Langsung ke konten utama

Brian


Sore hari. Di sebuah kedai kopi. Dari balik jendela kaca yang basah sehabis diguyur hujan, rintik airnya masih terlihat menyerupai embun yang sedang merosot. Di sebuah meja, seorang pemuda sedang sibuk mengerjakan naskah penulisan di laptop. Wajahnya tegap memandang layar monitor, seperti sedang bersikeras memikirkan cara mendapatkan sesuatu. Secangkir kopi tersisa tinggal separuh. Beberapa piring kecil untuk kudapan sudah tandas. Beberapa ceceran kertas penuh coretan berserakan tak beraturan. Di meja sebelah, terlihat sepasang sejoli sedang asik bermesra-mesraan ala anak baru gede yang sok kedewasaan menganggu konsentrasi si pemuda.
“Perkenalkan, saya Brian. Umur, tahun ini usia saya hampir 25 tahun. Status pekerjaan... pengangguran... dan status perkawinan... jomblo. Semua saling melengkapi, bukan?”
“Di usia mendekati seperempat abad ini, banyak sekali fenomena-fenomena kejam yang membuat sudut pandang hidup saya agak semakin kusut.” Misalnya, talenta muda Marquez, pemuda kecil spaniard ini sudah bisa empat kali meraih tropi juara dunia kelas utama MotoGP mengalahkan rival-rivalnya yang sudah lebih senior, seperti Dani Pedrosa yang sudah lebih dulu menekuni dunia balap kuda besi dari beberapa tahun sebelumnya. Kylian Mbappé Lottin, talenta pemuda lainnya yang berpassport asal Perancis, di usianya yang baru akan menginjak umur 20, sudah melakukan mega transfer bernilai jutaan dollar hanya karena tipu daya olah kakinya. Nama biduan koplo, biar masih sama-sama jomblo, Via Vallen lagi laku banget dan sering-seringnya nongol di tivi nasional, otomatis pundi-pundi di rekeningnya terus saja meningkat. Ditambah, Raditya Dika juga jadi nikah dan menanggalkan status raja jombonya. Piala dunia yang di gelar empat tahunan bahkan tanpa dinanti sudah di depan mata, sedihnya lagi Italia nggak lolos. Kompetisi Stand Up Comedy di Kompas TV sudah hampir sebulan ini menayangkan edisi kedelapannya. Wasit di Liga Indonesia yang sudah pernah pakai bule, sekarang sampai balik lagi ke orang lokal. Dan belakangan baru saya sadari, bulan Ramadhan sudah tinggal beberapa hari lagi.
Sebuah gawai bergetar di sisi laptop, namun karena keberadaannya tertutupi tumpukan kertas, letaknya agak susah untuk ditemukan. Pemuda dengan rambut ikal dan berbadan tegap ini agak kesal dan memaki dirinya sendiri, setelah itu tidak lama kemudian ia menemukan layar telepon genggamnya menerima panggilan dari nomor tidak dikenal.
“Ya, hallo. Selamat sore, Pak. Baik Pak, segera saya selesaikan.”
Jadi gini...



Lapangan Kerja
   Semenjak lulus kuliah di pertengahan 2015 dan wisuda di akhir tahun, saya sudah beberapa kali menghadiri acara pencarian lowongan pekerjaan. Entah yang berbayar ataupun yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat. Sebenarnya semua acara pencarian kerja harusnya gratis kalau berdasarkan undang-undang sih, hanya saja ada sejumlah oknum EO yang mencari keuntungan dari kegiatan ini.
Semenjak resmi menjadi seorang sarjana, sudah puluhan acara pencarian kerja yang sudah saya kunjungi. Di berbagai daerah, bahkan sampai ada yang keluar kota. Dari yang diselenggarakan di dalam kampus, hingga di hotel-hotel. Beberapa diantaranya ada yang hanya sekedar melihat-lihat saja karena tidak ada kecocokan bidang yang sesuai dengan studi saya, beberapa sisanya saya menaruh surat lamaran bahkan hingga ada yang dengan sempat-sempatnya melakukan wawancara di tempat.
