Di suatu sore, seorang teman bercerita padaku tentang kapas. Dia ingin sekali menjadi ringan seperti benda itu. Aku bisa mengerti kenapa. Masalah perceraian keluarga dengan adik-adiknya yang masih kecil (sebenarnya tak pantas aku ceritakan, berhubung tak kusebut namanya, jadi kuharap tak apa dan diapun aku yakin bisa mengerti), masalah asmaranya tak kalah belepotan, pacarnya kepergok sedang makan dengan lelaki lain yang awalnya diakuinya teman kerjanya namun lambat laun memang ada main, masalah keuangan (inimah dompetku juga si haha) dan terakhir yang kutahu dia juga sedang mentok dalam menulis thesisnya. Sungguh berat memang. Pantas saja kapas menjadi rujukan hidupnya. Tapi hanyalah benda yang bergantung pada musim dan sesuatu yang lain. Kapas mungkin dapat terbang tertiup angin kemanapun, jauh dekat, melayang atau tergeletak. Sayangnya menjadi bila terkena air atau dilahap api, bila tak lepek ya bisa jadi abu seutuhnya. Kapas tak berpikir. Kapas tak bisa bergerak sendiri sekalipun ia...
Sedikit Jelas, Banyak Ngaconya