Udara begitu pengap. Langit tak memberi sedikit pun ruang untuk cerah awan. Yang menggantung di atas sana hanya kelabu mendung, namun hujan tak kunjung turun. Angin sepertinya sedang enggan berhembus membagikan sejuknya. Dedaudan tua pohon mangga menggantung malas di ranting-ranting kurus kering, beberapa sudah terlebih dulu jatuh dan terlantar di halaman sebuah rumah. “Si Ruminih itu menyusahkan saja. Mbok ya kalau mau kirim paket itu bilang dulu ke suaminya.” Seraya kesal sebuah ucapan dri seorang ibu yang berbadan lumayan gempal. “Lha kan sudah titip pesan kemarin itu, Bu. Sudah disampaikan ke suami ibu juga. Pa Dirah saja mungkin kelupaan memberi tahu.” Timpal seorang pemuda. Pak Dirah adalah ketua rukun tetangga di kampung tersebut. Berhubung suami Ruminih yang tidak memiliki telepon genggam dan sering pergi bekerja, ia akhirnya menitip pesan kalau siang itu akan ada sebuah paket untuknya kepada orang yang bisa ia percaya. Siang itu Pak Dirah juga sedang ada acara pertemua...
Sedikit Jelas, Banyak Ngaconya