. Belum
banyak telepon seluler yang dipasarkan, dan kalaupun ada, hanya untuk sebagaian
kalangan saja, misalnya pengusaha atau pejabat, kalangan terbatas. Apalagi
harganya yang cukup mahal. Facebook?
Line? WhatsApp? Boro-boro. Bisa melakukan panggilan di warung telepon itu
sudah hebat, warung yang terkenal dengan layanan lokal dan interlokalnya. Belum
lagi, karena terhanyut dengan keadaan, aku sampai lupa untuk bertanya di alamat
mana Bima akan tinggal. Alhasil, berkirim surat pun jadi tidak memungkinkan. Aku
tidak tahu dengan Citra. Aku cuma berharap Bima yang tahu alamatku akan lebih
dulu mengirimkan sepucuk surat. Sayangnya, setelah beberapa tahun kepergiannya,
tidak ada satupun pesan di kotak surat yang berasal darinya.
Suatu sore di sebuah kedai kopi di kota yag
dikelilingi bukit, tidak sengaja aku bertemu dengan Citra. Ia masih
mengenaliku. Sayangnya perbincangan kami hanya berlangsung singkat. Bahkan
belum sedikitpun membahas tentang kabar Bima. Citra bersama seorang lelaki.
Entah itu teman atau pacarnya yang baru. Aku juga tidak berani lancang
menanyakan hal itu kepadanya. Lelaki itu hanya diam saat aku meladeni
percakapan dengan Citra. Citra pun seperti saking terhanyut, lupa untuk
mengenalkan lelaki itu kepadaku. Aku yang sudah kadung memiliki janji untuk
mampir ke kontrakan teman, akhirnya berpamitan. Lagi-lagi, aku lupa untuk menanyakan
alamat kontrakannya.
Aku juga melanjutkan kuliah di Bandung. Aku
memilih kota Priangan ini karena masih disertai niat pola hidup sehat. Udara
segar dan pemandangan yang menyegarkan pikiran adalah alasannya. Aku masih
terobsesi untuk merampingkan bentuk fisikku. Meskipun pernah gagal, hal itu
tidak kunjung membuatku pasrah pada keadaan. Secara genetik, hampir seluruh
keluargaku memiliki bobot badan yang lebih. Aku juga awalnya sudah saja
menerima keadaan seperti ini sampai suatu ketika, tanteku yang tinggal di Medan
datang berkunjung. Tanteku juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan
apa yang aku alami. Ia meceritakan masa mudanya. Tentang lelaki idamannya. Juga
tentang kondisi tubuhnya yang menjadi hambatan untuk menarik perhatian sang
idola. Pendek cerita, tanteku ini berhasil merubah bentuk tubuhnya setelah
secara konsisten mati-matian berlatih olahraga mulai dari kardio hingga
mengikuti kelas khusus body building
yang dipandu pelatih profesional.
Sejak saat itulah koleksi majalah kesehatanku
semakin menumpuk, lebih banyak dari buku materi kuliah. Aku rutin membaca
teknik untuk mengecilkan dan merampingkan bentuk tubuh di beberapa bagian. Aku
juga mulai sering lagi pergi ke tempat kebugaran, berlatih selama dua sampai
tiga jam duakali selama sehari. Aku mulai memberi pasokan tubuhku dengan
sarapan segelas kopi hitam tanpa gula. Asupan salad menjadi makan siang dan
malam. Kemanapun selalu membawa bekal air mineral. Dan selalu mencoba megatur
jam tidur lebih awal dari biasanya. Usaha-usaha kecil ini rutin aku lakukan
selama tiga tahun terakhir. Bobot awalku yang hampir satu kwintal, kini
berkurang separuh. Orang-orang yang mengetahui penampilanku dari awal masuk
kuliah, selalu memberikan reaksi kekagetan mereka saat berbincang denganku.
Singkatnya, program pola hidupku kali ini
menemukan hasil yang sangat memuaskan. Ibu dan ayahku sendiri bahkan sempat
tidak mengenaliku ketika mereka berkunjung ke tempat kontrakanku, dan
menganggapku bukan anak mereka. Maklum, saat aku merantau di kota kembang, aku
jarang pulang. Sekalinya bertemu dengan keluarga, kadang butuh waktu paling
tidak enam bulan sekali. Melihat kondisi fisikku yang langsing, ibuku antara
terkagum-kagum dan kaget bukan main. Beliau sempat marah juga, karena dikira
uang jajanku dipotong oleh ayah, padahal tidak. Ketika mengetahui hal ini atas
inisiatifku sendiri, barulah ibu yakin.
*
Masih di Bandung, suatu malam saat aku
menghadiri undangan teman yang mengikuti turnamen basket antar kampus, aku
menjumpai Citra bersama seorang lelaki lagi. Aku menjumpai mereka sedang duduk
di tribun yang tidak jauh dan masih dalam jangkauan pandangan mataku. Namun
kali ini, mungkin karena keramaian, ia tidak mengetahui kehadiranku. Atau
mungkin juga sudah tidak mengenali penampilan baruku. Aku yang sedari awal
mengamati para pemain mendribble
bola, jadi hanya terfokus dengan pemandangan dua orang di sebelah kananku itu.
Riuh pertandingan dan rami teriakan penonton
kemudian mengubah fokusku kembali menonton pertandingan di lapangan. Meski agak
samar-samar, aku yakin kalau orang itu adalah Citra. Tidak salah lagi. Saat
pertandingan usai, Citra lebih dulu keluar arena, dan aku tertahan sampai larut
malam untuk ikut melakukan selebrasi temanku yang timnya baru saja lolos ke
laga final. Lagi-lagi, tidak ada informasi lebih yang bisa aku dapatkan tentang
Citra.
*
Sebuah ruangan kedai kopi di sore hari,
hampir seluruh kursi dipenuhi pelanggan. Meja-meja dipenuhi beragam sajian.
Beberapa pelayan mengenakan seragam dengan paduan warna kalem terlihat sibuk
menangani kebutuhan pelanggan.
Hi, perkenalkan, aku Satrio. Dari awal
cerita, aku tidak pernah ada dan tidak pernah disebutkan. Tapi bukan berarti
ini adalah akhir ceritanya. Cuma, asal kalian tahu saja, orang selalu
diceritakan Indri itu sebenarnya adalah aku. Hmmm. Gimana ya.