Di saat sesi wawancara inilah kadang perasaan saya sangat senang, karena jika sudah memasuki tahapan ini, peluang untuk diterima cukup besar. Dari pertanyaan remeh temeh hingga pertanyaan yang menjebak semua bisa saya tangani. Yang jelas, ketika memberikan sebuah jawaban, saya hanya harus berkata apa adanya, tidak perlu menambahkan majas-majas atau kutipan ahli, apalagi ayat-ayat dari al kitab.
Sayangnya, semua wawancara tidak berjalan dengan mulus. Di awal-awal mencari kerja, saya lupa persisnya kapan, setelah mengirimkan surat lamaran via pos, beberapa minggu kemudian saya mendapatkan panggilan dari perusahaan. Dan saat itu, untuk yang pertama kali saya bertatap muka dengan seorang HRD perusahaan bonafit, dengan tatapannya yang tajam dan agak sedikit mengintimidasi, saya jadi kehilangan fokus dan sempat melakukan kesalahan kecil yang fatal. Kesalahan yang sudah bisa memberikan hasil akhir jawaban kepada diri saya sendiri lolos atau tidaknya, bahkan sebelum meninggalkan ruangan wawancara.
 Acara pencarian kerja juga tidak hanya diselenggarakan secara fisik. Beberapa kali saya mengikuti yang berbasis dunia maya. Jobfair lho ya bukan Jobstreet atau Linkedin itu. Kalau tidak salah Astra merupakan salah satu yang menyelenggarakannya. Di portal ini, saya hanya diminta untuk mengisi data diri dengan benar dan lengkap. Otentik. Setelah itu, saya dibebaskan untuk berkunjung ke tiap halaman yang telah disediakan. Saya dibebaskan untuk memilih jenis pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan atau berdasarkan pengalaman bagi yang sudah pernah bekerja. Simpel, praktis dan ekonomis. Saya tidak perlu berjalan berdesak-desakkan berputar mengelilingi booth. Semua tersedia dengan ekslusif, bahkan ada kolom pencarian seperti menggunakan search engine pada Google.
Di pencarian kerja lewat portal ini, saya dibatasi untuk mengirimkan maksimal 3 lamaran. Bila merasa cocok dengan perusahaan, dan memang sesuai dengan latar belakang, saya bisa mengirim CV yang sudah diunggah saat pengisian data diri.
Sialnya, dari sekian ratus jobfair yang sudah saya hadiri, saya sampai kurang yakin menyebutkan angka ratusan, dari mulai awal 2016 hingga sekarang, awal 2018, saya masih belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang. Ada yang saat saya menaruh CV dan cover letter, beberapa bulan berikutnya tidak jelas rupa kabarnya. Ada yang setelah memasukan CV dan beberapa minggu kemudian beruntung mendapat pangggilan untuk uji psikotes, kemudian setelah tes berlangsung, tidak lagi jelas kabar lolos atau tidaknya. Ada yang setelah sampai uji psikotes, saya mendapatkan kesempatan untuk wawancara, namun lagi-lagi setelah wawancara, tidak jelas kabar kaburnya.
Beberapa kali di perusahaan yang berkorelasi dengan perusahaan milik negara, saat sesi wawancara, saya bahkan dengan jelas-jelas ditodong oleh sang HRD supaya bisa kasih mereka imbalan. Kalau tidak, paling mending, ditanyain saja titipan siapa. Mau cari duit eh malah dimintain duit. Di saat seperti inilah kadang ada perasaan yang membuat diri ini jadi tidak berguna.
Semua tes yang saya ikuti selalu gagal dan parahnya tanpa kabar. Jadilah saya masih menganggur sampai sekarang.













Pengalaman Kerja
Saya pernah bekerja di sebuah perusahaan kecil saat masih duduk di bangku kuliah. Meskipun entah ini pantas disebut sebagai pengalaman kerja atau bukan. Yang jelas, disana saya menghabiskan tenaga dan pikiran saya secara profesional, dan dibayar dengan pantas. Saya bekerja di sebuah perusahaan yang masih berlisensi hukum CV. Target dari perusahaan saya ialah memberi kepuasan tingkat tinggi bagi vendor maupun pelanggan. Dengan latar belakang para pekerja yang berasal dari berbagai daerah, dan umumnya juga perantau, sama seperti saya, tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi saya untuk belajar etos kerja mereka. Dari perusahaan penyedia jasa periklanan ini saya belajar banyak.
