Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Ciremai dalam Sehari

Terik siang begitu terasa menyengat ubun-ubun kepala. Ratusan orang berkumpul mengepung gedung balaikota sambil lantang berteriak menuntut hak dan keadilan. Panas matahari terus membakar semangat mereka. Tiada henti. Petugas berseragam coklat sibuk menenangkan orang-orang itu menggunakan semprotan air yang diarahkan ke atas menggunakan selang sehingga ketika jatuh menyerupai hujan, yang bersumber dari tangki mobil pemadam kebakaran. Beberapa orang saling sikut dengan petugas. Mereka berebut masuk ke ruangan balaikota untuk mendapat kesempatan menyampaikan keluh kesah yang mereka jalani sebagai tukang ojek dan penyedia jasa angkutan umum terkait kebijakan pemerintah setempat. Petugas tetap menghalang usaha mereka. Gerbang dibiarkan tertutup rapat, dibarikade dengan kawat tajam. Sia-sia saja bagi orang-orang yang bermodalkan kain terus diberi tulisan menggukan cat semprot ini. Semakin mencoba merangsak masuk, semakin keras dihalang petugas. Suasana makin tak terkendali. Kericuhan pun p...

belum ada judul

“Woy Jak, jadi ngumpul nggak nih? Kampret pada lama banget, ngaret si ngaret, ini udah berapa jam woy telatnya.” Maki seorang pemuda berambut gondrong nanggung dan dibiarkan semrawut ala kadarnya mirip John Lennon sambil memegang telepon seluler berukuran lima inci di tangan kirinya. Sontak, beberapa orang yang sedang duduk mengobrol sambil menikmati hidangan diatas meja di sekitarnya melolototinya. Sang pemuda yang hanya mengenakan kaos oblong berwarna abu-abu polos itu cuma membalas dengan tatapan sinis pelit. “Santae broh, ini lagi di jalan. Sama yang lain juga. Mobilnya si Eko mogok.” Balas Jaki sambil menenteng tas jinjing berisi laptop berjalan pelan keluar meninggalkan sebuah ruangan. Dasarnya si Jaki ini emang suka bohong. Beberapa temannya suka kesal sendiri kadang. “Jangan ngibul lagi Jak, udah sering pisan  ira  bilang kaya gitu itu. Coba mana suara yang lain kalau emang lagi barengan?” nada kesal terdengar semakin menjadi-jadi. Secangkir kopi piccolo...

Brian

Sore hari. Di sebuah kedai kopi. Dari balik jendela kaca yang basah sehabis diguyur hujan, rintik airnya masih terlihat menyerupai embun yang sedang merosot. Di sebuah meja, seorang pemuda sedang sibuk mengerjakan naskah penulisan di laptop. Wajahnya tegap memandang layar monitor, seperti sedang bersikeras memikirkan cara mendapatkan sesuatu. Secangkir kopi tersisa tinggal separuh. Beberapa piring kecil untuk kudapan sudah tandas. Beberapa ceceran kertas penuh coretan berserakan tak beraturan. Di meja sebelah, terlihat sepasang sejoli sedang asik bermesra-mesraan ala anak baru gede yang sok kedewasaan menganggu konsentrasi si pemuda. “Perkenalkan, saya Brian. Umur, tahun ini usia saya hampir 25 tahun. Status pekerjaan... pengangguran... dan status perkawinan... jomblo. Semua saling melengkapi, bukan?” “Di usia mendekati seperempat abad ini, banyak sekali fenomena-fenomena kejam yang membuat sudut pandang hidup saya agak semakin kusut.” Misalnya, talenta muda Marquez, pemuda keci...