Jadi gini, semenjak sekolah dasar, Indri
selalu jadi bahan perundungan teman-teman sekelasnya. Kenapa aku tahu, karena
beberapa kejadian diantaranya pernah terjadi dihadapanku sendiri. Rumah orang
tua Indri bersebelahan dengan orang tuaku. Jadi aku bahkan sudah kenal dan
bermain dengannya semenjak sebelum masuk sekolah. Tidak jarang, di hari libur,
kekuarga kami sering mengadakan pesta kecil-kecilan bersama. Kalau tidak
dirumah orang tua Indri ya dirumah orangtuaku. Kami selalu kebagian jatah untuk
menghabiskan hidangan. Ketika kami ikut membantu orang tua kami, mereka
melarang. Paling banter, kami waktu itu disuruh angkat-angkat persediaan bumbu
dan botol minuman squash.
Aku kasihan dengan Indri. Saat di sekolah, ia
selalu jadi bahan ejekan temannya. Samai suatu ketika, kejadian itu benar-benar
terjadi di hadapanku, aku mencoba memberanikan diri untuk membantunya dengan
meneriaki mereka yang juga merupakan teman-teman sekelasku. “Diam kalian semua, jangan ganggu dia!”ucapku
sambil gemetaran. Mereka pun berhasil meninggalkan Indri, meski masih diikuti
wajah meledek. Dan sempat membalas ”Trio
sok jagoan...” berkali-kali diulang sampai kejauhan menurunkan volume suara
mereka hingga tak berbunyi lagi. Entah apa yang telah aku lakukan saat itu.
Yang jelas, kemudian aku menjadi orang yang paling ingin peduli padanya. Aku
kasihan benar melihat Indri jadi bahan ejakan teman hanya karena kondisi
fisiknya.
Selang waktu yang lama, hingga kami sudah
menempuh pendidikan tingkat sekolah menengah. Aku merasakan sesuatu yang
berbeda. Lebih dari rasa kasihan itu sendiri. Sebagai seorang remaja yang masih
banyak kurang pengalaman, aku tidak bisa menggambarkan apa yang sedang aku
rasakan. Untuk bercerita dengan teman dekatku, aku tidak berani dan terlalu
malu. Aku menyimpan rahasia ini untukku sendiri. Aku suka dengan Indri, tapi
rasa suka ini bukan sekedar rasa suka biasa. Dan aku belum menemukan kata yang
tepat untuk menjelaskan rasa sukaku ini padanya. Aku berharap bisa menemukan
sebuah kamus di perpustakaan dan bisa memberiku jalan keluartentang pengertian
perasaan yang sedang aku alami ini. Sayangnya aku terlalu malas untuk membuka
buku-buka yang berderet di rak kayu tua yang beraroma kertas-kertas dimakan
jaman.
Hingga pada suatu waktu, Indri bercerita
tentang seorang yang sedang ia idolakan. Katanya teman satu sekolah. Bahkan
orang itu sudah ia kenal semenjak sebelum sekolah. Namun ia putus asa dan tidak
percaya diri untuk menghadapi kenyataan. Ia bilang bahwa kondisi fisiknya akan
mengganggu pandangan mata sang idola. Aku memberi solusi sebisaku dengan
meyakinkannya bahwa “Bagaimanapun
kondisimu, yang penting kamu jadi diri sendiri Ndri.”
Ia masih tidak mepercayaiku. Hingga-hingga,
Indri melakukan hal yang tidak pernah aku lihat dari dirinya sebelumnya. Ia
merubah gaya hidupnya dengan osbesi tingkat tinggi untuk menyenangkan si idola.
Aku masih belum tahu siapa orang yang dimaksud. Indri cuma bilang, kalau lelaki
itu memiliki kemampuan dan prestasi akademis yang bagus. Hal itu yang
membuatnya jatuh hati.
Suatu hari, sore sepulang sekolah, Indri
memintaku untuk menemaninya melakuan olahraga lari keliling lapangan. Ia
menyiapkan sebuah jaket tebal dan sepatu jogging
dari dalam tas. Aku diminta untuk menjadi tukang hitung ketika tiap kali Indri
melewati sebuah garis yang ia buat sendiri di tanah. Duaratus enampuluh lima, duaratus enampuluh enam, duaratus enampuluh
tujuh..” begitu terus. Kegiatan ini secara rutin berlangsung hampir dua
bulan dengan libur sehari setiap minggu.
Sehabis lari, Indri selalu mengajakku pergi
ke sebuah kantin di dekat kolam renang. Kolam ini letaknya tidak jauh dari
sekolahan. Di tempat ini, Indri juga selalu mentraktirku mi pangsit, batagor dan
jajanan lain tiap kali selesai menjadi tukang hitung pengukur waktu larinya.
Setelah itu, Indri mengajaku megajarinya renang. Jujur aku memang bisa renang,
tapi paling banter ya gaya batu. Memalukan bukan. Indri tetap saja memaksaku. “Ngga apa-apa, Yo. Kamu pegangin tanganku aja
waktu belajar ngayuh kakiku.” katanya memaksa. Jadilah aku mau saja
menuruti perkataannya. Jadilah juga hampir setiap hari aku selalu membawa
pakaian ganti di dalam tas. Bisa-bisanya aku menuruti semua kehendaknya.
Indri juga mengikuti kelas yoga bersama
mamahku. Waktu itu, olahraga ini sangat tidak populer dan terbatas hanya
melalui perkumpulan komunitas. Di salah satu majalah yang Indri baca, yoga juga
salah satu cara untuk mengurangi kadar lebih di badan melalui latihan rutin
pemusatan pikiran. Olahraga ini dilakukan di ruang yang sunyi. Dasar dari yoga
yaitu untuk memusatka pikiran pada satu titik fokus saja. Indri mengikuti yoga
setelah ia gagal melanjutkan rutinitas pengecilan lingkar perut dengan sit-upnya. Baru dua hari melakukan tekuk
perut, lambung Indri jadi memar dan selalu mengeluh kesakitan. selama dua hari itu juga, aku menjadi orang
yang diminta untuk menjadi penahan keseimbangan beban dengan duduk dan
memegangi kedua lutut kakinya. Tidak jarang Indri menghadiahiku dengan aroma
gas buang yang keluar dari perutnya. “Abis
makan bangke ya kamu Ndri?” ledekku saat hal itu terjadi. Indri hanya
membalas dengan tawa keras dan berhenti sejenak dari sit-upnya.
