Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020

Romansa Pembawa Pesan

“Lalu Raeng, masih berapa banyak lagi tempat yang akan kamu datangi? Sebarapa banyak juga hati gadis desa seperti diriku yang akan kamu tinggalkan kemudian?” “Ini bukan tentang itu, Kumala.” Nada resah menyambar keluar dari bibir seorang pemuda paruh baya yang sedang duduk disamping si gadis desa. “Lalu tentang apa lagi Raeng?” sergah si gadis yang mengenakan kain sebagai pakaian penutup tubuhnya mulai dari kedua buah dadanya hingga separuh betis mungilnya. “Ini tentang..” “Kamu sudah pergi dariku berbulan-bulan lamanya tanpa berkabar, Raeng.” Kalimatnya menyergap suara si pemuda. Kali ini raut kecewa membuncah dari wajah gadis berkulit kuning langsat yang sedari tadi menahan marahnya. “Sudah berapa puluh anak gadis di luar sana kau setubuhi lagi?” “Biar sahaya memperjelas keadaan kepadamu dahulu, Kumala.” Suara si pemuda mencoba meyakinkan. “Kamu sudah pergi meninggalkanku berbulan-bulan-bertahun-tahun tanpa berkabar. Sekalipun. Sekalipun, Raeng!” serak suara gadis itu...

Tak Tahu Siapa

Aku tak pernah tahu, dan sebenarnya tak ingin mengetahuinya. Entahlah apa yang terjadi sore itu aku tidak begitu ingat. Hujan baru saja reda. Masih ada sisa-sisa cahaya matahari senja yang tercecer tepat di genangan air di sepanjang jalan. Aku mulai bergegas melanjutkan perjalananku pulang meng ayuh sepeda tua buatan londo warisan kakek, melewati bayangan gedung-gedung tinggi terlaknat yang menjulang. Kadang, aku harus bersusah payah menuntun sepedaku me lewati jembatan gantung yang sudah berkarat dan usang. Kalau tidak, aku harus menunggu hingga berjam-jam hanya untuk bisa menyebrang. Ya, beginilah hidup di kota metropolitan yang katanya banyak uang, tapi ternyata malah bikin bimbang. Ditambah lagi dengannya. Dengan kehadirannya. Aku tidak mengenal siapa dia. Aku tidak pernah tahu apa-apa tentangnya. Tiba-tiba saja dia datang. Bagai guntur tertinggal badai yang sudah jauh melewati tengah samudra. Menggelegar jagat ketika mendung tak lagi terlihat. Rasanya aku seperti maling yang ...

Aku Tahu Aku Lelah

Aku tahu aku lelah. Badanku lelah. Jiwaku lelah. Kurebahkan jasad hidup mungil sial ini ke sebuah kasur tanpa dipan. Kuraih remot pesawat telivisi, kutekan sebuah tombol berisi nomor secara acak. Kotak tabung berukuran duapuluh satu inci yang disokong lemari kecil menyala. Suara pembawa acara membawakan kabar berita dari suatu kota, tentang pemerkosaan dan perampokan sebuah rumah. Sebenarnya aku tidak begitu memperhatikan narasi dan isi yang dibawakan oleh tim redaksi. Aku terlampau lelah bahkan hanya untuk memperhatikan sekelilingku sendiri. Kunyalakan pesawat telivisi sebetulnya berharap agar apa yang kurasakan saat ini tidak benar-benar hampa. Kuanggap suara dari kotak tabung itu sebagai teman dari keheningan dan kesepian yang ada. Tapi justru malah makin terasa sepi dan asing aku dibuatnya. Kepalaku berpikir tentang apa saja, tak terkendali. Bahkan aku sendiri tak tahu sedang memikirkan apa. Kulihat langit-langit ruangan, beberapa bercak rembesan hujan sialan membentuk sebuah bek...