Selain pendidikan formal di bangku kuliah, dunia event adalah sebuah tempat lain dimana saat itu saya diberi kesempatan untuk berkembang dan belajar. Disini saya melatih berkomunikasi dengan bijak supaya klien tidak kabur, komunikasi sesama rekanan supaya menghasilkan kinerja yang maksimal, mleatih keadaan fisik dan fikiran agar tidak mudah mengeluh hingga bermental tebal.
Singkat cerita, semuanya berawal dari obrolan sambil ngopi bersama seorang teman di kantin kampus, saya yang saat itu sedang membutuhkan pemasukan tambahan untuk kebutuhan sehari-hari, diperkenalkan lah saya dengan seorang kepala kedai kopi. Lokasinya berdekatan dengan kampus kedokteran, kedai itu tampak seperti warung biasa dengan padu warna hijau muda-tua khas dan senyum ikonik dari maskot berpeci, kedai itu mudah ditemukan.
Ya. Di sore yang cerah itu, di awal, saya menawarkan diri sebagai seorang pelayan atau hanya sekedar jadi tukang cuci gelas dan piring. Namun, dari bincang-bincang awal tentang negosiasi kesesuaian waktu kuliah dan kerja yang tidak jua menemukan jalan keluar, kemudian sang pemilik kedai mengajak saya ke sebuah perumahan yang letaknya agak jauh dari daerah kampus. Dan ternyata, rumah itu adalah sebuah kantor. Entah bagaimana, kemudian tanpa sadar saya benar-benar bekerja disana.
Setelah diperkenalkan satu persatu dengan personil perusahaan, saya juga mulai diperkenalkan dengan bidang yang digeluti perusahaan. Tanpa banyak basa-basi, saya hanya secara non-verbal diminta untuk membantu tim. Tidak jelas membantu di divisi apa tepatnya. Saya memulai pekerjaan dengan membantu mengambilkan perlengkapan pekakas saat beberapa orang sedang mempersiapkan neon-box berbahan dasar PVC. Saya ikut mengangkut dan membongkar kebutuhan panggung ke dalam mobil Ranger hingga ke venue acara. Bahkan karena kendalan cuaca, saat hujan deras kami terjebak dan sampai tidur di kolong panggung. Beberapa kali saya juga ikut memasang media informasi berupa baliho, spanduk, brosur dan serupa lainnya. Beberapa kali juga saya harus memanjat pepohonan tanpa menggunakan tangga.
Sang kepala kantor ahli dalam menggarap desain komunikasi. Karena kesibukannya, ia kadang telat deadline. Dan di kantor hanya dia yang bisa menggarap bidang ini. Tempo hari, ketika saya baru selesai diminta mencetak semua hasil kerjanya, saya diminta secara pribadi untuk belajar membuat desain dan logo. Entah kenapa, lagi-lagi saya hanya mengiyakan permintaannya tanpa panjang lebar. Mulailah saya meniru logo-logo yang saya unduh melalui jendela Google lewat saluran nirkabel tanpa batas milik kantor. CorelDraw X5 adalah teman saya saat tengah malam hingga pagi hari menjelang saat itu. Saya baru bisa membuat beberapa lekukan dan teknik membuat bayangan yang saya pelajari dari mbah yutub. Saking semangatnya, saya sampai hampir tengah hari lagi di hari berikutnya, masih belum mandi dan ngotak-atik desainsebuah kartu perdana.
Hari itu jam kuliah kosong. Saya putuskan mandi di kantor. Dan melanjutkan proyek ecek-ecek saya, hingga ketahuan sang empunya kantor. Di titik ini lah saya menaruh respek lebih kepadanya. Ia mengajari saya dengan telaten hingga beberapa kemampuan dasar bisa saya kuasai dengan singkat. Sejak hari itu, saya juga kenal dengan yang namanya CorelDraw dan Adobe Photoshop. Dan saya mendapatkan jatah kepuasaan tersendiri ketika spanduk yang saya buat bisa terpampang jelas di beberapa sudut persimpangan jalan.