Pendek kata, aku ikut andil dalam mewujudkan
obsesi dan khayalan si Indri. Aku menjadi instruktur relawannya. Entah mengapa
aku menyetujuinya saat Indri menawariku kegiatan ini. “Trio, kamu kan orang baik. Kamu mau ya jadi asistenku.”kalimat itu
yang selalu kuingat saat Indri dengan wajah memelasnya mencoba merayuku. Aku
menghabiskan waktu bersamanya setiap sepulang sekolah dengan berpura-pura
sebagai pelatih olahraga profesional. Kadang aku suka iseng dengan memarahinya
biar terus semangat. Kadang aku kerjain, saat renang di kolam yang agak dalam
aku lepaskan pegangan tanganku padahal aku sendiri tidak pandai berenang dan
malah aku sendiri yang kejebak dikedalaman. Kuakui, Indri lebih jago dibanding
denganku.
Entah momen-momen ini harus aku sebut sebagai
momen yang menyebalkan atau menyenangkan. Dimana diluar sana saat pemuda
seusiaku sedang asik-asiknya bermain bola dengan teman sebayanya, atau bermain
layangan di taman komplek. Beberapa seusiaku bahkan ada yang sudah gaya-gayaan
nongkrong di mall kota, meskipun dengan jajan sisa sekolah yang tidak seberapa.
Indri dan aku paling banter ke mall ya mencari buku novel, komik atau malah
menambah jumlah koleksi majalah kesehatan.
Saat itu, yang jelas, setelah kuamati diriku
sendiri, aku merasa ada sesuatu yang telah terjatuh dari diriku. Begitu saja.
Aku malah menyukainya, namun tidak berani mengaku pada siapapun kecuali diriku
sendiri. Aku suka sama Indri. Tapi aku takut mengganggu hari-harinya, apalagi
akhir-akhir ini dia banyak cerita tentang idolanya. Aku memutuskan untuk tidak
membicarakan ini dengan Indri sampai di waktu yang tepat.
Ada perasaan kecewa saat Indri berhasil
mengajak sang idola untuk melakukan kerja kelompok di rumahnya. Tentu saja ini
menyita seluruh perhatianku. Walaupun disana bukan hanya mereka berdua, rasanya
ada sesuatu yang menyesakkan dada. Indri saat itu belum berhasil merubah bentuk
tubuhnya. Namun, karena berhasil mengajak orang yang juga satu sekolahan itu,
rasanya aku kesal berat. Aku meninggalkan ruangan saat mereka sedang ngobrol
membahas maslah pribadi.
Hingga hari kelulusan tiba, yang kutakutkan
adalah aku akan berpisah dengan Indri. Indri yang masih saja terus terobsesi
menjadi seseorang yang dilihatnya di majalah teenlit. Aku masih belum punya keberanian lebih untuk mengatakan
padanya kalau aku sebenarnya menyukainya. Yang kutakutkan sebenarnya adalah
hubungan kami ini, hubungan pertemanan, atau persahabatan. Aku takut kehilangan
salah satu diantaranya. Aku sudah menganggap Indri sebagai adikku sendiri.
Entah sejak kapan, tapi ketika seorang mengolok-olok dan membuat Indri sedih, aku
jadi ikut marah dan kasihan padanya. Sejak saat itulah aku selalu mencoba untuk
mendapatkan satu kesempatan saja untuk menyampaikan apa yang tersembunyi di
balik dadaku ini. Sayangnya, aku tidak pernah punya satu kesempatan itu.
Bahkan berani-beraninya aku membicarakan
perempuan lain kepadanya. Sebenarnya aku hanya kagum pada gadis yang juga satu
sekolah ini. Tapi entah kenapa, hanya kepada Indri aku berani bercerita.
Awalnya aku juga mencoba merahasiakan hal ini dari siapapun, dasarnya Indri,
sudah mengenalku sekian lama, akhirnya aku diinterogasi habs-habisan olehnya.
Indri dan aku hampir selalu satu kelas. Rumah kami juga berdekatan, jadi kami
sering pergi dan pulang dari sekolah bersama. Di saat inilah ia berhasil
menguak satu-persatu rahasiaku.
Entah ini cinta monyet yang sering disebut
orang-orang atau bukan, aku tidak paham betul. Untuk melarikan diri dari
ketertarikanku pada Indri agar menjaga hubungan kami baik-baik saja, aku sempat
menaruh kekagumanku pada seorang siswi yang memiliki keindahan lain, selain
bentuk fisiknya. Namanya Citra. Di sekolah, aku baru sadar kalau ternyata ia
adalah buah bibir yang selalu dibicarakan oleh para siswa di kantin saat jam
istirahat. Indri yang menurutku biasa-biasa saja secara fisik merupakan kembang
sekolah yang selalu diperebutkan para siswa. Berbeda denganku, aku tertarik
dengannya karena Citra ialah seorang gadis imut yang visioner, futuris dan
ambisius. Perpaduan ini yang terus meningkatkan rasa kagumku padanya.
Olehnya juga, semangat belajarku meningkat
tajam. Aku belajar lebih keras supaya bisa mengalahkannya saat pengumuman ranking bertengger di papan majalah
dinding, dan menemukan namaku satu strip diatas namanya. Dan ya, aku berhasil
melakukan hal gila ini. Aku yang hanya murid dengan kemampuan isi kepala
pas-pasan bisa melampaui murid cerdas lainnya. Aku sendiri tidak bisa
memercayainya. Sungguh pun terjadi, ia penasaran dengan nama orang yang bisa
berada satu strip diatasnya itu. Nama itu adalah namaku. Hal ini tentu tidak
bisa aku lakukan sendiri tanpa bantuan dari Indri. Sebagai ganti karena aku
telah membantu program dietnya, aku juga minta imbalan. Namun upahku itu tidak
dalam bentuk materi dan kugunakan saat benar-benar aku butuhkan. Seperti saat
aku cerita padanya tentang siswi yang aku idolakan ini, aku memintanya juga
untuk membantuku memahami materi pelajaran guna mempermudahku saat ujian.
