Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Ibuku

Ibuku penganut agama yang taat. Ia tidak pernah terlambat untuk melakukan ibadah. Jika dalam sehari waktu beribadah jumlahnya 17 kali, ibu tidak akan melewatkan salah satunya. Di dalam kepercayaan ibu, ia tidak diperkenankan memelihara hewan selain babi. Begitulah hukum yang telah diterapkan oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Alasannya sederhana, babi lebih laku dan mahal daripada hewan lain. Oleh karena itu seluruh warga di kampung beternak babi. Kandang-kandang babi dapat dengan mudah dijumpai di setiap halaman rumah warga. Dan di kampung, anjing adalah hewan yang menjadi pantangan bagi siapapun.  "Anjing itu kotor"  "Anjing itu selalu berliur dan itu tidak baik untuk dijadikan peliharaan." "Anjing itu najis." "Bla.. blaaa bla..." Suara masyarakat seolah mereka adalah nabi yang dapat menentukan nasib manusia lainnya. Ibuku tinggal di kampung. Ia menetap disini setelah kakek ditugaskan menjadi misonaris di dusun panta...

Email dari Rere

Dear Dito, Hey, kamu. Sedang ngapain disana? Sudah lama sekali kita tak berjumpa. Ya. Kurang lebih sudah hampir tiga tahun ya? Kamu ingat kan pertama kali kita kenal gimana? Lucu memang. Mirip sinetron dan skenario FTV saja. ha ha ha... Memang harus kuakui kamu lelaki paling keren saat itu. Paling tidak dengan bukti kaos Morrisey dan rambut poni ala si Lennon baru bangun pagi.   Haha...   Ya maklum aku bilang begini soalnya anak-anak masakini lebih kaya domba yang digiring majikannya. Gaya sok keren sok kul, tapi ngikut-ngikut biar dibilang gaul. Padahal ga nyadar dengkulnya tumpul. Gimana mau bisa berdiri sendiri kalau udah gitu? Gimana punya pegangan ideologi kalau cuma segitu? Kasihan ibu pertiwi, kalau bangsa ini membesarkan otak-otak generasi yang cuma sekedar ikut tren tak berisi. Huh jadi sok kritis nih.. Tapi bener deh gitu emang faktanya.. Eumm.. Pagi ini rencananya aku mau main ke Bandung. Lumayan dapet liburan. Bisa jalan-jalan dari penatnya gedung-ge...

belum ada judul

“Jangan pernah berpikir kalau di warung kopi ini seperti kafe atau kedai lainnya di dalam film roman yang menyajikan drama melankoli. Hal-hal seperti itu kurang laku disini.” Ucapnya agak ketus sambil entah sedang sibuk membuat apa di sebelah kabinet kecil. “Tidak. Kamu yang berpikir begitu.” Balasku. “Baguslah. Sekarang minumlah ini. Paling tidak tubuhmu akan merasa lebih baik dan tidak kedinginan.” Masih saja ketus. “Alkohol?” Aku penasaran. “Totally not. Coba saja.” Kali ini dia meyakinkanku dengan penuh kesungguhan. Aku coba mendekatkan bibirku ke dalam cangkir kecil bermotif bunga yang sudah kuraih saat ia mengulurkan tangannya. Aku memandang wajahnya dengan penuh fokus disaat yang bersamaan. Nanar cahaya lampu nampak sedikit lebih terang. Suara gemericik hujan menjadi lebih halus seperti sebuah melodi simfoni. “Hmmm. Entah bagaimana harus mengatakannya. Aku tidak begitu mengerti tentang kopi. Tapi yang ini, rasanya sungguh. Kali ini aku tidak da...

belum ada judul

Hidup baru terus melaju tanpa kamu ketahui. Memang benar ia kadang di atas dan kadang juga di bawah. Seperti dua roda sepeda kecil ini. Selagi kamu tidak berhenti mengayuhnya, ia akan berputar baik-baik saja. Kamu harus meletakan titik fokusmu pada beberapa bagian tubuh berbeda namun memiliki kesamaan visi supaya seimbang. Hidup adalah kamu tahu darimana kamu bisa menemukan sebuah arah yang akan kamu tuju sebagai pijakan dan bisa sepenuhnya mengendalikan dirimu ke arah itu. Aku tahu kapan seharusnya aku mengayuh rangkaian sepeda ini dan tahu kapan seharusnya berhenti. Ayahku yang mengajarinya. Bila hendak berhenti mengayuh, pastikan kedua kakimu siap menyeimbangkan beban sebelah kiri dan kanan tubuhmu, agar tak terjatuh. Sama seperti saat aku mengayuhnya, pastikan juga, isi kepala, mata, tangan dan kaki dalam satu sinergi. “Brrruukkk”. Suara keras seperti dua benda saling bertubrukan. Terdengar juga suara roda yang masih berputar. “Aduuuuuhh”. Suara khas seorang perempuan ...