Di dalam list anggota, di kantor, memang beberapa orang ditugasi sebagai kepala bidang, atau supervisor yang membawahi beberapa anggota. Namun ketika berada di lapangan langsung, yang saya temukan seringnya, semua bekerja tanpa ada sekat jabatan. Setelah briefing dan berbagi tugas, setiap personil tahu apa yang harus mereka kerjakan. Bahkan ketika salah satu personil selesai, personil lainnya ikut membantu. Saya kira ini kebaikan yang sebenarnya tidak patut. Kenapa? Karena, semua sudah ada porsinya.
Suatu hari, saya juga memiliki kesempatan untuk ikut berjualan produk milik vendor secara langsung. Setelah kebutuha set panggung sudah siap, saya tidak langsung istirahat. Saya ditugasi mengawal tim penjualan yang beranggotakan dua orang wanita cantik berseragam atau lebih. Kami menjual produk selama sebelum event berlangsung hingga selesai. Dan di tim ini, penjualan yang kami lakukan memiliki target-target tertentu, misalnya, pengeluaran barang sesuai dengan SOP atau tidak. Kegiatan berjualan ini tidak satu atau duakali saja saya lakukan. Entah karena muka saya yang sedikit agak tebal atau karena memang memiliki hoki tersendiri, target selalu kami capai. Dan dari sinilah pemasukan saya lumayan bertambah. Bonus kecil-kecilan yang sering saya dapatkan bisa menambal kebutuhan kuliah.
Di sela-sela penjualan, saya juga diharuskan mengambil dokumentasi dijital wanita-wanita yang tengah menjajahkan produk vendor tersebut kepada pelanggan potensial menggunakan kamera DSLR. Target lainnya, tentu saja kami harus membuat pelanggan bertahan pada produk miliki vendor. Inilah tugas terberat kami. Selagi berjualan dan mengambil dokumentasi, saya juga harus membuat data tertulis berdasarkan pembeli produk kami secara valid. Hal ini kemudian disampaikan saat laporan akhir.
Saya sering ke kantor dengan berjalan kaki. Jarak dari kantor ke daerah kosan saya kurang lebih 5 kilometer dengan jalanan khas bukit yang menanjak. Kadang saat pulang, rekan satu kantor memberi tumpangan. Kadang sampai tidur di kantor. Hingga suatu ketika saya dipercaya diberi sebuah kendaraan bermotor milik kepala kantor. Meski Krypton buatan tahun 90an, tenaganya masih oke buat bolak-balik ngurs dokumen. Karena tidak ada jam kerja khusus bagi saya, dan kebanyakan event berlangsung selama weekend tentu tidak mengganggu proses belajar saya di kampus, mungkin hanya akan menemukan sedikit kendala saat mengerjakan tugas kelompok dimana diskusi yang mengharuskan kehadiran fisik jadi terhambat. Beruntungnya, beberapakali kawan-kawan memakluminya.
Dari tim penjualan juga, saya yang awalnya kuliah menghindari angka-angka, justru akhirnya ketemu lagi dengan hitung-hitungan. Di kantor, setelah event selesai, dan muatan panggung sudah mendarat aman, saya melakkan laporan penjualan terintegrasi ke sekretaris dan bendahara kantor. Saya mulai akrab kembali dengan aplikasi hitung-hitungan Windows dengan berbagai formulanya. Setelah itu, saya juga mengakomodir dokumentasi dijital agar tersortir dan layak sebagai bahan laporan. Jika semua sudah selesai, barulah saya bisa sedikit santai dengan menunggu hasil klaim harga oleh sekretaris kepada vendor.