Dengan penuh kesabaran tingkat dewa, Indri
memberi contoh dan arahan di tiap-tiap materi yang sedang dibahas. Meski
berkali-kali gagal kumengerti, Indri terus saja mengulanginya dengan gigih dan
tak kenal lelah. Pernah sampai suatu malam, aku ketiduran di ruang tamu rumah
Indri karena belajar hingga terlalu larut. Karena tidak tega membangunkanku,
Indri malah memberiku sebuah selimut. Hal ini baru aku sadari keesokan paginya.
Aku jadi malu sama orang tua Indri.
Hasil belajar itu membuahkan hasil saat ujian
kenaikan diumumkan. Citra penasaran dengan nama siswa yang mampu menyalip
peringkatnya. Indri ada bersamaku saat hal itu terjadi, dengan tangan terbuka siswi yang bernama Citra itu
menyadari kehadiranku disana, dan memberiku salam selamat. Takjub, aku senang
dibuatnya. Citra mengenalkan dirinya. Aku masih terpukau dengan kehadirannya di
depanku dan mengakui kekalahannya di ujian kenaikan ini. Citra berada di posisi
kedua setelah namaku, itu artinya bukanlah benar-benar sebuah kegagalan. Tapi
entah mengapa, bagi Citra, posisi yang diraihnya layaknya sedang mengikuti
sebuah kompetisi nasional, merupakan kekalahan besar. Aku tidak peduli dan
tidak banyak memikirkan hal itu. Aku hanya menikmati sentuhan jemari di
tangannya yang menggenggamku erat dan tatapan tajamnya yang meyakinkan.
Siang itu, sulit untuk kulupakan. Aku bisa
dengan langsung merasakan genggaman lembut dan tangan halus gadis yang menjadi
idolaku. Tak perlu kuceritakan pada Indri, ia sudah mengetahui dengan kepalanya
sendiri. Meski ia turut merasakan senang, ada sedikti rona aneh yang muncul di
wajahnya. Dan ketika aku terus membahas tentang Citra, ia mengalihkan
pembicaraan ke topik yang lain.
Sejak siang itu, aku semakin intens ketemu
dengan Citra. Bahasa kasarnya, aku mulai melakukan pendekatan padanya. Kami
sering menghabiskan waktu berdua di kantin, taman dan perpustakaan dengan
obrolan yang tidak jauh-jauh dari teori kuantum yang cukup menyebalkan. Setelah
rutin berhari-hari meluangkan wwaktu bersama, kepada Citra, aku mulai berani
memberikan bingkisan-bingkisan kecil. Gadis ini pantas mendapatkannya, pikirku.
Aku memberinya sebungkus cokelat yang kubeli dengan menyisihkan uang jajan
selama beberapa hari. Aku memberinya bunga yang kuambil di taman sekolah.
Inilah momen dimana Indri dan aku semakin menjauh. Entah aku yang menjauhinya,
atau sebaliknya. Atau kami memang sedang sama-sama menjauhkan diri. Ketika kami
bertemu pun tidak banyak yang bisa kuceritakan padanya. Indri pun jadi lebih
cuek dan jadi diam.
Hingga pada suatu siang di jam istirahat
sekolah, aku melihat Citra terlihat sedang berbicara pada seorang siswa. Mereka
terlihat dekat sekali, dekat dalam arti selain fisik. Aku yang membawakannya
segelas teh untuknya tidak jadi menghampirinya. Aku meninggalkan mereka berdua
di dekat lapangan olahraga. Siang itu cerah sekali. Burung-burung pipit bersiul
bersenandung. Aku mengingat kejadian itu dengan jelas. Kejadian saat lembut jari
telunjuk Citra menyentuh hidung seorang siswa yang tidak kukenal. Citra juga
memberikan lelaki berambut cepak itu sebuah senyuman yang belum pernah aku
jumpai sebelumnya. Senyuman manis gelak tawa bahagia yang khas. Beruntung bagi
orang yang bisa dengan eksklusif mendapatkannya langsung dihadapannya.
Hingga hubungan itu berakhir dengan penuh
kesamaran. Aku terakhir ketemu Citra saat membantu Indri ikut mengantar
kepergian Bima di bandara. Setelah itu, tidak ada kabar sama sekali tentangnya.
*’
Citra. Adalah namaku. Akhir-akhir ini aku
banyak meluangkan waktu bersama seseorang yang telah berhasil mengalahkanku di
ujian kenaikan kelas. Aku sudah berjanji di awal, sebelum ujian, siapapun yang
namanya mampu berada satu strip diatasku, aku akan mencoba memberanikan diri
mengenalnya, siapapun. Siswa atau siswi. Aku ingin mengakrabinya dan
mendapatkan kiat-kiat bagaimana dia belajar.
Aku sangat tertarik pada bidang keilmuan
sains. Terutama yang berhubungan dengan pekembangan teknologi rekayasa
genetika. Sayangnya, sekolahanku belum secanggih itu. Jadi paling banter,
pratikum yang kami lakukan hanya mengamati mikro biotik menggunakan mikroskop
yang dibantu dengan buku materi hasil impor dari negara tetangga dan masih
berbahasa Inggris.
Siswa itu bernama Gusti Satrio Dewanantha.
Pertama ketemu saat kami sama-sama melihat hasil ujian di depan majalah dinding
sekolahan. Dia sedang bersama teman perempuannya yang berperawakan besar,
menggunakan kacamata dan terlihat sedikit aneh. Aku memberanikan diri
memberinya salam tangan dan mengucapkan selamat kepadanya. Tidak lupa, aku juga
memperkenalkan diriku. Wajah bahagia tidak bisa ia sembunyikan. Secara
penampilan, siswa yang sedang berada tepat di depanku ini tidaklah buruk. Tidak
begitu ganteng, tapi cukup manis dengan sedikit lesung pipit di kedua sisi
pipinya.
Setelah hari itu, Satrio dan aku sering
bertemu. Kami intens melakukan komunikasi. Di kantin kami sering membicarakan
tentang asal mula sains. Di taman kami sering berdebat masalah sains yang
dikaitkan dengan suatu agama tertentu. Di perpustakaan kami sering membahas dan
melakukan perdebatan sengit novel-novel fiksi yang terkait dengan
teknologi-teknologi super canggih yang mungkin saja bisa diterapkan di
kehidupan nyata. Pernah suatu ketika, karena kami membuat sedikit kebisingan
yang mengganggu pengunjung lain di dalam ruangan, kami diusir oleh penjaga
perpustakaan.
