“Lalu Raeng, masih berapa banyak lagi tempat yang akan kamu datangi? Sebarapa banyak juga hati gadis desa seperti diriku yang akan kamu tinggalkan kemudian?” “Ini bukan tentang itu, Kumala.” Nada resah menyambar keluar dari bibir seorang pemuda paruh baya yang sedang duduk disamping si gadis desa. “Lalu tentang apa lagi Raeng?” sergah si gadis yang mengenakan kain sebagai pakaian penutup tubuhnya mulai dari kedua buah dadanya hingga separuh betis mungilnya. “Ini tentang..” “Kamu sudah pergi dariku berbulan-bulan lamanya tanpa berkabar, Raeng.” Kalimatnya menyergap suara si pemuda. Kali ini raut kecewa membuncah dari wajah gadis berkulit kuning langsat yang sedari tadi menahan marahnya. “Sudah berapa puluh anak gadis di luar sana kau setubuhi lagi?” “Biar sahaya memperjelas keadaan kepadamu dahulu, Kumala.” Suara si pemuda mencoba meyakinkan. “Kamu sudah pergi meninggalkanku berbulan-bulan-bertahun-tahun tanpa berkabar. Sekalipun. Sekalipun, Raeng!” serak suara gadis itu...
Sedikit Jelas, Banyak Ngaconya