Namun sayang, hanya baru beberapa tahun saja, perusahaan penyedia jasa ini mengalami beberapa masalah. Kejadian manajerial dan hukum pemerintah nasional yang membatasi pergerakan industri rokok, membuat perusahaan kami tidak berkutik. Pelan-pelan, jadwal bulanan perusahaan hilang dari list yang seharusnya. Dan memang ada permasalahan penting llain yang tidak saya ketahui, akhirnya membuat perusahaan berbasis periklanan ini kukud, gulung tikar. 
Sebelum saya benar-benar bergabung dengan tim event, saya sempat berjualan laptop bekas dan es coklat rasa-rasa. Saya berhenti berjualan laptop bekas karena dituduh menggelapkan barang dan selisih dengan sesama rekanan. Saya pilih meninggalkan toko itu daripada terus-menerus jadi bahan kambing hitam. Waktu itu, penjualan saya tidaklah mengecewakan. Selama tiga bulan bekerja, saya bisa menjual 14 unit latop bekas. Tiap unit yang terjual, saya mendapatkan untung sekitar 100-400ribu Rupiah. Tentu pencapaian yang wah untuk diri saya sendiri.
Dan untuk es coklat rasa-rasa, saya menjual produk franchise milik teman sekampus. Meski penjualannya agak menurun, saya dipercaya untuk menjaga stand milik teman saya yang berjiwa wira usaha ini. Awalnya, per hari kami bagi hasil. Namun, karena kurang menguntungkan bagi pemilik, kami bernegosiasi ulang. Karena memang kondisinya demikian, saya kemudian menyetujuinya. Waktu itu saya mendapat upah Rp. 20.000/hari. Kecil banget lah dan saya bertahan disana selama kurang lebih tiga bulanan.
























Saat sedang mengetik ide yang terlintas di kepala, si pemuda kedatangan tamu tak diundang. Seorang pemuda sebayanya singgah. Ia berkaos oblong polos warna hijau tai kebo. Tak pelak Brian kaget mengetahui keberadaannya yang mengejutkan.
“Ah sialan, Lu lah. Pake kadi dateng segala, tambah rusak nih mood nulis gue.” Protes Brian kepada lelaki disampingnya yang menggunakan kacamata frame tipis.
“Sih yang sekarang sok sibuk banget jadi penulis skenario. Eh si Silvi noh nanyain lu terus.” Balasan meledek terucap dari teman Brian sembari memberi informasi tentang seorang perempuan.
Brian cuek saja tidak menanggapi kalimat yang baru saja terlontar mengarah pada dirinya. Ia buru-buru menyimpan semua tulisannya di dalam sebuah folder khusus dengan nama tebal “TARGET 2018”. Air muka serius di wajah Brian belum beranjak. Ia terlihat seperti telah berhari-hari tidak tidur. Matanya sembab dan terdapat kantong kembung yang menyerupai mata panda. Wajahnya yang cukup tirus ideal membuat bayang hitam di sekitar kelopak matanya itu kelihatan habis dijotos orang.
“Lu beneran ngga sih udah selesai ama Silvi?” tanya temannya penasaran dan mencoba mengurangi fokus Brian pada layar monitor.
Brian mengambil secangkir kopi di meja dan menandaskan seluruh isi cairan kehitaman yang ada disana. Sembari meneguk kafein, Brian kemudian menekan tombol off pada papan kunci laptopnya.
“Lu sendiri gimana sama Nina, tuh? Sok ngurusin orang lain.” Ucap Brian tiba-tiba meladeni Raka.
Raka adalah teman nongkrong Brian. Sebenarnya karakter pribadi Raka yang agak sombong dan sering pamer kendaraan sangat tidak disukai Brian. Bukan Brian tidak mampu membelinya, cuma apa yang telah dipamerkan oleh temannya yang sedikit sipit itu bukan hasil jerih payahnya sendiri.
Hanya saja, Brian kalah sungkan, biar begitu Raka pernah membantu menyelamatkan orang tuanya saat mereka kecelakaan. Hal ini yang membuat keduanya kemudian menjalin persahabatan dan bahkan sudah seperti keluarga. Meskipun pada nyatanya, keduanya selalu berdebat tentang banyak hal. Mereka berdua juga memiliki kepribadian persona yang sangat bertolak belakang. Jikalau Brian lebih tenang, kalem dan santai maka Raka kebalikannya, agresif, bergerak cepat dan kadang sembrono.