Setelah kejadian itu, Satrio memberiku
perhatian-perhatian aneh. Dia memberiku setangkai bunga segar yang entah
darimana bisa-bisanya ia dapat. Ada kejadian saat jam istirahat menjelang,
lelakii yang cukup tegap ini memberiku sebuah bingkisan yang berisi beberapa
bar coklat. Juga beberapa perhatian-perhatina kecil lainnya. Jujur si meski
aneh, aku tetap suka. Belum pernah ada teman satu sekolahan yang berani
melakukan hal ini kepadaku. Cuma tettap aja, seperti ada yang mengganjal
dipikiranku. Untuk apa Satrio melakukan ini semua. Kalau hanya untuk meminta
maaf karena gara-gara perdebatan itu, kami jadi diusir oleh ibu penjaga
perpustakaan yang memang dasarnya sudah judes, ini terlalu berlebihan.
Beberapa kali aku mencoba memberi kesempatan
pada diriku sendiri untuk mengetahui apa sebenarnya sedang ia lakukan dengan
kejutan-kejutan ini. Perhatian yang sedang ia rutin beri ini seperti mengandung
suatu permintaan. Perhatian-perhatian yang kemudian lama-kelamaan tidak lagi
menarik perhatianku. Sebuah perlakuan yang membosankan. Aku tidak begitu suka
untuk diistimewakan dengan cara yang berlebih. Hingga, entah selang berapa
waktu, perhatian-perhatian itu hilang dengan sendirinya.
Bima adalah temanku satu sekolahan. Aku kenal
dia sejak sebelum menempuh pendidikan. Kami sahabatan sudah dari kami masih
sering ingusan dan salah satu orangtua kami yang membersihkan hidung kami. Ia sebenarnya
siswa yang berbakat. Namun semenjak ayahnya pergi keluar negeri, semangat
belajarnya menurun tajam. Ia juga pandai di beberapa bidang olahraga.
Satu-satunya siswa yang pernah bertanding di dua cabang olahraga untuk mewakili
sekolahan dan dua-duanya menjadi juara adalah Bima. Aku bangga menjadi
temannya. Itulah kenapa aku berusaha keras untuk belajar supaya bisa seperti
dia. Akhir-akhir ini terlihat semakin murung. Sebagai orang paling dekat, aku
mencoba menghiburnya. Bima tidak pandai berteman. Di sekolah, satu-satunya
siswa yang boleh bangga paling mengenal dia adalah aku. Beberapa siswa lain
yang tidak mengetahui kebenarannya, mengira Bima adalah pacarku. Hei, aku nggak
kepikiran sampai kesana. Aku lagi serius menyiapkan diri supaya meraih beasiswa
kuliah di Jepang.
Memang, dari gestur kami, kami terlihat
seperti pasangan. Kedekatan kami memang pantas dikira sedang menjalin hubungan.
Tapi hanya tampak dari luar saja, percayalah. Bima cowok paling keren di
sekolahan, tentulah kabar-kabar melenceng semacam ini mudah tersebar ke segala
sudut penjuru sekolah. Jadi banyak siswi yang sudah patah hati terlebih dahulu
ketika mendengar gosip tentang hubunganku dengan Bima. Bima juga yang tidak
pernah merespon para siswi membuat mereka penarasan kalang kabut. Bima juga
sangat cuek dan malas menanggapi kabar tentang hubunganku dengannya. Karena ia
tahu, itu tidak begitu penting. Lagian, sepengamatanku, belum ada salah satu
diantara siswi itu yang termasuk dalam kriteria Bima. Aku sendiri yang sudah
mengenalnya lama, tidak paham tentang hal ini. Yang jelas aku juga tidak pantas
menanyakannya pada Bima. Itu sudah menjadi urusannya sendiri, not my business at all.
Aku hanya ingin menjaga hubungan pertemanan
ini selama mungkin. Saat duduk di bangku kelas tingkat akhir, Bima pernah
memiliki teman seorang perempuan. Satu sekolahan. Kalau tidak salah, ia juga
teman dari seorang yang pernah memberiku beberapa perhatian aneh. Iya, dia
teman Satrio. Namanya Indri. Jujur, dari segi fisik, Indri ini sangat mencolok.
Entah sebab apa Bima bisa dekat dengannya. Dan lagi, not my business at all. Aku sempat beberapa kali mendapat
kesempatan untuk ngobrol dengannya. Namun karena banyak topik yang kurang
nyambung, aku memutuskan untuk tidak terlalu sering berkomunikasi dengannya,
bahkan saat Bima sedang bersamanya. Dalam hal ini, aku mungkin sedikit kejam.
Tapi bagiku, lebih baik aku menyimpan energiku untk membahas yang lebih bisa
kuterima untuk diriku. It’s quite
selfish, I admit.
Bahkan hingga saat mengantar Bima ke bandara,
Indri dan aku hanya sekedar berbincang basa-basi menanyakan kabar saja.
Selebihnya, aku ingin menikmati momen perpisahan bersama Bima. Aku tidak tahu
sampai kapan Bima akan berada di Singapore. Yang jelas, ketika dia pulang ke
Indonesia, aku ingin menjadi orang pertama yang menjemputnya di bandara.
*
Indri melanjutkan kuliah di Bandung. Aku,
meski masih tinggal dan kuliah di bilangan ibukota, jarang memiliki waktu untuk
mampit ke kontrakannya. Hari-hari liburku selalu dipenuhi kegiatan charity organisasi luar kampus
non-bonafitku. Dengar-dengar, idola Indri melanjutkan pendidikan ke luar
negeri. Tapi setelah acara perpisahan yang dilakukan di rumahnya, aku tidak
banyak lagi mendengar kabar tentang Indri.
Terakhir, dan kuharap bukan yang paling
akhir, aku mendapat kabar tentang Citra bahwa ia juga kuliah di Bandung,
setelah gagal lolos seleksi kuliah di kampus impiannya. Aku berharap suatu hari
bisa mengunjungi mereka berdua. Sebelum itu, harus aku pikirkan, siapa lebih
dahulu yang harus aku temui. Tidak mungkin aku mengajak mereka dalam satu
undangan sekaligus. Bahaya. Bisa-bisa serangan perang dunia ketiga mendadak
terjadi.
*
Sore itu, hujan sedang deras-derasnya
mengguyur kota yang terkenal sekali pada panas siangnya yang terkutuk. Beberapa
butir tetes air sebesar biji jeruk terlihat merayap di jendela dan pintu kaca.
Mobil-mobil berderek mengantre mengular memenuhi jalanan khas ibukota.
Di lobi gedung pencakar langit yang berfungsi
sebagai perkantoran, setelah mengisi daftar hadir, aku langsung menuju ruangan
sesuai dengan agenda. Ditengah jalan menuju lift, aku berpapasan dengan seorang
lelaki berperawakan tinggi dan berjalan tegap. Aku tidak mengenalinya tapi
sepertinya aku kenal dengan dia. Bersama dua rekannya, pria berdasi hitam itu
melangkah menuju meja resepsionis. Sekali lagi, perawakannya yang asing menyita
perhatianku. Ia begitu familiar. Ketika dalam posisi papasan yang dekat, tulang
pipi di wajahnya mengingatkanku pada seseorang.
*
Hari ini adalah hari bahagiaku. Hari yang
ditunggu oleh perempuan dewasa manapun di seluruh belahan bumi. Hari yang
sakral. Orang-orang bisa berkumpul bersama. Berbagi kebahagiaan. Saudara
sedarah. Teman lama. Rekan kerja. Bisa berkumpul menikmati segelas hidangan
yang menghangatkan suasana.
Cuaca hari ini cukup cerah. Meski beberapa
kumpulan awan mendung bergelayut menggantung malas diatas langit, mereka tidak
menunjukan sikap akan merubah hari ini menjadi buruk. Udara sejuk khas
pegunungan menjadi pendingin alami sebuah ruangan terbuka yang dikelilingi oleh
ribuan pohon pinus.
Citra datang menghadiri upacara pernikahanku
dengan seorang lelaki tunangannya. Aku senang dia bisa hadir. Aku juga senang
ia telah berbagi banyak informasi tentang orang yang pernah menjadi idolaku
dulu. Citra pernah bercerita kalau sebenarnya mama Bima yang berada di
Singapore, bukan ayahnya.
*
Aku pernah bercerita pada Indri tentang
kepergian Bima ke Singapore. Ia kesana karena ingin kabur dari ayahnya yang
ternyata maniak seks menyimpang. Hal ini membuatku terpukul. Kenyataan yang
agak sulit diterima. Tapi, mendengar ceritaku, Indri memasang wajah tidak bisa
tidak percaya padaku.
Bima mengalami traumatis karena perlakuan ayahnya
tersebut. Bima pernah sempat kabur dari rumah dan tinggal bersama bibinya.
Namun hal itu kemudian diketahui oleh ayahnya. Lelaki dengan berewok tipis itu
kemudian marah besar kepada kakak dari ibu Bima itu. Bima kembali akhirnya
terkurung di rumah. Dia tidak banyak memiliki teman. Itulah kenapa dia paling berani
bercerita tentang masalahnya kepadaku. Itu juga karena suatu hari pernah,
tindakan bengal ayahnya itu ketahuan oleh orangtuaku, tentu orangtuaku ingin
menolong Bima. Tapi sayang, sang ayah malah melaporkan keluargaku.
Sejak saat itu, aku mencuri-curi kesempatan untuk
bisa masuk ke rumah Bima. Jadwal kerja ayah Bima yang begitu-begitu saja
membuatku tahu dan hapal kapan dia akan tiba di rumah dan kapan akan pergi
lagi.
*
Bersama dua rekannya, pria berdasi hitam itu
melangkah menuju meja resepsionis. Sekali lagi, perawakannya yang asing menyita
perhatianku. Ia begitu familiar. Ketika dalam posisi papasan yang dekat, tulang
pipi di wajahnya mengingatkanku pada seseorang.
Aku mencoba terus fokus pada agenda
pekerjaanku. Aku bergegas menuju lift yang pintunya msih terbuka. Ketika aku
berhasil sampai di dalam lift, aku menekan tombol yang akan mengantarku ke
ruang rapat.
Sesampainya di ruang mini konvensyen,
beberapa tamu undangan sudah lebih dulu tiba disana. Beruntungnya, aku tidak
telat dan kelewatan kesempatan yang juga memiliki efek untuk menaikkan jenjang
kaririku ini. Tidak beberapa lama, pria berdasi hitam yang kutemui di lantai
dasar tadi masuk ke dalam ruangan berpendingin buatan itu. Ia memberi salam
kepada kami semua. Kemudian, ia membuka rapat dengan memperkenalkan dirinya.
Dan benar saja, orang itu adalah Bima. Aku kaget dan senang sekali bisa melihat
dan duduk bersama membahas masa depan dengan seorang yang pernah kuidolakan.
Sebenarnya aku masih mengidolakan dia si. Cuma ya tetap ya, idola ya idola. No more.
Setelah panjang lebar membahas pokok bahasan
dan beberapa elemen pendukung guna mencapai kesepakatan, rapat selesai tidak
sampai satu jam dan menemukan titik tengah yang saling menguntungkan bagi kedua
pihak. Setelah rapat benar-benar pada simpulan akhir, seluruh peserta
meninggalkan ruangan. Aku yang masih sibuk membenahi kumpulan dokumen blueprint, masih tertahan di dalam
ruangan. Bima jelas menyadari keberadaanku yang agak lambat ini. Ia
menghampiriku danmenawarkan bantuan. Dia tetap orang yang baik, sama seperti
dulu. Dia belum bisa mengenaliku. Dengan bentuk fisik yang langsing, aku sama
sekali tidak bisa teridentifikasi olehnya. Baru selang beberapa waktu, entah
bagaimana ia tahu namaku, mungkin dari badge
yang menempel di dekat saku jasku, ia lalu memastikan diri bahwa aku adalah
temannya saat sekolah menengah dulu.
Ya tuhan, dalam hati. Dia masih mengingatku.
“Kamu Indriyanti anak 12A dulu, kan?” tanyanya
penasaran. Hmm, ketahuan. Padahal aku sengaja tidak ingin dia tahu. Tapi apa
boleh buat, identitasku sudah tertangkap basah ketahuan. Mau gimana lagi kalau
tidak ngaku. Memang diluar sana banyak yang bernama Indriyanti, tapi mungkin
ada suatu faktor yang mendorong Bima pergi mengingat ke suatu memori di masa
silam, dan benar-benar menemukan kecocokan ingatan pada beberapa bagian bentuk
fisikku.