Setelah cukup lama tidak berjumpa, sore ini mereka berdua membuat janji di sebuah kafe langganan yang bisa jadi tempat tongkrongan. Raka yang kuliah di negara tetangga jarang sekali pulang. Sedang Brian, akhir-akhir ia mencoba menjadi seorang penulis skenario sinetron kejar tayang. Meskipun belum satu naskah pun yang naik layar, Brian masih saja terus mencobanya. Usia Brian lebih tua dari Raka. Itulah mengapa hanya Brian yang selalu Raka dengar nasehat dan masukannya ketika ia sedang dalam masalah, lebih dari siapapun bahkan orang tuanya.
Petang singgah di halaman sebuah warung kopi ala kafe 90an. Redup gelap suasana terasa hingga di dalam ruangan dengan cahaya-cahaya minim yang sengaja dibiarkan gentayangan. Beruntung, suara kuda-kuda besi yang sedang macet mengekor di jalanan tak sampai ikut masuk. Pendar merkuri lampu jalan dan sorot lampu lalu lalang samar-samar. Meski terletak persis di pinggir jalan utama, warung ini memiliki lahan parkir yang agak luas sehingga membuat jarak senggang cukup jauh.
Raka baru saja menyelesaikan tugas akhirnya. Itulah alasannya ia bisa pulang ke tanah air. Namun, untuk perayaan wisuda, masih menunggu hingga akhir bulan depan. Dan orang terdekat yang pertama ditemui selain keluarganya sendiri, ya Brian. Brian tidak tahu kalau proses studi akademis Raka sudah rampung. Brian hanya tahu, kalau Raka sedang dalam masalah serius terkait hubungan asmaranya.
Raka sudah bertunangan dengan teman dekat Brian. Namun belakangan, hubungan itu tidak terlihat harmonis lagi. Brian sebagai orang yang pernah memperkenalkan keduanya mencoba menjadi pihak penengah. Sayangnya, hubungan jarak jauh yang mereka lakukan tidak banyak membantu menemukan solusi. Brian justru malah kewalahan menghadapi alasan-alasan yang kekanakan dari keduanya. Raka menuduh Nina selingkuh, eh Nina juga malah begitu. Kepercayaan di antara keduanya sudah kendur. Sehingga, cukup sulit memang kalau tidak dibicarakan secara langsung bertatap muka. Brian berkali-kali mengajak kedua berkumpul dan membicarakan apa akar masalahnya. Sekali lagi, cara ini tidak bisa menolong keduanya. Ketika yang satu bisa datang, yang satunya lagi tidak ada kabar. Begitu terus sampai mereka berdua sama-sama menyatakan keputusan demikian.
Nina gadis baik. Begitulah Brian mengenalnya semenjak duduk di bangku kuliah. Meski Nina adik angkatannya, ia gadis yang mandiri, begitu pikir Brian. Sedangkan Raka yang masih agak bocah dalam arti sesungguhnya, pikir Brian kehadiran Nina akan sedikit membantu merubah pola pikir sobatnya itu.






Pendidikan
Saya kuliah di jurusan Sastra Inggris, mendapatkan beasiswa fullbright dari pemerintah pusat melalui kementrian pendidikan tinggi. Sebenarnya ini bukanlah pengalaman yang wah, buktinya barang orang yang juga bisa meraihnya. Yang sedikit membanggakan adalah ternyata dengan kemampuan dan IQ pas-pasan saya bisa menyelesaikannya dengan tenggat waktu yang telah ditentukan. Such a thing.
Ya, saya selalu mencoba untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah saya mulai. Meskipun memakan waktu yang sedikit lebih lama, bila hasilnya kahirnya nanti terlihat, saya seperti memiliki kepuasan tersendiri. Layaknya orang pergi memancing, mereka bisa membeli joran dan kail di toko, tapi tidak dengan sensasi saay ikan menyambar umpan. Kurang lebih begitu

Komentar