“Pangling ya, kamu benar-benar terlihat cantik sekarang. Apa kabar?”
“Jadi dulu kamu nggak melihat aku cantik ya, Bim?” dengan nada yang sengaja kubuat sedikit kesal.
“Bukan. Bukan maksud aku begitu. You just look different. That’s all.” Dia terlihat salah tingkah saat mengucapkan kalimatnya.
Sejak pertemuan itu, Bima dan aku kembali
melakukan komunikasi yang intens. Kami sering mengadakan pertemuan diluar
agenda pekerjaan. Bahkan hingga wisata pribadi keluar kota. Bima tetap menjadi
sosok yang charming sama saat pertama
kali aku mengenalnya di sekolah menengah atas. Kami berbicara banyak sekali
hal-hal mulai dari hari dimana Bima pergi ke Singapura dulu. Aku yang sudah
mengetahui latarbelakang keluarganya, tetepa memilih untuk fokus membicarakan
tantangan-tantangan yang akan dihadapi perusahaan di masa depan. Tapi
berkali-kali juga Bima memutar pembicaraan ke arah yang lebih personal. Kami
tidak membicarakan pasangan kami masing-masing. Entah aku juga tidak ingin
mengetahui kalau Bima sudah menikah atau bertunangan atau apapun. Aku hanya
ingin menikmati waktu berdua dengannya. Itu saja.
Suatu hari, karena keakraban masa lalu kami,
aku memiliki akses khusus untuk keluar masuk ruangan Bima yang tidak dimiliki
oleh semua karyawan. Tentunya hanya untuk kepentingan bisnis. Lagian, selama
hampir setahun aku dekat dengan Bima, dia tidak pernah sama sekali berbuat
tengil kepadaku. Padahal, kalau dia mau, banyak sekali kesempatannya. Salah
satu alasannya, aku bisa bekerja di perusahaan sekarang ini tidak lepas dari
penampilan fisikku. Tampilan adalah alasan aku diterima sebagai sales manager disini. Dan yah, memang
ada sedikit yang mengganjal ketika ada sebuah peraturan kantor yang
mengharuskan pegawai wanitanya mengenakan pakaian minin. Entah ini memiliki
tujuan apa, aku kurang paham. Yang jelas, penampilan tubuh juga dijual disini.
Meskinya di awal sangat tidak nyaman, tapi tetap aku tidak peduli, aku butuh
karir dan mencoba untuk selalu positif. Sepositif saat aku mati-matin merubah
diriku yang gemuk menjadi langsing seperti sekarang ini.
Barulah kemudian aku mengetahui sebuah
kejadian yang tidak kan pernah aku lupakan seumur hidupku. Aku mencoba
menerimanya. Dan tetap saja menghantuiku dengan segala keganjilannya. Suatu
ketika, saat aku sedang akan menyerahkan sebuah bentuk laporan
pertanggungjawaban bulanan ke ruangan Bima, aku menyaksikan sebuah kejadian
yang aku sulit untuk menjelaskannya. Biasanya, di jam-jam itu, Bima sedang
keluar. Namun kali ini ia ada disana. Dan aku menyaksikannya dengan mata
kepalaku sendiri. Begitu aku membuka pintu kaca, Bima yang berbadan maskulin,
sedang memeluk dan mencumbu seorang rekan kerjanya di atas meja. Orang itu
sedang membuka kancing bagian atas kemeja Bima. Orang itu masih mengenakan
setelan jas lengkap yang kusut karena cengkeraman tangan Bima. Adegan itu
berhenti ketika mereka mengetahui keberadaanku. Seluruh dokumen yang sedang
kugenggam terjatuh begitu saja berserakan dilantai. Tanganku lemas.
“Ben, we finish it later, Ok?.” Ucap Bima.
Bima bergegas mengejarku yang lari keluar
meninggalkan ruangan sambil membereskan kemejanya yang masih berantakan. Lelaki
berparas Eropa yang sedang bersama Bima terlihat sedikit kecewa. Entah kenapa,
setelah aku berhasil terselamatkan oleh pintu lift yang cepat menutup, air mata
jatuh membasahi kedua pipiku. Aku masih terbayang oleh ingatan dulu saat aku
mengidolai seorang lelaki yang menurutku sempurna. Dan aku selalu bahagia bisa
berada didekatnya tanpa harus berharap lebih. Hari ini, aku tidak bisa mengerti
perasaanku sendiri. Seperti ada hancur. Pecah. Dan menyakitkan. Tapi entah di
sudut ruangan tubuh bagian mana. Tidak ada darah disana. Degup jantungku terasa
sesak. Ketika lift sudah sampai di lantai dasar. Aku bergegas meninggalkan
gedung perkanotran itu menggunakan taksi. Air mata semakin deras mengalir.
Sialnya, dompet dan tas yang kubawa, tertinggal di suatu ruangan pribadi di
kantor Bima. Telepon seluler dan dompet yang berada di dalam tas membuatku
bingung aku harus kemana.
Di tengah perjalanan, aku mengingat seorang
teman yang juga kukenal sejak lama. Jadi aku kepikiran untuk menuju tempat
usahanya. Kedai kopi di tengah kota. Warung yang berkonsep minimalis modern itu
menyambutku dengan lukisan mural sebuah cangkir kopi berisi latte bergambar lekukan wajah yang
sedang senyum. Aku meminta pak supir unutuk menunggu sebentar di luar. Masih
sambil menangis, aku memasuki kedai yang sedang rami pengunjung itu. Beruntung,
aku bisa menemukan Satrio dengan mudah. Aku menghampirinya. Memeluknya. Dan
meski sedang dalam situasi melankoli, aku melakukan hal konyol padanya dengan
meminta uang untuk membayar taksi yang masih menunggu di luar.
Satrio memanggil seorang karyawannya dan dia
meminta membayarkan argoku. Satrio mengajakku ke ruang atas tempat ia biasa
melakukan rekap data penjualan usahanya.
Sore menjelang. Lalu lalang mobil padat
merayap mengular. Aku bercerita semua tentang kejadian yang baru saja kualami
kepada Satrio. Sore itu obrolan kami berdua ditemani masing-masing secangkir
cokelat hangat yang dibuat Satrio sendiri dan gemericik gerimis. Satrio
menawariku duduk di bangku kerjanya, tapi aku memilih duduk lesehan di lantai
di pojokan sambil mengamati pemandangan jalanan. Disaat yang sama, aku juga
bisa dengan jelas mengingat semua momen semasa sekolah menengahku yang banyak
kuhabiskan dengan Satrio. Dan aku ingat betul, aku pernah menganggap Satrio
sebagai Bima agar aku bisa dengan mulus memompa semangatku berolahraga. Aku
mencuri foto Bima di sebuah majalah dinding, lalu memperbesarnya dengan
memfotokopinya di toko seorang pengusaha Tionghoa. Setelah difotokopi, aku
memberi kedua sisi kertas itu dengan garet gelang, lalu aku meminta satrio
untuk menggunakan topeng buatanku itu. Entahlah, ada angin apa, ia mau saja.
Aku senyum sendiri mengingat kejadian demi kejadian itu.
Satrio memandangiku. Aku mencoba tersenyum
kepadanya, meskipun masih ada sedikit tetesan air mata menggenang.
Aku tidak sedang mencoba mengingat
kejadian-kejadian di masa lalu. Tapi entah mengapa, satu persatu tiap kepingan
itu muncul begitu saja tanpa susah payah aku mengingatnya. Yang paling jelas
melintas di benakku adalah, saat Satrio bilang, di dalam kata cantik ngga ada
yang namanya gemuk atau kurus, cantik ya cantik katanya sambil mengeja satu
persatu abjad kata itu. Dan hal itu ia lakukan masih dalam keadaan mengenakan
topeng kertas bergambar wajah Bima. Lucu juga ya, pikirku. Aku mebuat diriku
sendiri untuk menjadi orang lain, padahal secara tidak sadar aku telah egois
memaksa orang lain menjadi orang lagi demi obsesiku.
Satrio lebih banyak mendengarkanku daripada
mengomeliku seperti biasanya. Ia duduk disampingku. Dan entah mengapa, sekali
lagi aku memeluknya sambil tersedu. Dengan erat. Hangat. Dan nyaman sekali. Ia
membalas pelukanku.
Dan aku menyadari aku telah melakukan
kesalahan besar di masa lalu. Bahkan berani-beraninya aku mengubah ingatan pada
sosok Satrio kecil dan menggantinya Bima. Meski aku dan Bima bisa sempat dekat,
aku telah mengorbankan orang yang kemudian ternyata adalah orang yang paling
mengerti aku dan ia sama sekali tidak pernah memaksa aku untuk mengertinya
kembali.
*
Cuaca hari ini cukup cerah. Meski beberapa kumpulan
awan mendung bergelayut menggantung malas diatas langit, mereka tidak
menunjukan sikap akan merubah hari ini menjadi buruk. Udara sejuk khas
pegunungan menjadi pendingin alami sebuah ruangan terbuka yang dikelilingi oleh
ribuan pohon pinus.
Kebahagiaan terpancar dari wajah Indri. Aku
datang bersama calon suamiku. Disana juga, aku bertemu dengan beberapa kawan
lamaku semasa sekolah menengah. Ditengah perbincangan nostalgia, kata mereka,
dulu banyak siswa yang ingin jadi pacarku. Cuman, karena aku selalu dekat
dengan Bima, aku dituduh berpacaran dengannya. Jadi mereka mundur sebelum berperang.
Lampu-lampu hias minimalis di beberapa sudut
yang memang kekurangan cahaya menambah kesederhanaan menjadi terpancar elegan.
Pesta pernikahan yang diidam-idamkan. Beberapa orang terlihat sedang menikmati
hidangan. Beberapa lainnya berdansa mengikuti alunan musik piano. Beberapa
sedang berbincang-bincang seolah sudah saking lamanya tidak berjumpa. Bridesmaid kecil yang didandani
menyerupai peri kecil juga tidak ketinggalan menambah nilai artistik yang sangat
elok dipandang.
Disebuah gapura pintu masuk yang terbuat dari
anyaman pepohonan dan tanaman rambat dengan bunga-bunga kecil, aku melihat
sosok yang kukenal. Sosok lelaki yang dulu tanpa malu-malu sering berbagi cerita
tentang masalah pribadinya. Ya, diaah Bima. Apapun cara pandangnya terhadap
kehidupan, aku akan tetap berada di sisinya. Aku tahu dia berbeda. Bukankah tuhan selalu menciptakan perbedaan?
Aku mengenal dia sudah lama, tapi aku tetap tidak pantas untuk menghakimi
segala hal yang berasal atas kehendaknya. And
again, it’s not my business at all. Setiap manusia punya pilihan untuk
hidupnya masing-masing. Indri juga akhirnya bisa menerima kondisi Bima dan
mengundangnya ke acara pernikahannya.
*
Cuaca hari ini cukup cerah. Meski beberapa
kumpulan awan mendung bergelayut menggantung malas diatas langit, mereka tidak
menunjukan sikap akan merubah hari ini menjadi buruk. Udara sejuk khas
pegunungan menjadi pendingin alami sebuah ruangan terbuka yang dikelilingi oleh
ribuan pohon pinus.
Saat sesi foto bersama tiba, sang fotografer
memberi kami arahan untuk berpose gaya kasual. Tiba-tiba, Bima meraih tubuhku.
Jadinya, aku digendong Bima sambil membawa satu ikat rangkaian bunga dan
ekspresi gembira, Satrio dari sebelah kananku menatap ke arah kami berdua
dengan wajah sedikit kecewa dan agak cemburu, Citra dan kekasihnya tertawa
lepas seolah puas. Dan Bima, dia memberiku tatapan tajam ke arah wajahku yang
sedang hampir menutup mata sambil tertawa hingga deretan gigiku terlihat
terbuka lebar.
Aku bersanding di sebuah pelaminan sederhana
bersama seorang yang benar-benar aku sayangi. Satrio. Atau yang benar-benar
menyayangiku. Orang yang tanpa sadar telah aku paksa untuk menjadi orang lain
yang aku suka. Dan ia menerimanya tanpa banyak mengeluh atau berkomentar. Dan
sebenarnya ia tidak sedang menjadi siapa-siapa, selain dirinya sendiri. Love will set you free atau too much love will kill you.
*
Komentar
Posting Komentar